Pura ini juga memiliki sejumlah keunikan dan kisah menarik untuk diketahui oleh umat Hindu Bali yang nangkil.
Hal inipun semakin meyakini kekuatan dari Dang Hyang Nirartha yang sengaja datang dari Pulau Jawa sebagai penata kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Kelian Pengempon Pura Dang Kahyangan Prapat Agung, Ida Bagus Susrama menjelaskan keunikan pertama adanya temuan telaga tiga warna yang arinya tidak pernah surut walaupun pada musim kemarau.
Telaga tiga warna bahkan beberapa kali disebutkan dalam lontar yang berkaitan dengan rekam jejak perjalanan Dang Hyang Nirartha ke Bali.
Keunikan kedua adalah keberadaan batu pipih atau lembeng yang dipercaya peninggalan Dang Hyang Nirartha pada saat beliau bersemedi. Batu ini posisinya berada di kawasan Payogan.
Kemudian ada keunikan secara niskala, munculnya pusaka keris di areal payogan Dang Hyang Nirartha.
Pusaka keris yang disakralkan ini muncul pada wuku Redite Wage Wuku Wayang, Tilem Jyesta, 20 Mei 2012, sekira pukul 08.30 Wita.
Baca Juga: Berada di Dalam Hutan Bali Barat, Pura Dang Kahyangan Prapat Agung jadi Pintu Niskala Penjaga Bali
Pusaka keris ini memiliki ukuran sekitar satu jengkal tangan orang dewasa, ditemukan oleh I Dewa Kade Suama, yang merupakan juru sapuh atau Pemangku di Pura Dang Kahyangan Prapat Agung.
Munculnya pusaka keris di payogan prapat agung begitu fenomenal. Sebab, sebelum ditemukan pusaka keris ini, muncul sejumlah keajaiban di sejumlah areal pura.
“Munculnya dari bawah, dan temukannya posisi pusaka itu berdiri,” imbuhnya.
Tanda-tanda alam yang muncul mulai dari adanya getaran tanah di areal pura, keluarnya air di Sumur Pasucian.
Kemudian pemangku melihat sinar berkelebat di atas pura, hingga munculnya bau harum semerbak oleh pemangku dan pemedek yang nangkil sehari sebelum ditemukannya pusaka keris.
“Alam sudah memberikan tanda-tanda mistis sebelum kemunculan keris pusaka ini,” paparnya.
Keunikan lainnya adalah adanya bala ancangan macan hitam, wanara putih atau monyet putih, yang muncul pada hari hari tertentu yang diyakini sebagai penjaga pura secara niskala dari gangguan lainnya.
Baca Juga: Nangkil ke Pura Silayukti, Cobalah Semedi di Pelinggih Payogan, Permohonan Sering Dikabulkan
Di sisi lain, ia menyebut Pura Dang Kahyangan Prapat Agung ini merupakan satu satunya Dang Kahyangan yang menyatikan konsep Siwa Budha secara fisikal.
Artinya adalah Dang Hyang Nirartha dan Dang Hyang Astapaka yang bersatu di Pura Dang Kahyangan Prapat Agung.
Disinggung terkait pujawali, IB Susrama menyebutkan jika di Pura Dang Kahyangan Prapat Agung dilaksanakan pujawali setahun sekali, tepatnya pada Purnamaning Sasih Kelima dan nyejer selama tiga hari.
“Hari pujawali itu kami dapatkan setelah kami berkonsultasi dengan ida Penglingsir. Karena Pura ini berada di dalam hutan dan jauh dari penduduk,” sebutnya.
Pemedek yang nangkil di Pura Dang Kahyangan Prapat Agung juga berasal dari berbagai wilayah di Bali bahkan dari Jawa.
“Yang nangkil juga pada hari-hari tertentu, seperti purnama, tilem, kajeng kliwon, dan rahinan jagat lainnya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika