Dalam lontar Dharma Caruban, juga diberikan penjelasan mengenai rasa dalam mengolah makanan. Khususnya yang diberikan untuk santapan para Sulinggih sehingga tetap memperhatikan kesucian dan kandungan gizinya untuk kesehatan.
Dosen Universitas Hindu Denpasar, Ida Bagus Pura Sidemen menjelaskan, rasa olahan ini dibagi menjadi 6 (enam) rasa, disebut dengan sad rasa sesuai dengan macam olahan yang akan disuguhkan sebagai pelengkap upakara termasuk untuk Sang Wiku.
Disebutkan umat Hindu meyakini dari sad rasa tersebut adalah Dharma Wiku olahan yang memiliki rasa lawana atau asin.
Olahan ini berupa urab yang berwarna putih, biasanya disuguhkan disamping untuk upakara juga untuk para Wiku.
Baca Juga: Umat Hindu Wajib Tahu! Ini Deretan Makanan yang pantang Dipersembahkan untuk Sulinggih
“Beliau boleh menyantap ikan-ikan kecil yang diasinkan. Tetapi bukan ikan yang besar, dan tidak berlebihan rasa asinnya. Karena pertimbangannya juga kesehatan,” sebutnya.
Ada juga masakan jenis Bima Krodha, olahan yang memiliki rasa ketuka atau pedas. Olahan ini berupa lawar berwarna merah, selain untuk upakara juga bisa untuk di konsumsi bagi semua orang kecuali Wiku.
“Bima Krodha ini kalau terlalu pedas, diberikan kepada Sulinggih, tentu tidak baik untuk Kesehatan. Karena Sulinggih rata-rata secara usia beliau sudah lingsir atau tua,” paparnya.
Jayeng Satru, rasa olahan yang dibuat memilik rasa kesaya atau sepet, dimana olahan ini berupa gegecok /penyon berwarna kuning, disuguhkan untuk bahan upakara dan para Wiku.
Kemudian olahan Gagar Mayang, olahan yang dibuat memiliki rasa tikta atau pahit, biasanya olahan ini berupa gegode berwarna hijau disuguhkan untuk upakara dan para Wiku.
Nyunyur Manis, rasa olahan yang dibuat memiliki rasa madhura atau manis. Dimana olahan ini berupa olahan campuran berwarna brumbun, disuguhkan untuk upakara dan juga bisa bagi semua orang kecuali Sang Wiku.
“Kalau Ida Sulinggih kan disarankan jangan terlalu banyak makanan yang manis, karena beresiko memiliki kandungan gula yang tinggi,” sebutnya.
Galang Kangin, adalah rasa olahan yang dibuat dengan memiliki rasa amla atau masam (asam), olahan ini berupa penyon.
Olahan ini dibuat dari buah belimbing yang diiris tipis dan telah masak, dicampur kalas, berisi daging halus yang telah di masak, disuguhkan untuk upakara dan juga boleh untuk Sang Wiku.
“Karena setelah menjadi seorang Sulinggih tidak boleh meminta makanan atau merequest, apa yang dipersembahkan, itulah yang beliau santap. Maka dari itu, tugas sang Yajamana yang memperhatikan suguhan itu agar benar-benar bisa disantap sesuai dengan silakrama dan aman secara Kesehatan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika