BALIEXPRESS.ID - Goa Peteng, sebuah goa kecil yang berada di perbatasan Desa Darmasaba dan Sibanggede, Kabupaten Badung, Bali, menyimpan kisah unik di balik fungsi spiritualnya.
Berbeda dengan goa-goa pada umumnya yang dibangun pada zaman penjajahan sebagai tempat perlindungan, Goa Peteng dikenal sebagai tempat sakral bagi umat Hindu untuk memohon taksu bagi para pelaku seni tari dan tabuh di Bali.
Menurut Ketut Gede Arya Adnyana, keturunan pemangku Goa Peteng, masyarakat sekitar percaya bahwa goa ini adalah tempat untuk memohon taksu —sebuah kekuatan spiritual yang penting bagi para seniman Bali.
Goa Peteng dapat dicapai dalam waktu sekitar 30 menit dari Pusat Kota Denpasar.
Dengan rute melalui Taman Kota Lumintang, perjalanan berlanjut menuju Desa Darmasaba hingga tiba di perbatasan antara Desa Darmasaba dan Sibanggede, di mana Goa Peteng terletak di utara jembatan.
Meski goa ini kecil dan tersembunyi di tegalan warga, masyarakat setempat terus menjaga kesakralannya.
Goa Peteng juga berfungsi sebagai beji dari Pura Tanah Ayu, tempat suci yang berada di selatan goa.
Sebelum tahun 1993, ketika pemangku I Nyoman Mereg masih hidup, masyarakat yang ingin "nangkil" (bersembahyang) di Goa Peteng akan terlebih dahulu mencari pemangku.
Kini, siapa pun yang ingin bersembahyang di Goa Peteng bisa melakukannya sendiri atau mengajak pemangku lain.
Goa Peteng terletak di area persawahan yang suasananya selalu gelap pada siang dan sore hari, sehingga goa ini disebut "Goa Peteng" yang berarti goa gelap.
Sebelum ada jembatan penghubung antara Darmasaba dan Sibanggede, jalan menuju goa hanya berupa setapak kecil yang harus dilalui dengan hati-hati, terutama karena lokasi goa yang diapit oleh dua jurang.
Tempat ini menjadi tujuan para pamedek (orang yang bersembahyang) yang akan melakukan pentas seni atau lomba gong kebyar. Mereka datang untuk memohon restu dan taksu.
Selain itu, Goa Peteng juga digunakan untuk memohon tirta (air suci), yang dipercaya oleh warga sebagai obat penyembuh.
Goa Peteng telah mengalami perbaikan sehingga lebih mudah diakses.
Saat ini, di dalam goa terdapat palinggih (tempat pemujaan) dan beberapa patung serta arca yang menandai tempat bersthana Dewa Wisnu.
Sebelum nangkil, disarankan untuk menghaturkan daksina dan pejati sebagai bentuk penghormatan.
Namun, bagi mereka yang ingin memohon tirta, cukup dengan menghaturkan canang saja.
Goa ini juga memiliki aturan khusus, seperti larangan masuk bagi orang yang cuntaka (dalam keadaan tidak suci), termasuk bayi atau orang tua yang baru melahirkan.
Goa Peteng menjadi tempat yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat, terutama pada saat pujawali, upacara yang dilaksanakan setiap Anggarakasih Medangsia.
Bahkan, beberapa warga mengalami kejadian mistis saat melakukan persembahan di sana, menambah aura misteri yang menyelimuti goa ini.
Salah satu warga, Ayu Novitayanti, berbagi pengalamannya saat memohon restu di Goa Peteng sebelum mengikuti lomba magambel gong kebyar.
Berkat latihan yang serius dan restu yang didapat di Goa Peteng, ia dan timnya berhasil meraih juara I. ***
Editor : I Putu Suyatra