Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keunikan Tempat Suci Hindu di Bali: Ada Misteri Suara Angklung Saat Hari-hari Tertentu di Pura Yeh Pulu

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 11 Agustus 2024 | 23:35 WIB
Pura Yeh Pulu yang terletak di Banjar Batu Lumbang, Desa Bedulu, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali
Pura Yeh Pulu yang terletak di Banjar Batu Lumbang, Desa Bedulu, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali

BALIEXPRESS.ID – Pura Yeh Pulu yang terletak di Banjar Batu Lumbang, Desa Bedulu, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, memiliki daya tarik unik yang membuatnya istimewa.

Pura ini tidak hanya menjadi tempat sembahyang bagi umat Hindu setempat, tetapi juga mengeluarkan tirta suci yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.

Pemangku Pura Yeh Pulu, I Wayan Kereg, menyatakan bahwa tirta yang keluar dari areal pura ini dipercaya dapat memperlancar pertumbuhan padi dan melindungi tanaman dari serangan hama.

Dalam wawancaranya dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di areal Pura Yeh Pulu, Senin (30/10/2017) Kereg mengungkapkan bahwa tirta dari Yeh Pulu sebaiknya digunakan sejak tahap awal penanaman bibit padi.

"Tirta dari Yeh Pulu sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan padi hingga panen. Bahkan, setelah itu, tidak ada serangan hama," ujarnya.

Pura Yeh Pulu juga terkenal karena relief kuno yang menghiasi dindingnya.

Relief ini, yang menggambarkan kehidupan zaman dahulu, diukir pada batu padas sepanjang 25 meter dengan lebar sekitar dua meter.

Relief ini menarik perhatian wisatawan yang penasaran akan sejarah dan keunikan ukiran tersebut.

Relief ini ditemukan pada tahun 1925 oleh salah satu panglingsir desa setempat.

Jero Mangku Kereg menjelaskan bahwa relief tersebut menggambarkan cerita pewayangan yang membentang dari utara ke selatan.

Ada juga ebuah ceruk di ujung selatan yang konon digunakan sebagai tempat pertapaan oleh Raja Bedahulu sebelum berperang dengan Kerajaan Majapahit pada tahun 1343 Masehi.

Nama "Yeh Pulu" sendiri berasal dari kata "yeh" yang berarti air, dan "pulu" yang merujuk pada gentong tempat beras.

Di tengah-tengah area pura, terdapat klebutan atau sumber air suci yang sering digunakan oleh krama subak setempat untuk memerciki bibit padi dan padi yang mulai berbuah.

Tirta ini dipercaya dapat melindungi tanaman dari hama dan memastikan panen yang berhasil.

Pura Yeh Pulu berdiri di tengah sawah, di tepi sebuah tebing yang bersebelahan dengan aliran Tukad Patananu (Sungai Patanu).

Arah pemedal pura yang menghadap ke selatan menunjukkan bahwa pemedek (pengunjung) dahulu datang dari arah selatan dengan melewati Sungai Patanu.

Tirta Yeh Pulu juga sering digunakan untuk upacara malukat, yang bertujuan untuk membawa kesejahteraan dalam hidup.

Pura ini menjadi sthana (tempat suci) bagi Dewi Sri dan Dewa Wisnu.

Jero Mangku Kereg menyebutkan bahwa sebelum dibuatkan jalan di utara pura, pemedek harus melewati persawahan untuk mencapai pura yang berdiri di atas jurang.

Piodalan di Pura Yeh Pulu dilaksanakan setahun sekali pada Purnama Kasa, berlangsung selama tiga hari.

Pura ini diempon oleh 125 krama Subak Uma Telaga. Dalam piodalan, ada tiga pura di sekitar Yeh Pulu yang juga merayakan piodalan secara bersamaan, yaitu Pura Ulun Suwi, Pura Mengening, dan Pura Yeh Pulu.

Pura Ulun Suwi merupakan pusat linggih Ida Sasuhunan, yang dibuat dari beras dan disusun menyerupai dewa-dewi.

Pura Mengening digunakan sebagai tempat pasucian (pembersihan) sasuhunan dan peralatan yang akan digunakan dalam prosesi piodalan.

Pura Yeh Pulu sendiri digunakan untuk nunas tirta yang digunakan sebagai wangsuhpada.

Jero Mangku Kereg juga menceritakan tentang tradisi membersihkan beras sebagai sasuhunan sebanyak sebelas kali dalam prosesi pasucian, meskipun asal-usul angka sebelas ini belum diketahui pasti.

Tradisi ini diyakini dapat memastikan panen yang berhasil dan bebas dari gangguan hama.

Selain itu, Mangku Kereg juga mengungkapkan bahwa di area pura sering terdengar suara gambelan angklung pada hari-hari tertentu, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem.

Suara ini diyakini sebagai pertanda datangnya kesejahteraan bagi pengempon pura dan krama subak setempat. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #PURA YEH PULU #hindu #angklung