Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menelusuri Sejarah Cakepung Karangasem: Kesenian Unik dari Akulturasi Budaya Bali dan Lombok

I Made Mertawan • Kamis, 15 Agustus 2024 | 22:38 WIB
CAKEPUNG : Seni tradisi Cakepung, Sanggar Seni Citta Wistara, Banjar Dinas Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem saat pentas di Art Center, Rabu (6/7) lalu.
CAKEPUNG : Seni tradisi Cakepung, Sanggar Seni Citta Wistara, Banjar Dinas Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem saat pentas di Art Center, Rabu (6/7) lalu.

BALIEXPRESS.ID- Di Kabupaten Karangasem, Bali, terdapat kesenian unik yang dikenal sebagai Cakepung.

Kesenian Cakepung masih dilestarikan di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem.

Dikutip dari website Disbudpar Karangasem, diterangkan bahwa Cakepung merupakan sebuah kesenian teater bertutur yang memadukan unsur musik, vokal, tari, sastra, dan teater.

Berakar dari akulturasi budaya antara Karangasem dan Lombok, kesenian ini biasanya menampilkan cerita rakyat seperti lakon Panji.

Sejarah Cakepung di Karangasem dapat ditelusuri kembali ke masa ketika Kerajaan Karangasem menaklukkan Kerajaan Selaparang di Lombok Timur dan Kerajaan Pejanggik di Lombok Tengah pada akhir abad ke-17.

Raja Karangasem yang berkuasa saat itu ingin membawa seni Cepung atau Sasakan dari Lombok ke Karangasem.

Tiga seniman dari Budakeling dipilih untuk mempelajarinya dan lanjut mengajarkan seni ini yang kemudian dikenal sebagai Cakepung.

Hingga saat ini, belum ada sumber pasti yang dapat mengonfirmasi secara akurat asal-usul nama Cakepung.

Namun dari beberapa informasi, nama Cakepung ini berasal dari peniruan suara gamelan yang berbunyi "cak...pung, cak...pung".

Bunyi tersebut kemudian ditambahkan huruf "e" menjadi "cakepung".

Ada pula pendapat lain yang mengaitkan nama Cakepung dengan kata "jagkepung" yang berarti mengejar terus.

Hal ini dianalogikan dengan ungkapan-ungkapan yang sering dilontarkan para pemain Cakepung dalam pertunjukan, seperti "celekik", "seruit", dan "seriung" yang menggambarkan situasi pertempuran.

Pada tahun 1920-an, tokoh penting Cakepung, Ida Wayan Tangi, mengembangkan kesenian ini.

Tembang-tembang sesasakan dikembangkan dengan beberapa lagu pengecek.

Ia juga menciptakan lagu-lagu seperti Cakepung Umbara, Semarandana, dan Baris Kupu-Kupu.

Namun perjalanan Cakepung tidak selalu mulus. Seiring berjalannya waktu, kesenian ini sempat mengalami penurunan popularitas karena kesulitan dalam mempelajarinya dan kecenderungan masyarakat untuk beralih ke hiburan modern yang lebih mudah dicerna.

Penggunaan bahasa Sasak dan aturan main yang rumit menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda.

Namun demikian, Cakepung berhasil bertahan dan dilestarikan hingga saat ini.

Kesenian ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2019. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Cakepung #sejarah #karangasem #lombok