Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Pura Basukian: Titik Awal Rsi Markandeya Menanam Panca Datu, Dilakukan Tahun 111 Saka  

I Putu Mardika • Sabtu, 27 Juli 2024 | 19:36 WIB

 

Pura Basukian di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem
Pura Basukian di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem
BALIEXPRESS.ID-Pura Besukian merupakan salah satu bagian dari delapan belas pura penting di kawasan Pura Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini menjadi saksi Sejarah tentang penanaman Panca Datu yang dilakukan oleh Rasi Markandeya saat datang ke Bali.

Lokasi Pura Basukian persis di depan Pura Penataran Agung Besakih. Pemedek yang hendak nangkil ke Pura Penataran Agung maupun ke Pura Pedarman sudah pasti melewati Pura Basukian ini.

Sejarah keberadaan pura basukian erat dengan tokoh suci Rsi Markandeya di Bali. Lontar Markeandeya menyuratkan sang Rsi Markandeya datang dari India, kemudian ke Jawa Dwipa dan Bali.

Setelah mendapat petunjuk dari Sang Hyang Jagatnatha, Rsi Markandeya datang ke Bali diiringi 8000 untuk menerabas hutan. Namun usaha beliau gagal, karena pengikut sang Rsi terkena Wabah Penyakit.

Periode kedua, Sang Rsi Markandeya datang lagi ke Bali dengan 4000 pengiring. Kali ini beliau mengajak sejumlah pandita.

Setelah itu, beliau menggelar upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Setelah itu, barulah pengiringnya diberikan ngerabas hutan.

Baca Juga: Pura Pengubengan Besakih, Stana Sang Hyang Taksaka, Jadi tempat Ngubeng saat pujawali

Di tempat merabas hutan itulah Rsi Markandeya menanam kendi dan logam mulia atau Panca Datu. Dari suratan lontar Markandeya banyak kalangan meyakini, di lokasi Rsi Markandeya menanam panca datu inilah kelak menjadi Pura Basukian.

Dari kawasan lambung Gunung Agung inilah Basuki mengalir ke seantero jagat Bali, yang menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

Pemangku Pura Basukian, Jro Mangku Kindu menjelaskan, awalnya ini merupakan cikal bakal Pura di Besakih.

Disinilah penanaman panca datu pertama oleh Rsi Markandeya pad atahun 111 Saka. Yang disebutkan dalam huruf Candra Sangkala yaitu wak sasi wak.

“Wak berarti satu, sasi berarti satu. Jadi 111 saka. Pada saat itulah penanaman Panca Datu dengan tirta Pengentas oleh Rsi Markandeya,” kata Mangku Kindu.

Sejak saat itulah dikenal ada istilah pedagingan dengan lima jenis logam, yaitu emas, besi, perak, kuningan, tembaga, perunggu dan disertai permata mirah yang ditanam.

Begitu juga ketika umat Hindu hendak membangun pelinggih, maka sudah pasti ada pedagingan panca datu.

Dijelaskan Mangku Kondu, Pura Basuki dimaknai sebagai kata keselamatan. “Basuki artinya selamat. Tentu setelah menanam Panca Datu, maka segala usaha menerabas hutan yang dilakukan oleh pasukan Rsi Markandeya diberikan kelancaran dan keselamatan,” paparnya.

Ia menambahkan, di Besakih ini ada Uluning Dalem yakni di Pura Dalem Puri, kemudian di Pura Basukian merupakan uluning Puseh. Sedangkan di Pura Penataran Agung sebagai uluning Bale Agung.

Sehingga ketiganya ini sebagai tempat utama yang wajib bagi umat Hindu melakukan persembahyangan ketika nangkil ke areal Pura Besakih.

Usai Gunung Agung mengalami erupsi pada tahun 1963, di Pura Agung Besakih dilaksanakan Karya Agung Eka Dasa Rudra.

Baca Juga: Di Pura Pasar Agung Besakih, Ada Pelinggih untuk Nangluk Merana, Selamatkan Hasil Pertanian

Kemudian pernah dilaksanakan pemugaran terhadap bangunan suci di Pura Basukian pada sekitar 1967-1968.

Karena jumlah umat yang tangkil ke Pura Basukian semakin banyak, maka ada tercetus niat untuk melakukan pemugaran total di Pura Basukian, yang diawali dengan matur piuning dengan Hyang Basuki pada Buda Umanis Prangbakat pada 24 juli Tahun 2002.

Pemugaran Pura Basukian tahun itu tergolong total. Areal pura diperluas hingga ke arah timur dari posisi semula. Tanah di lokasi pura dinaikkan sehingga setara dengan ambal-ambal tangga terbawah menuju Pura Penataran Agung Besakih

Dengan demikian, kenyamanan pemedek yang sembahyang di Pura Basukian tidak terganggu oleh lalu lalang pemedek berjalan di sisi barat Pura Basukian.

Selain memperluas dan meninggikan pelinggih natar, dilakukan pula penambahan bangunan penunjang yang sifaftnya melengkapi jalannya piodalan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #besakih #hindu bali #Rsi Markandeya #hindu #pura #sejarah #karangasem