Menjangan Seluang yang ada pada Pelinggih menjangan seluang merupakan simbol penyatuan sekte-sekte di Bali yang berkembang.
Umumnya di setiap sanggah atau merajan (dadia) sering melihat pelinggih Menjangan Seluang yang berbentuk kepala menjangan.
Menjangan Seluang rata-rata bentuknya panjang ini terdiri dari tiga ruang (rong) yang cukup besar.
Rong pertama dan kedua hampir sama lebarnya kira-kira 75cm. Dalam rong yang besar yang ditengah, berisi kepala menjangan lengkap dengan tanduknya.
Bentuk Menjangan Seluang rupanya memang dimaksudkan untuk menunjukkan adanya tiga kelompok besar masyarakat zaman dulu, dimana salah satu diantaranya yakni kelompok Bali Aga terdiri dari enam Sekta Agama.
Diantaranya sekte Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala. Sekte Sambu misalnya bercirikan pada penyembahan arca, ketika mati mereka diupacarai dengan daun pepetan ketan sebagai sarana pembersihan mayat.
Mayat harus ditanam seketika. Kemudian Sekte Brahma, menyembah Ida Sang Hyang Surya/Ida Sang Hyang Agni. Penganut sekte ini menggunakan air delima sebagai pembersih mayat. Mayat penganut sekte ini dibakar.
Sekte Indra, penganut menggunakan gunung dan bulan sebagai stana dewa. Penganut sekte ini menggunakan air beras untuk memebersihkan mayat. Mayat penganut sekte ini ditanam di jurang yang berisi goa.
Sekte Wisnu, penganut biasanya memiliki tradisi upacara meminta hujan. Mayat penganut sekte ini biasanya dibersihkan dengan air yang berisi bunga-bungaan. Abu jenazah penganut sekte ini dihanyutkan ke sungai atau samudra.
Sekte Bayu, penganutnya memandang angin dan biantang sebagai ciri-ciri kehadiran dewa pujaannya.
Mereka biasanya menggunakan air hujan sebagai sarana pembersihan mayat. Mayat penganut sekte ini ditaruh begitu saja di sebuah tempat hingga hancur oleh angin.
Sekte Kala, penganut sekte ini sangat banyak di Bali. Pemujaan terhadap ratu Geda Mecaling dan sejenisnya merupakan peningggalan Sekte ini. Mereka biasanya menggunakan daun bidara dalam upacara kematiannya.
Menjangan Seluang sangat erat kaitannya dengan pengaruh Senapati Mpu Kuturan. Dalam berbagai teks, nama besar Mpu Kuturan diabadikan dalam sejumlah lontar.
Seperti dalam Lontar Indik Parahyangan, Lontar Dharma, Lontar Kusuma Dewa , Lontar Taru Pramana , Lontar Keputusan Kuturan.
Nama beliau juga disebut dalam berabagi teks Prasasti. Seperti Prasasti Dadya Pajenengan, Prasasti Pasek Bandesa, Prasasti Bwahan, Prasasti Pengotan çaka 1103/1181 Masehi, Prasasti Selat, çaka 1103/1181, Prasasti Selumbung, çaka 1250/1328, Prasasti Batuan, tahun çaka 944/1022 Masehi, Prasasti Serai çaka 915/993 Masehi, dan Prasasti Langgahan çaka 1259/1337 Masehi.
Sejarah berdirinya bangunan pura di Bali tidak terlepas dari pengaruh Mpu Kuturan. Mpu Kuturan datang ke Bali pada tahun 1001 Masehi atas permintaan dari Raja Bali pada saat itu yaitu Raja Udayana.
Pada saat itu beliau menemukan banyaknya sekta agama yang berpotensi memecah belah persatuan umat.
Oleh karena itu beliau mengadakan pertemuan atau pesamuhan agung di desa bedulu (Samuan Tiga) untuk mempersatukan tiga kelompok besar dengan enam sekta agama.
Dari hasil Pesamuhan Agung tersebut dihasilkan satu pemahaman diantara sektasekta tersebut yaitu Tri Murti.
Tri Murti adalah Tuhan hanya satu, namun memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai Pencipta (Brahma), sebagai pemelihara (Wisnu), dan sebagai pelebur (Siwa) paham tersebut dirangkum dan dikenal sebagai Agama Hindu Bali.
Atas jasanya mempersatukan sekta-sekta tersebut, Mpu Kuturan mendapatkan suatu kehormatan untuk mengenang jasa beliau dengan mendirikan Pelinggih Menjangan Seluang atau Sakaluang sekaligus sebagai manifestasi dari penyatuan berbagai sekte agama menjadi satu paham yaitu Tri Murti.
Pelinggih Menjangan Seluang juga merupakan perwujudan penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga, jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga. (dik)
Editor : I Putu Mardika