Konon, airnya sampai sekarang masih ada dan anehnya airnya itu masih bening, tidak lumutan di dalam botol.
Tokoh Adat Blahkiuh, I Gusti Agung Ketut Sudaratmaja menyebutkan Air tersebut bisa digunakan untuk pengobatan.
“Kalau mau ditunas, botolnya dicelupkan di air tidak dituangkan. Nah air itulah yang digunakan sebagai tamba,” katanya.
Baca Juga: Sakralnya Bale Pawedan di Pura Luhur Giri Kusuma Blahkiuh, Pedanda tak Berani Memada-Mada
Selain itu, ada kisah seseorang bernama I Susun saat beristirahat melihat ada lontar di atap. Kemudian sebagai warga dia melapor ke Puri Mengwi bahwa ia menemukan lontar.
Lontar ini kemudian dibawa ke suatu tempat dekat pasar. Benar saja, ada pura yang nama mangkunya bernama I Susun. Kebetulan tetua mangku ini Bernama I susun.
“Lontar ini gaib, karena sastranya bisa dilihat dan tidak. Yang bisa melihat hanya Ida Brahmana keturunan Mas. Kondisi lontar juga dalam kondisi lapuk. Lontar ini tuntunan pemarisudha atau pebersihan jagat,” paparnya.
Di sisi lain, ada sejumlah pantangan bagi seseorang yang melintas di depan pura. Utamanya bagi warga dilarang melintas di depan pura membawa jenazah.
Begitu juga pengantin dilarang melintas di depan pura. Sehingga disarankan untuk melintas mencari alternatif jalan lain.
Sebagai pura tua yang sudah ada sejak abad 16-17, ada sebuah bhisama yang diperuntukkan bagi masyaakat Blahkiuh.
Ketika masyarakat Blahkiuh lupa dengan keberadaan pura Luhur Giri Kusumo maka akan menemukan kesusuahan dan hidup sengsara. Inilah tercantum dalam purana pura.
Sehingga ada tradisi ngerebeg yang digelar pasukan sejak jaman kerajaan ketika Umanis Kuningan.
Nah saat itulah senjata kerajaan pasukan mengelilingi desa yang didahului dengan nunas tirta pasupati.
“Sehingga ada bhisama tidak boleh lupa dengan Pura Luhur Giri Kusumo. Sehingga kami juga matiti suara agar masyarakat Blahkiuh tidak lupa dengan Pura Luhur Giri Kusuma,” tutupnya.
Saat pujawali, umat Hindu yang nangkil ke pura ini juga datang dari berbagai penjuru.(dik)
Editor : I Putu Mardika