Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Barong Landung Sarat Makna Filosofis, Diyakini sebagai Penolak Bala

I Putu Mardika • Senin, 12 Agustus 2024 | 02:21 WIB

Barong Landung di Pura Dalem Balingkang
Barong Landung di Pura Dalem Balingkang
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu di Bali meyakini jika kekuatan Barong Landung mampu menetralisir energi negatif. Tak dipungkiri, Barong Landung sarat akan simbol dan makna filosofis.

Perwujudan tokoh yang laki-laki dengan muka seram berwarna hitam disebut Jero Gede. Sedangkan tokoh wanita dengan muka lucu (mata sipit, jidat dan pipi menonjol, kuping lebar) berwarna putih atau kuning disebut Jero Luh.

Dikatakan Pemangku Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Jro Mangku I Nengah Kadi menjelaskan Rambut Jero Gede (Barong Landung Laki-Laki) yang terurai hitam panjang dijadikan sebagai simbol, bahwa dalam menjalankan rangkaian kehidupan, manusia tidak dapat terlepas dari kepanasan hingga kekeringan.

Sementara itu rambut Jero Luh (Barong Landung Perempuan) yang disimbolkan dengan posisi disanggul, dilambangkan sebagai suasana hati yang sejuk, serta mampu menyejukkan udara yang panas dalam kehidupan.

“Simbol rambut Jero Gede dan Jero Luh menggambarkan keberadaan Barong Landung sebagai penjaga semesta beserta isinya. Melalui pemujaan simbol ini, umat pun berharap terwujudnya keseimbangan alam dan terhindar dari marabahaya,” jelasnya.

Mata Jero Gede (Barong Landung Laki-Laki) yang melotot, simbol maha melihat atau mengetahui, dapat memantau baik-buruk, benar-salah prilaku ciptaan-Nya di Bumi.

Jero Luh (Barong Landung Perempuan) bermata sipit dengan jidat menonjol (jantuk), simbol ketenangan dalam memikirkan apa yang harus dilakukan kala ada masalah.

Inti nilai yang dikandungnya, manusia harus bisa membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah, sehingga mampu menghadapi masalah dengan tenang dan menempatkan kebenaran, kebajikan di atas segala kebatilan, kesalahan.

Mulut Jero Gede (Barong Landung Laki-Laki) yang lebar dengan gigi tongos dan bertaring adalah simbol kemurkaan dan kegeraman dan kemahakuasaan.

Baca Juga: Keunikan Tempat Suci Hindu di Bali: Ada Misteri Suara Angklung Saat Hari-hari Tertentu di Pura Yeh Pulu

Sedangkan Jero Luh (Barong Landung Perempuan) tersenyum simpul, simbol kelembutan dan kehalusan budi atau hati.

Warna kulit Jero Gede (Barong Landung Laki-Laki) hitam dan Jero Luh (Barong Landung Perempuan) putih adalah simbol rwa bhineda yaitu dua unsur yang selalu bertentangan tetapi harus tetap berpasangan, yang akan melahirkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan.

Badan barong landung tinggi besar dengan salah satu tangan bertolak pinggang.

Hal ini merupakan simbol kegagah-beranian dalam menghadapi segala tantangan dan berbagai ancaman yang ingin mengancam keselamatan dan kedamaian masyarakat.

Pakaian barong landung, berbaju dengan lengan panjang, dan kain (wastra) serta selimut bawah (kampuh/saput) adalah simbol kematangan jiwa.

Gerak barong landung yang terbatas, hanya mengayunkan sebelah tangan saja, hanya menggelengkan kepala dan menggoyangkan badan saja adalah simbol keterbatasan yang ada pada setiap diri manusia.

Baca Juga: Pura Watu Klotok di Klungkung: Situs Suci Hindu Bali dengan Sejarah dan Keunikan Batu Makocel, Diyakini Tempat Mohon Keturunan

Sedangkan, gerakan keliling tempat suci dan upakara caru (kurban) sebanyak 3 kali yang sering dilakukan barong landung adalah simbol selalu awas dan selalu mengusir roh-roh jahat yang mengganggu lingkungan manusia.

“Hal ini menegaskan kembali fungsi barong landung sebagai makhluk mitologi penolak bala yang bersifat sakral, yang diyakini memiliki kekuatan gaib dalam melindungi pemujanya dari serangan roh-roh jahat,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#pura dalem balingkang #bali #Kintamani #Jayapangus #bangli #hindu #barong landung #pinggan #Kang Cing Wie