Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Sembarangan, Pembuat Sarana Sarad Harus Disucikan, Wajib cari Dewasa saat Pembuatan

I Putu Mardika • Selasa, 20 Agustus 2024 | 04:07 WIB

Pembuatan sarana sarad dalam ritual wajib memperhatikan dewasa atau hari baik
Pembuatan sarana sarad dalam ritual wajib memperhatikan dewasa atau hari baik
BALIEXPRESS.ID-Proses pembuatan Sarad atau proses menghias kerangka Sarad yang digunakan dalam Upacara biasanya diawali dengan mencari hari baik atau padewasan untuk memulai pertama pengerjaan ngawit kekaryanan. Tujuannya agar pengerjaan berjalan lancar hingga mendapat hasil yang maksimal.

Dikatakan Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, hari baik dalam proses pembuatan Sarad sebaiknya dilaksanakan lima hari sebelum hari acara Yadnya dilaksanakan.

Maksudnya agar kondisi Sarad yang akan dipergunakan masih terlihat baik dan indah, dikarenakan bahan dasar pembuatan Sarad adalah adonan tepung.

“Adonan tepung tersebut jika sudah dibentuk serta direkatkan pada kerangka Sarad. Bila terlalu lama ditempatkan pada tempat yang tidak teduh serta hangat maka adonan yang sudah dibentuk tersebut bisa berisikan jamur dan warnanya akan sedikit memudar,” bebernya.

Proses pertama pembuatan Sarad diawali oleh seorang Undagi Sarad (pembuat Sarad) dengan mengaturkan satu daksina ke taksu undagi. Selanjutnya adalah penyucian diri orang-orang yang membuat Sarad.

Proses ini bertujuan untuk menjaga kesucian serta fokus dari seorang pembuat Sarad. Sehingga proses pembuatan Sarad menjadi lancar dan kesucian dari Sarad tersebut terjaga hingga puncak acara.

Baca Juga: Bukan Hiasan, Begini Asal Usul Sarad, Sering dipersembahkan dalam Upacara Besar, Sarad Simbol Tri Loka

Ada dua tahapan utama didalam proses pembuatan Sarad. Tahap pertama dilakukan pembuatan rangka atau kerangka Sarad, di dalam proses ini bahan yang digunakan adalah kayu albesia yang berukuran 3 x 5 dengan panjang 4 meter.

Beberapa kayu albesia di potong sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan.

Setelah proses tersebut kayu albesia tersebut di rangkai dengan sedemikan rupa sehingga terbentuk kerangka Sarad yang terdiri dari tiga Palih (tingkatan), yang pertama palih dasar atau bagaian dari kaki dasar Sarad, kedua palih pengawak Sarad terdiri dari bagian pedawang, serta palih Gajah, serta pengawak (badan) bagian ketiga adalah bagian kekayonan.

Setelah ketiga bagaian tersebut selesai, sebagai pelengkap atau hiyasan dari kerangaka pengawak dan kerangka kekayonan, di buat hiasan atau ornamen-ornamennya.

Tahap kedua, adonan tepung untuk pembuatan Sarad terdiri dari campuran tepung beras jadi dengan tempung ketan, komposisi campuran tepung beras dengan tepung ketan untuk adonan Sarad ini adalah 5 bungkus tepung beras dengan 1 bungkus tempung ketan.

Semua komposisi tepung beras serta tepung ketan tersebut dicapur menjadi satu di dalam wadah baskom besar, setelah proses tersebut selesai adonan tepung tersebut dituang air panas sehingga adonan menjadi setengah matang.

Proses selanjutnya adalah pemberian warna pada adonan tempung, warna yang digunkan adalah pewarna makanan.

“Warna yang diperlukan berjumlah sepuluh warna diantaranya warna putih, warna kuning, warna merah muda, warna merah tua, warna ungu, warna biru, warna hijau, warna hitam, warna abu-abu,” ungkapnya.

Proses penyampuran adonan dengan setiap warna tersebut biasanya di sebut dengan Ngulet, proses penyampuran atau ngulet ini dikerjakan oleh perempuan atau ibu-ibu.

Baca Juga: Keunikan Pura Dalem Gede Kebon di Buduk, Bali: Tempat Sakral Umat Hindu dengan Berbagai Ritual dan Sumur Bertuah Tempat Nunas Tamba

Setelah proses ini selesai, selanjutnya proses menghiyas ornamen-ornamen dengan adonan tepung sesuai warna yang sudah ditentukan.

“Adonan dibentuk sesuai ornamen atau patung yang berisikan ukiran kemudian dipahat atau diberikan goresan berpola dengan alat khusus yaitu terbuat dari bekas tempat spidol yang diruncingkan, setelah proses dipahat ornamen Sarad tersebut masuk dalam proses akhir yaitu digoreng dalam wajan besar,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #sarad #dewasa #hindu #tepung #undagi