Namun, di balik itu, ada sejumlah legenda, mitos maupun cerita rakyat yang berkembang tentang keberadaan Desa Trunyan dan sejarahnya.
Dalam Buku Fungsi dan Makna: Upacara Ngusaba Gede Lanang Kapat di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli yang ditulis Sumerta dkk menjelaskan, selama ini gambaran sejarah tentang awal mula Desa Trunyan sangat sulit untuk diungkapkan.
Peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa prasasti sangat sulit untuk dibaca, karena keberadaan prasasti-prasasti tersebut disucikan dan disimpan di pelinggih (bangunan suci tempat persemayaman para dewa) oleh penduduk setempat.
Dikisahkan, dahulu kala berhembus bau harum yang demikian semerbak hingga menembus batas langit, menyentak setiap tarikan nafas dan mengundang rasa ingin tahu.
Dikisahkan, seorang dewi entah bernama siapa, salah satu penghuni langit tergugah dan terpikat oleh keharuman itu. Maka tanpa dapat dicegah segera ia melayang-layang; pergi kesana kemari mencari asal datangnya bau harum itu.
Berhari-hari dewi itu mengikuti arah datangnya bau harum, kian lama yang mencari, kian ia merasa mendekati asal datangnya keharuman itu.
Benarlah, akhirnya ia melayang menuju satu arah, arah yang memberi bau terkuat, yang paling keras kesemerbakannya.
Baca Juga: Sejarah dan Keunikan Tarian Topeng Sidakarya: Tarian Pelengkap Upacara Yadnya Hindu Bali
Akhirnya di satu titik di antara awan-awan dewi itu menghentikan terbangnya, mengerutkan dahinya, memastikan bahwa keharuman yang menyentak itu datangnya dari bawah, dari bumi
Segera dewi itu meluncur dengan anggun, menjejakkan kakinya di atas tanah, menarik nafasnya dengan mata penuh
cahaya; alangkah kagum hatinya memandang sekitarnya. Sambil melangkah pelahan dicarinya asal keharuman itu.
Alangkah terpesona dewi itu saat menyadari semua keharuman yang mampu menembus langit itu, yang menarik dirinya turun ke bumi berasal dari pohon-pohon menyan.
Pohon dalam bahasa bali disebut taru, menyan: benzoin; inilah asal kata Trunyan. Kemudian Sang matahari yang usil dengan penuh senyum mengikuti secara diam-diam kemana pun dewi itu melangkah.
Pohon-pohon menyan seperti bersorak mengibas-ibas daun dan rantingnya, keharuman makin merebak, salah satu dari mereka membungkuk, melengkungkan batangnya, tak lama kemudian ada balai-balai yang demikian nyaman.
Dewi itu sungguh bahagia dan berjanji akan setiap hari mengurus semua pohon di sana, pohon-pohon menyan bersorak riang seolah mendapatkan kembali ibunya.
Dewi itu memang jatuh hati pada pohon-pohon itu, setiap hari di menyisiri barisan pohon-pohon itu, mengajak bercakap-cakap, kadang bernyanyi, dan matahari terus mengikuti dengan cahayanya bahkan kadang begitu dekat cahaya itu diarahkan ke mata dewi itu,
"Hei, matahari, menjauhlah, sudah cukup cahayamu, jangan menyilaukan mataku dan jangan sampai membuat daun-daun pohon menyan ini layu."
Melihat hal ini, sang dewi merasa marah dan menghina matahari dengan menungginginya. Keajaiban terjadi setelah menunggingi matahari, dewi itu hamil. Kemudian melahirkan anak kembar dampit, yang sulung banci, yang lebih kecil perempuan.
Setelah anak itu agak besar, dewi itu dipanggil oleh suara gaib, dia pun terbang kembali ke langit, kedua anaknya dititipnya pada pohon-pohon menyan dan matahari setiap hari dengan setia menjaganya. (dik)
Editor : I Putu Mardika