Tetapi yang tidak kalah menariknya adalah keberadan Pura Pasar Agung yang posisinya di lambung Gunung Agung yang menjadi pura Kahyangan Jagat bagi umat Hindu di Bali.
Pura Pasar Agung terletak di sebelah selatan Gunung Agung tepatnya ditengah hutan lindung yang secara geografis berlokasi di Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem-Bali.
Pura Pasar Agung Karangasem, biasa juga disebut dengan Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir, merupakan salah satu pura kahyangan jagat.
Secara adat, pura ini diempon oleh desa adat sekecamatan Selat, Karangasem, yang terdiri dari 27 desa adat.
Dari areal parkir Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir, pemedek harus berjalan melewati anak tangga yang tinggi sekitar 300 meter.
Karena letaknya yang tinggi, jadi untuk perjalanan menuju ke pura diharapkan berhati-hati karena jalan aspal banyak berlubang.
Setelah menempuh perjalana 20 menit, pemedek sampai di jaba pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir.
Karena berada di pertengahan antara kaki dan puncak Gunung Agung, tepatnya di antara ketinggian 1.600 meter di atas permukaan air laut, sehingga memiliki cuaca sejuk dan pemandangan yang indah.
Baca Juga: Larangan Khusus di Pura Botoh: Pemangku Makan Daging Babi Langsung Pingsan
Posisi Pura Pasar Agung Besakih menghadap arah utara selatan. Lingkungan pura masih sangat alami karena jauh dari permukiman dan rimbunnya pepohinan. Sehingga suasana sangat tenang dan sepi.
Tidak jarang banyak pendaki yang memilih untuk memulai perjalanan pendakian menuju puncak Gunung Agung dari Pura Pasar Agung. Sebab, jarak tempuhnya menuju puncak Gunung Agung menjadi lebih singkat.
Penglingsir Pura Pasar Agung, Jro Mangku Gede Umbara mengatakan sejarah Pura Pasar Agung tertuang dalam beberapa lontar.
Seperti Babad Gunung Agung, Lontar Rajapurana, Sesana Candi Supralingga Buana, Lontar Parwa Adigama, Lontar Prakempa, Lontar Bhisama
Sulit untuk mengungkap kepastian sejak kapan pendirian Pura Pasar Agung Besakih dilakukan.
Dalam Lontar Peleletih, disebutkan bahwa Ida Bhatara Putrajaya bersama adiknya Ida Bhatara Dewi Danu turun di Gunung Agung pada hari selasa Kliwon Kulantir, atau Purnama Kelima tahun isaka 31 atau tahun 109 masehi
Sedangkan Lontar Padmabhuwana disebutkan jika Pura Beskaih didirkan tahun saka 85 atau tahun 163 masehi.
Pura ini terhapus karena tertimpa lahar Gunung Agung saat mengalami erupsi tahun 1963.
Kemudian setelah tahun 1974, ada penelitian tahun dari PHDI Pusat menjelang Karya Eka Dasa Rudra yang merupakan ritual setiap serratus tahun di Pura Besakih pada tahun 1979 lalu.
Setelah itu, PHDI menetapkan jika Pura Pasar Agung diangkat sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat. Pura Pasar Agung merupakan bagian tak terpisahkan dengan Pura Penataran Agung Besakih.
Dalam Lontar Kusuma Dewa, Sangkul Putih, Purana Pasar Agung, Raja Purana Pura Agung Besakih dan Lontar Prakempa, disebutkan bahwa yang berstana di Gunung Agung adalah Dewa Hyang Pasupati, Hyang Putranjaya sebagai dewa yang paling dimuliakan.
Kemudian tempat pesamuan Ida Bhatara adalah di Pura Penataran Agung Besakih.
Sedangkan tempat Ida Bhatara menggelar Pemasaran adalah lambung Gunung Agung di Pura Pasar Agung.
Gunung Agung yang merupakan stnana Ida Bhatara Pasupati disebut Gunung Toh Langkir sebagai Gunung tertinggi di Bali.
Pura Pasar Agung juga disebut Pura Gunung Agung sebagai stana Ida Bhatara yang berstana di Gunung Agung.
Baca Juga: Pura Botoh, Pura Unik Hindu Bali di Denpasar Sempat Terbengkalai 350 Tahun
Pura Pasar Agung merupakan kahyangan ratu sejagat, sehingga aci-aci patut dilaksanakan oleh guru wisesa bersama umat Hindu di Bali.
“Dalam lontar juga sudah dipaparkan dengan jelas hubungan Pura Besakih dengan Pura Pasar Agung dan Gunung Agung,” katanya.
Pura Pasar Agung dibagi menjadi Tri Mandala, yakni Nista, madya dan utama mandala. Pada areal utama mandala, terdapat pelinggih Menjangan Seluang linggih Ida Bhatara Maspait.
Di sisi utara terdapat Limas Sari dan Limas Catu serta Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Dewi Danu.
Ada juga Meru Tumpang Lima sebagai linggih Ida Bhatara Bagus Mas Megelung, dan Meru Tumpang Pitu linggih Ida Ratu Ratna Ningrat atau Jaya Ningrat.
Selanjutnya pelinggih Padmasana terletak di timur laut sebagai stana dari Sang Hyang Tiga Sakti. Di sisi timur terdapat Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Hyang Geni Jaya.
Terdapat tiga buah gedong sebagai linggih Ida Mutering Jagat, Gedong ratu Linggih Pengubengan dan Gedong Tulus Dewa. Di Sebelah Gedong terdapat stana dari Ista Dewata, Sapta Patala dan Bale Gegitan.
“Pura Pasar Agung ini merupakan kahyangan Ida Bhatara Lingsir yang berstana di Puncak Giri Toh Langkir, atau Ida Bhatara Hyang Putranjaya Sakti,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika