BALIEXPRESS.ID - Umat Hindu di Bali sering menempuh jalur niskala untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Terutama untuk mengatasi penyakit non medis.
Banyak tempat yang biasanya dituju untuk nunas tamba atau obat ketika diserang penyakit non medis.
Mulai dari pura atau tempat suci Hindu Bali, hingga beji atau tempat melukat yang diyakini bisa memberikan kesembuhan.
Berikut adalah rekomendasi tiga tempat yang diyakini sebagai tempat nunas tamba di Bali:
1. Pura Tirtha Harum di Serangan: Tempat Suci yang Penuh Aura Magis dan Dikenal Angker
Pura Tirtha Harum, yang berlokasi di kawasan Serangan, Denpasar, dikenal sebagai salah satu Pura Swagina yang penuh aura magis dan dianggap angker.
Terletak di tengah hutan, perjalanan menuju pura ini sudah menyiratkan kesan mistis, karena pamedek harus menyusuri jalan yang membelah kawasan hutan sebelum tiba di tempat suci ini.
Pura Tirtha Harum sering menjadi tujuan masyarakat yang memohon berkah pengobatan atau "matetamban."
Banyak orang yang datang untuk memohon kesembuhan dengan cara malukat di segara yang berada tidak jauh dari lingkungan pura.
"Intinya percaya kepada Tuhan bahwa di sini adalah jalan kesembuhan, pemangku hanya menjembatani saja," ujar Jro Mangku Tirtha Harum, Pemangku Pura Tirtha Harum, dalam wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (19/1/2017).
Pura ini juga menjadi saksi dari berbagai kejadian aneh yang dialami oleh Jro Mangku sendiri.
Suatu hari, Jro Mangku menemukan seekor ular kobra di dalam Klenteng, meskipun tidak ada celah yang memungkinkan binatang masuk.
Karena tidak berani menangkap ular tersebut sendirian, Jro Mangku menutup pintu dan memanggil temannya.
Namun, ketika mereka kembali dan membuka pintu, ular itu sudah menghilang, dan beberapa guci di dalam Klenteng ditemukan pecah.
Tanpa berprasangka buruk, Jro Mangku menganggap kejadian tersebut sebagai ancangan Bhatara yang sedang melancaran atau berjalan-jalan.
Beberapa hari setelah kejadian tersebut, genta milik Jro Mangku hilang.
"Mungkin ular kobra tersebut merupakan pertanda, namun saya tidak memperhatikannya dan tidak kepikiran ke sana," imbuhnya.
Sebagai tempat suci yang angker, di Pura Tirtha Harum terdapat aturan ketat untuk tidak memetik daun atau bagian pohon sembarangan tanpa permisi.
Konon, pernah ada seseorang yang memetik daun di madya mandala pura tanpa izin, dan seketika itu juga orang tersebut menjadi kaku dan tidak bisa bergerak.
Setelah dimohonkan kepada Bhatara yang berstana di Pura Tirtha Harum, orang tersebut akhirnya bisa kembali normal.
"Jangan macam-macam dengan gumi Serangan, Serangan itu aura magisnya tinggi," tutur Jro Mangku.
Dengan segala keunikan dan aura mistisnya, Pura Tirtha Harum menjadi salah satu tempat suci di Bali yang penuh dengan cerita dan misteri, menarik bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual atau sekadar ingin merasakan keagungan tempat ini.
2. Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat: Tempat Suci Pengantar Roh dan Sumber Anugerah di Tabanan
Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat, yang berstana di Banjar Adat Tanah Pegat, Desa Gubug, Kecamatan Tabanan, tidak hanya dikenal sebagai tempat suci yang pemurah, tetapi juga diyakini sebagai pengantar roh ke sunialoka.
Oleh karena itu, banyak umat yang datang untuk "nunas wangsuhpada," menjadikan tirta ini sebagai bagian penting dalam prosesi pengabenan yang digelar warga setempat.
Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat sering memberikan anugerah dalam berbagai bentuk, termasuk perlindungan terhadap dunia pertanian, khususnya dalam menghalau hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman para petani.
Selain itu, banyak umat yang datang untuk "nunas tamba" atau memohon penyembuhan dari berbagai penyakit yang mereka derita.
“Sering kali ada pemedek yang tangkil untuk memohon kesembuhan dari penyakit yang dideritanya,” kata I Ketut Mudra, tokoh warga pengempon Khayangan Jagat Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat.
Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat juga dikenal sebagai pengantar roh dalam prosesi pengabenan, terutama yang berlangsung di Puri atau Jero di Tabanan.
Keunikan Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat terletak pada kemampuannya untuk hadir langsung di lokasi prosesi ngaben, di mana umat percaya bahwa beliau adalah pengantar roh menuju sunialoka.
Umat yang meyakini hal ini datang ke pura untuk nunas wangsuhpada, menjadikan tirta ini sebagai pemuput dalam prosesi pengabenan.
Hal ini membuat Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat bebas dari unsur "sebel" atau "cuntaka."
Menurut Mudra, hal ini sangat berbeda dengan pura lainnya, di mana biasanya Ida Sasuhunan yang berstana tidak berkenan jika Khayangan-Nya dimasuki oleh umat yang sedang dalam kondisi cuntaka akibat kematian.
"Kalau di sini, Ida tidak terkena sebel atau cuntaka," ujar Mudra.
Penampilan Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat menyerupai Barong Landung, dengan busana yang sangat unik dan menunjukkan kesederhanaan.
Jika biasanya Jro Gede atau tapakan lainnya menggunakan busana berbahan kain, Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat justru mengenakan busana dari bahan "kaping," sejenis karung plastik.
Meski belum ada sejarah tertulis atau babad yang ditemukan mengenai Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat, umat tidak berani mengganti busana beliau dengan bahan lain.
"Kami mewarisi sudah seperti itu, mulai dari busana Ida yang berbahan kaping, dan hingga saat ini, Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat tidak berkenan jika busananya diganti dengan bahan lain," tambah Mudra.
Pujawali Khayangan Jagat Jero Gede Tanah Pegat jatuh pada setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, tepatnya pada Hari Raya Kuningan.
Pura ini berdiri di atas lahan seluas tiga are, yang baru dipindah beberapa tahun lalu dengan dana yang bersumber dari punia umat.
Sebagai sebuah Khayangan Jagat, pura ini tidak hanya didatangi oleh pemedek dari sekitar Desa Gubug, tetapi juga dari berbagai pelosok Tabanan dan luar Tabanan.
Pada hari-hari biasa, banyak pemedek yang tangkil untuk nunas tirta pemuput pengabenan, memohon keberhasilan dalam pertanian, kerukunan dalam keluarga, hingga meminta kesembuhan dari penyakit.
Dengan semua keunikan dan kekuatan spiritualnya, Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat menjadi salah satu tempat suci yang sangat dihormati di Bali.
3. Pesona Pohon Kayu Putih Raksasa di Tabanan: Tempat Meditasi Favorit Wisatawan Lokal dan Mancanegara
Keberadaan Pohon Kayu Putih raksasa di Banjar Bayan, Desa Tua, Marga, Tabanan, Bali, mampu memikat siapa pun yang melihatnya.
Pohon dengan ukuran yang luar biasa ini tidak hanya mencuri perhatian dengan bentuknya yang unik, tetapi juga dengan aura yang kuat, menjadikannya sebagai tempat favorit untuk meditasi.
Banyak pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, yang datang khusus untuk merasakan energi positif dari pohon ini.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung menyebut pohon raksasa ini sebagai sesuatu yang mirip dengan pohon dalam cerita dongeng.
Namun, lebih dari sekadar bentuknya, energi yang dipancarkan oleh Pohon Kayu Putih inilah yang membuat mereka terpesona dan ingin melakukan meditasi di lokasi ini.
“Wisatawan yang datang langsung merasakan energi dari pohon ini, sehingga mereka meminta untuk bermeditasi di sini,” ujar I Made Kurnawijaya, pengempon Pura Babakan, pura yang berada di sebelah Pohon Kayu Putih.
Kurnawijaya menceritakan bahwa beberapa waktu lalu, sekelompok wisatawan yang berjumlah 10 orang mengunjungi pohon ini dan melakukan meditasi.
“Mereka sangat takjub melihat pohon tersebut. Bahkan, mereka mencium akar pohon, dan menurut guidenya, mereka merasakan aura dan energi yang sangat kuat dari pohon itu,” tambahnya.
Selain sebagai tempat meditasi, Pohon Kayu Putih ini juga dipercaya oleh warga setempat sebagai sumber pengobatan tradisional.
Banyak warga yang datang untuk "nunas tamba" atau meminta kesembuhan dengan mengambil serpihan batang pohon tersebut.
Menurut keyakinan warga, serpihan tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit, meski hasilnya tetap bergantung pada keyakinan masing-masing individu.
Daun dari pohon ini juga sering digunakan sebagai sarana upacara Mebayuh.
“Tidak hanya warga Banjar Bayan yang mempercayai khasiatnya, banyak juga warga dari luar Banjar yang datang untuk nunas tamba,” ungkap Kurnawijaya.
Keunikan lain yang diceritakan oleh Kurnawijaya adalah akar pohon ini yang menjalar hingga ke ujung Banjar Bayan.
Hal ini diketahui saat beberapa warga menemukan akar besar saat menggali tanah untuk membangun rumah.
“Akar pohon ini seakan menandai dan melindungi wilayah Banjar Bayan, jadi ketika ada warga yang menggali tanah untuk membangun rumah, mereka menemukan akar besar yang dipercaya sebagai akar dari pohon ini,” jelasnya.
Pohon Kayu Putih raksasa ini terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru, baik lokal maupun mancanegara.
Untuk melihat pohon ini lebih dekat, pengunjung tidak dipungut biaya, hanya diminta untuk memberikan donasi suka rela di kotak yang telah disediakan.
Wisatawan yang ingin bermeditasi juga tidak perlu khawatir karena warga sekitar telah menyiapkan sesajen Upakara yang dapat dihaturkan di Pura Babakan.
Sebelum melakukan berbagai aktivitas di pohon raksasa ini, disarankan untuk terlebih dahulu memohon izin di pura tersebut.
Dengan pesonanya yang luar biasa dan keunikan yang dimiliki, Pohon Kayu Putih di Banjar Bayan menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang ingin merasakan kedamaian dan energi alam yang luar biasa. ***
Editor : I Putu Suyatra