Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jangan Coba-Coba Nangkil Ke Pura Ulun Swi Jimbaran saat Buda Wage atau Buda Kliwon, Akibatnya Fatal

I Putu Mardika • Kamis, 1 Agustus 2024 | 04:46 WIB

Pura Ulun Swi Jimbaran, Badung sebagai tempat suci yang dibangun sejak Abad ke 11
Pura Ulun Swi Jimbaran, Badung sebagai tempat suci yang dibangun sejak Abad ke 11
BALIEXPRESS.ID-Pura Ulun Swi Jimbaran yang terletak di Desa Adat Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali merupakan salah satu pura Kahyangan Jagat.

Di Pura ini, ada pantangan khusus yang harus diperhatikan bagi pemedek, yakni tidak boleh tangkil saat Buda Wage dan Buda Kliwon.

Pura ini memang berada dekat dengan areal permukiman dan jalan raya. Sehingga bisa diakses dengan berbagai moda kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Pura Ulun Swi Jimbaran juga memiliki areal yang sangat luas.

Sesuai catatan sejarah, Pura Ulun Swi yang berstatus Pura Kahyangan Jagat ini berdiri sekitar abad ke-11. Umat Hindu meyakini pura tersebut merupakan tempat memohon kemakmuran.

Pengempon Pura Ulun Swi Jimbaran, I Wayan Eka Santa Purwita menjelaskan, Pura ini erat dengan puri Mengwi atau Raja Mengwi.

Nama Jimbaran bukan karena makna hutan yang luas, tetapi beliau yang membangun pura ini memiliki rekam perjalannanya yang sangat luas.

“Yang membangun pura ini adalah beliau Ida Dalem Putih. Nah, perjalanannya yang panjang dan luas inilah beliau bergelar Ida Dalem Putih Jimbaran. Artinya bukan tempat yang luas, melainkan perjalanan beliau yang luas,” katanya.

Pura Ulun Swi merupakan Pura Kahyangan jagat di Desa Adat Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung.

Yang berstana di Pura ini adalah Ida Hyang Paku Bumi, Ida Bhatara Tangkeb Langit dan Ida Hyang Bhatara Sri.

“Jelas bahwa pura ulun Swi adalah memohon kesukertan bumi. Jadinya, sumber kehidupan sandang dan pangan memuja agar semua menjadi murah. Kita memohon kemakmuran,” ungkapnya.

Wayan Eka tidak menampik jika salah satu pantangan untuk nangkil ke pura ini adalah dilarang melaksanakan persembahyangan setiap hari Buda Wage dan Buda Kliwon.

Pantangan ini berlaku untuk semua orang yang hendak ke Pura Ulun Swi.

“Ini merupakan bhisama. Dan tidak boleh dilanggar. Logikanya, kita ingin sembahyang, kapapun bisa. Padahal kalau Buda Wage dan Buda Kliwon itu kan bagus waktunya. Tetapi jangan coba-coba melanggar, karena fatal akibatnya,” sebutnya.

Pantangan yang sudah diyakini turun temurun ini disebutkan dalam purana. Diyakini pada hari Buda Wage dan Buda Kliwon merupakan waktu beliau melaksanakan paruman atau rapat secara niskala.

“Sehingga manusia dilarang kita sembahyang. Dulu pernah ada yang mencoba sembahyang pada Buda Wage dan Buda Kliwon di Pura Ulun Swi, tetapi akhirnya meninggal. Jadi jangan coba-coba,” paparnya.

Di pura ini juga ada meru dan sumur. Kalau di sekala pemedek bisa melihat keberadaan sumur, tetapi pada dasarnya adalah sumur ini sebagai simbul pertemuan air di bawah tanah.

Ia menambahkan, ketika ada orang yang menekuni spiritual, saat datang ke pura ini, biasanya karena pawisik. Nah pada saat itulah pemedek yang menekuni dunia spiritual biasanya mereka memohon penglukatan.

Wayan Eka menambahkan yang berstana di Pura ini sangat murah rejeki.

Sangat asih kepada umatnya yang sembahyang, yang tulus dan ikhlas pada keagungan. Fungsi penglukatan ini adalah membersihkan kotoran dasa mala yang ada.

“Secara nisakala untuk membersihkan sad ripu, sapta timira dan untuk mengikis sikap rajas dan tamas. Pada dasarnya adalah pembersihan. Secara sekala kita mandi, secara niskala ada upacara,” imbuhnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #hindu bali #Pura Ulun Swi Jimbaran #hindu #pura #badung