Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Hindu Bali di Banjar Bantas Kelod: Memandikan Jenazah di Depan Sanggah Kemulan Begini Tujuannya

I Putu Suyatra • Minggu, 11 Agustus 2024 | 02:26 WIB
Jro Tangi saat menceritakan tradisi keluarganya beberapa tahun lalu.
Jro Tangi saat menceritakan tradisi keluarganya beberapa tahun lalu.

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu di Bali, prosesi pemakaman biasanya dimulai dengan memandikan jenazah di halaman rumah, dekat dengan bangunan bale dangin.

Seluruh keluarga juga diimbau untuk tidak memasuki area suci (merajan) selama proses tersebut.

Namun, keluarga Jero Mangku Made Tangi di Banjar Bantas Kelod, Sibanggede, Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, memiliki tradisi unik.

Mereka memandikan jenazah di depan sanggah kemulan, bukan di tempat yang umum.

Menurut Jero Mangku Made Tangi, tradisi ini dilakukan untuk menghindari putung, yaitu hilangnya garis keturunan akibat kematian yang beruntun dalam keluarga.

Tradisi ini, yang berasal dari Pura Dadya Pula Sari Dalem Tarukan, hanya dijalankan oleh keluarga besar Jero Mangku Made Tangi, baik yang tinggal di Desa Sibanggede maupun yang tinggal di luar desa.

Walau asal-usul pasti dari tradisi ini tidak diketahui, Jero Mangku Tangi mengungkapkan bahwa pernah ada masa ketika tradisi ini dihentikan karena dianggap membuat kawasan suci menjadi leteh (kotor).

Namun, setelah penghentian itu, anggota keluarga meninggal secara beruntun.

Akhirnya, tradisi ini dilanjutkan kembali untuk menghindari kejadian serupa.

Selain memandikan jenazah di depan sanggah kemulan, keluarga Jero Mangku Tangi juga memiliki pantangan lain, seperti tidak diperbolehkannya membuat sumur atau menanam bibit injin.

Hal ini berkaitan dengan keyakinan bahwa salah satu leluhur mereka, Dalem Tarukan, memiliki istri seorang bidadari yang selendangnya disembunyikan di antara tumpukan injin.

Meskipun tradisi ini berbeda, prosesi memandikan jenazah di keluarga Jero Mangku Tangi pada dasarnya sama dengan prosesi pada umumnya di desa tersebut.

Perbedaannya hanya terletak pada lokasi pelaksanaan. Keluarga ini juga memperpendek durasi pengambilan kesebelan (cuntaka) dari 12 hari menjadi tujuh hari, sesuai dengan tradisi mereka.

Tradisi ini dipertahankan oleh keluarga Jero Mangku Tangi karena diyakini memiliki dampak besar bagi kesejahteraan dan kelangsungan keturunan mereka.

Meskipun ada yang sempat meragukan dan menganggap kawasan tempat tradisi ini dilakukan menjadi leteh, keluarga ini tetap menjalankan tradisi tersebut dengan baik hingga saat ini.

Dengan latar belakang sejarah yang kental dan kepercayaan yang kuat, tradisi memandikan jenazah di depan sanggah kemulan ini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual keluarga Jero Mangku Tangi. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #ngaben #hindu #tradisi #badung #jenazah