BALIEXPRESS.ID –Menurut sejarah, Keris Singapraga merupakan pemberian Raja Denpasar kepada penggantinya AA Ngurah Made.
Entah dari mana keris tersebut berasal, tidak ada cerita secara pasti. Yang jelas menurut sumber dari Belanda, keris tersebut sebagai tanda penghargaan raja kepada penggantinya.
Sebelum meninggal sekitar tahun 1789 Masehi, raja yang bergelar Cokorda Satria berpesan kepada penggantinya AA Ngurah Made agar memakai gelar cokorda.
Selain gelar juga mewariskan sebuah pusaka sakti berupa sebilah keris yang diberinama Singapraga.
Pada zaman kerajaan, Keris Singapraga mendapat perlakuan khusus. Biasanya, pada hari Pamacekan Agung, diadakan upacara khusus untuk keris Singapraga.
Saat itu keris Singaparga dijemput di istana, kemudian diarak keliling diikuti pegawai kerajaan dengan membawa keris masing-masing.
Raja yang membawa keris Singapraga ikut berjalan di bawah payung kebesaran. Sampai di perempatan jalan, keris diletakkan di tempat yang tinggi (meja) untuk dihaturkan upacara.
Pelaksanaan upacara untuk keris Singapraga dipimpin dua pendeta Siwa dan Budha.
Pelaksanaan upacara tersebut cukup meriah, diiringi gamelan dan sewaktu-waktu dibunyikan mercon (petasan).
Upacara ini diteruskan oleh raja-raja berikutnya yang berkuasa di Denpasar. Kemudian menjadi tradisi untuk menghormati arwah leluhur dan sumpah setia kepada raja bahwa mereka taat dan siap mati membela raja .
Pada hari Ngerebeg (grebeg), saat seluruh senjata milik kerajaan dikirab mengelilingi areal kerajaan dengan pusat ritual di Pura Tambangan Badung, keris Singapraga tidak diikutsertakan.
Dari namanya, Singapraga berarti bagaikan seekor singa. Ibarat singa, hanya dengan mendengarkan aumannya, orang bisa mati mendadak.
Demikian juga maksud dari empu pembuat keris tersebut. Dengan kesaktian bagaikan seekor singa, hanya dengan menuding, tanpa menyentuh, keris tersebut dapat membunuh lawannya.
Karena itu pula, Raja Denpasar dengan gagah berani menerjang peluru yang ditembakkan Belanda.
Namun sayang, hujan peluru yang diarahkan ke dada sang raja tak kuasa dibendung keris tersebut. Konon keris itu pun tembus oleh peluru.
Menurut cerita, lubang bekas peluru tembakan Belanda masih membekas di keris tersebut.
Setelah Kerajaan Denpasar runtuh dan dikuasai Belanda, keris itu dibawa Belanda.
Namun salah seorang pustakawan Belanda, David Stuart Fox yang dijumpai di sela-sela acara Grebeg Aksara beberapa waktu silam mengatakan, keris-keris tersebut beberapa di antaranya sempat diboyong ke negeri Kincir Angin. Tetapi sudah dikembalikan karena diminta pemerintah Indonesia.
“Dulu memang ada, tetapi sudah dikembalikan. Beberapa di antara hanya keris biasa karena gagangnya dibuat dari kayu seadanya. Di Belanda sudah tak ada keris Bali. Yang banyak itu di Bali karena keris dibuat di sini,” katanya dengan jawaban yang sangat gamang.
Tahun 1931 keris Singapraga ditemukan di Museum Batavia, Belanda di bawah pengawasan Dr. R. Goris.
Keris tersebut dilihat dan dikenali Ngurah Made Kesiman yang menjabat sebagai distrik Kesiman serta Ngurah Gede Banjar sebagai juru tulis Cokorda Badung.
Kini keris Singapraga disimpan di Museum Gajah Jakarta. Hanya saat-saat tertentu keris tersebut dibawa ke Bali.
Editor : Nyoman Suarna