BALIEXPRESS.ID – Dalam perjalanan setelah menggaib jadi wong samar, Ida Ayu Swabawa (Ratu Niyang Sakti), menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali, akhirnya sampai di selatan pulau Bali, tepatnya di lingkungan Gelogor Carik, Desa Adat Pemogan, Denpasar.
Kawasan tersebut, dulu bernama Suwung yang berarti sunyi atau sepi karena merupakan kawasan hutan bakau.
Sebuah peristiwa terjadi di sekitar tempat tersebut. Suatu ketika petir menyambar kawasan hutan tersebut hingga disebut Tanah Kilap (Kilap artinya petir).
Seiring peristiwa tersebut, berbagai kegaiban pun terjadi. Menurut cerita beberapa warga di lingkungan Gelogor Carik, di kawasan tersebut sering muncul seorang wanita, kadangkala berwujud seorang nenek atau wanita cantik.
Hasil penelusuran beberapa tokoh spiritual di kawasan tersebut dan kejadian-kejadian gaib yang dialami beberapa warga, ternyata sosok tersebut adalah Ida Ayu Swabawa.
Karena berbagai kejadian gaib yang dialami orang-orang yang lewat di kawasan hutan bakau tersebut, tahun 1935 akhirnya dibangun sebuah tempat pemujaan sebagai stana Ida Ayu Swabawa yang diberinama Pura Griya Anyar Tanah Kilap.
Semula tempat pemujaannya terbuat dari bamboo dan batang pohon santen. Banyaknya umat yang meyakini tempat tersebut sebagai tempat memohon berbagai anugerah, akhirnya dibangunlah tempat suci permanen berupa pura.
Hingga kini Pura Griya Anyar Tanah Kilap merupakan tempat suci yang dikenal angker dengan berbagai kisah gaib yang dialami warga.
Para pedagang dan warga yang melintas di jalan depan pura, akan berhenti sesaat untuk menghaturkan sesaji dan sembahyang agar mereka dilindungi dan diberi kemurahan rejeki.
Pada hari-hari tertentu, konon Ida Ayu Swabawa yang kini dijuluki Ratu Niyang Sakti Tanah Kilap akan menampakkan diri untuk mengingatkan warga setempat agar waspada.
Salah seorang warga sekitarnya Gede Eka menuturkan, sesekali waktu Ratu Niyang Sakti muncul berwujud nenek-nenek membawa tongkat kayu dadap, tetapi kadangkala muncul berwujud wanita cantik untuk memberi pelajaran pada orang-orang dengki.
Bahkan menurut cerita warga di Gelogor Carik, tahun 1966 Ratu Niyang muncul di balai banjar (masyarakat) mengenakan pakaian putih-putih, tetapi kemunculannya hanya sesaat, untuk mengingatkan warga soal pelaksanaan upacara di Pura Griya Anyar Tanah Kilap.
Banyak orang meyakini bahwa sosok Ratu Niyang Tanah Kilap adalah seorang pendeta pemberi berkah, rejeki, keselamatan, penolong, jabatan dan karier.
Jangan heran, kalau pura ini dikunjungi para pejabat pemerintahan maupun swasta, pemilik perusahaan, hotel termasuk para tokoh spiritual untuk memohon kemurahan hati sang penguasa tempat tersebut.
Namun Ratu Niyang juga kerap memberi pelajaran bagi orang-orang yang berhati sirik, dengki, dan doyan mempermainkan wanita.
Editor : Nyoman Suarna