Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pentingnya Uparengga Orti dalam Upacara Yadnya Hindu Bali: Pembawa Kharisma untuk Kesucian Bangunan di Pulau Dewata

I Putu Suyatra • Minggu, 21 Juli 2024 | 02:53 WIB

Orti adalah salah satu uparenga dalam upacara Yadnya Hindu Bali yang berkaitan dengan bangunan.
Orti adalah salah satu uparenga dalam upacara Yadnya Hindu Bali yang berkaitan dengan bangunan.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk pikuk pariwisata Pulau Dewata, masih lestari tradisi Hindu Bali dan makna spiritual yang mendalam. Salah satunya adalah Orti, sebuah uparengga atau pelengkap upacara yadnya yang sarat makna dan nilai-nilai spiritual.

Apa Itu Uparengga Orti?

Dalam upacara yadnya di Bali, terdapat elemen-elemen pelengkap yang disebut uparengga.

Salah satu uparengga yang penting adalah Orti. Meski terdengar asing, Orti memiliki makna dan fungsi yang signifikan dalam upacara yadnya seperti Mlaspas.

Orti biasanya ditempatkan di ujung atap bangunan palinggih atau tugeh pada bangunan perumahan.

Makna dan Fungsi Orti

Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan bahwa kata "Orti" berasal dari kata "arta" yang berarti material.

Material ini bersumber dari kekuatan prakerti (kebendaan), yang merupakan manifestasi dari kekuatan purusha (kejiwaan).

Orti memberikan 'taksu' atau kharisma kepada bangunan, meningkatkan keyakinan umat terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dengan demikian, Orti memiliki peran penting dalam memperkuat kepercayaan umat terhadap bangunan suci di Bali.

Proses Pembuatan Orti

Orti dibuat menggunakan daun lontar yang sudah tua, dibentuk menjadi beberapa bagian sebelum disatukan.

Ada berbagai bentuk Orti yang digunakan dalam upacara yadnya, khususnya Mlaspas. Beberapa di antaranya adalah:

1.  Orti Bagia

Dibentuk dari tangkai bambu dengan panjang sekitar 10 cm, ujungnya dibuat silang dan dihubungkan dengan benang empat warna (putih, merah, hitam, kuning).

Di ujung silang ditempatkan anyaman berbentuk burung dan cili (simbol muka), serta uang kepeng bolong sesuai dengan status bangunan suci yang akan diplaspas.

Berdasarkan Lontar Tutur Tapeni, Orti Bagia, mengandung makna kebahagiaan. Empat warna benang pada Orti Bagia mewakili empat penjuru mata angin: hitam (Utara) sebagai stana Dewa Wisnu, kuning (Timur) sebagai stana Dewa Iswara, merah (Selatan) sebagai stana Dewa Brahma, dan putih (Barat) sebagai stana Dewa Mahadewa.

Penyatuan warna-warna ini melambangkan pangider-ider Dewata Nawa Sanga.

2.  Orti Pulu

Dibuat dari daun lontar tua, berbentuk pulu (periuk), biasanya dalam jumlah 7, 9, atau 11 buah dalam satu paket, sesuai dengan status bangunan suci yang akan diplaspas.

Ini adalah simbol permohonan amerta (kehidupan) kepada Ida Sang Hyang Widhi.

3.  Orti Kerang Melok

Dibuat dari daun lontar, berbentuk bulat menyerupai tamiang dan memiliki tangkai, berjumlah empat buah pada setiap rangkaian, dipasang pada setiap sudut bangunan yang akan diplaspas.

Maknanya sebagai simbol permohonan keteguhan iman.

4.  Orti Beringin

Dibuat dari daun lontar, berbentuk menyerupai daun beringin, biasanya hanya satu rangkaian dalam satu paket.

Ini menjadi sSimbol permohonan perlindungan dan kecerdasan. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #uparangga #yadnya #mlaspas #anom ranuara #hindu #kharisma #bangunan #taksu #Orti #Lontar Tutur Tapeni