Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Trunyan: Legenda Putri Betara Kehen yang Diperistri Ratu Sakti Pancering Jagat

I Putu Mardika • Rabu, 24 Juli 2024 | 03:52 WIB

 

Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani Bangli ini terdapat bangunan suci meru yang bertumpang tujuh
Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani Bangli ini terdapat bangunan suci meru yang bertumpang tujuh

BALIEXPRESS.ID-Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli tidak hanya dikenal dengan Tradisi Mepasah atau ritual kematian di setra di bawah pohon Menyan.

Desa yang merupakan bagian dari Bali Aga ini juga memiliki Sejarah yang erat dengan legenda Putri Batara Kehen yang diperistri Ratu Sakti Pancering Jagat.

Konon, ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Konen bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi dimana letak dari sumber bau

Jero Penyarikan Desa Adat Trunyan, I Nyoman Lilin dalam legenda yang diyakini masyarakat, konon Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon cemara Landung. 

Di sanalah kemudian mereka kawin dan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu.

Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat.

Baca Juga: Sejarah Desa Trunyan, Kintamani: Legenda Tentang Anak-anak Dalem Solo, Mengembara Mencari Sumber Bau Harum

Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama Taru Menyan, yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini tepatnya berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Trunyan memiliki banyak keunikan dan daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah warganya.

Tidak seperti umat Hindu umumnya, di Bali yang melangsungkan upacara ngaben, di Trunyan jenasah tidak dibakar melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan.

Justru tengkorak tengkorak itulah yang menjadi daya tarik Trunyan sebagai desa kuno dan dianggap sebagai desa Bali Aga atau Bali Asli.

Dikatakan Nyoman Lilin, Trunyan memiliki tiga jenis kuburan, yang menurut tradisi Desa Trunyan ketiga jenis kuburan itu diklasifikasikan berdasarkan umur orang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburan. Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik.

“Jenasah yang dikuburkan hanyalah jenasah yang jasadnya utuh, tidak cacat dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar atau bukan bunuh diri serta kecelakaan,” paparnya.

Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syaratjenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.

Kuburan yang ketiga disebut Setra Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun meninggal karena tidak wajar, misalnya kecelakaan dan bunuh diri. Dari ketiga jenis kuburan itu, yang paling menarik adalah kuburan utama atau setra wayah.

Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian Utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tabing bukit.

Sebagian badannya dari bagian dada ke atas dibiarkan terbuka tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut yang digunakan untuk memagari jenasah.

Baca Juga: Bukan Sembarang Tradisi! Ini Sejarah Bukakak di Desa Sudaji Buleleng dengan Sarana Utama Babi Panggang Setengah Matang

Terdapat 7 (tujuh) liang lahat dan jika semua liang lahat sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur, jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah yang baru akan menempati lubang tersebut.

Jenasah lama akan diatur begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di Setra Wayah berserakan tengkorak man usia yang yang tidak boleh ditanam maupun dibuang.

Keunikan Trunyan yang lain adalah peninggalan purbakala. Prasasti Trunyan tahun Saka 833 (911 Masehi), menyebutkan keberadaan sebuah pura yang bernama Pura Pancering Jagat. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa trunyan #bali #Kintamani #bangli #sejarah #Menyan