BALIEXPRESS.ID
Mitos yang berkembang menjadi cerita rakyat mengisahkan bahwa kondisi ini adalah akibat kutukan dari Sri Maharaja Jayapangus, yang konon terjadi karena warga Bengkala menolak berbagai pajak yang ditetapkan, sehingga mereka melakukan perlawanan dengan mogok bicara dan bekerja.
Sebelum mendalami lebih jauh tentang kisah warga Kolok Bengkala, Penyarikan Desa Adat Bengkala, Ketut Darpa, menjelaskan tentang asal-usul nama Bengkala dari segi etimologi kepada Bali Express (Jawa Pos Group). Menurutnya, nama Bengkala berasal dari kata "Bang" yang berarti merah, dan "Kala" yang berarti waktu.
Menurut cerita yang diwariskan para tetua, ada sekelompok penjarah dari luar Bali yang bertanya namun tidak dijawab karena kemungkinan ada kendala bahasa.
Diduga, karena kesal, penjarah tersebut mengutuk penduduk setempat dan menamai desa itu "Bang Kala," karena kutukan itu terjadi saat matahari berwarna merah di ufuk barat. Ini adalah versi mitologi asal-usul nama desa tersebut.
Versi lain menyebutkan bahwa masyarakat Bengkala adalah kelompok nomaden yang selalu berpindah-pindah sebelum menetap di Bengkala dan menjadi tetangga Desa Batu Pimula, yang kini dikenal sebagai Desa Bila.
Leluhur mereka sering diajak untuk adu babi oleh penduduk Desa Batu Pimula. Saat itu, Desa Bengkala terletak di bagian bawah (utara) Desa Bila, dan wilayahnya disebutkan hingga Prasasti Kelandis.
Saat adu babi, Desa Batu Pimula mengeluarkan "bangkal" atau induk babi, sementara warga Bengkala membawa "kucit" atau anak babi. Saat diadu, kucit itu segera mencari bangkal untuk menyusu, sehingga bangkal tersebut lari, dan dari situlah nama Bengkala konon berasal.
Sebagai simbol peristiwa tersebut, di Desa Bengkala terdapat pelinggih Ratu Bawi di Pura Puseh, yang digunakan saat upacara nedeh. Para arkeolog yang meneliti patung ini menyimpulkan bahwa ini adalah Arca Nandi, simbol lingga Siwa.
Bentuk pelinggihnya menyerupai babi, dan masyarakat yang memiliki ternak babi sering meminta berkah di pelinggih Ratu Bawi ini agar ternak mereka sehat.
Mengenai keberadaan warga Kolok di Bengkala, Darpa merujuk pada Prasasti Bengkala yang memuat informasi bahwa warga desa diperlakukan tidak adil oleh petugas pemungut pajak kerajaan Indrapura, terutama setiap bulan cetra (sasih kesanga), di mana mereka diwajibkan membayar 27 jenis pajak.
Akibat perlakuan tidak adil ini, warga Bengkala melawan dengan menolak perintah raja. Mereka tidak menghormati, tidak mau bekerja, dan tidak mau berbicara, yang dianggap sebagai bentuk mogok.
Sebagai akibat dari perlawanan ini, Raja marah dan mengutuk mereka menjadi kolok selama seribu tahun.
Empat perwakilan dari Bengkala kemudian dipanggil ke Kerajaan Indrapura untuk menghadap Maharaja. Mereka menyampaikan keluhan dan menyerahkan prasasti, sehingga Bengkala diakui sebagai desa mandiri.
Darpa tidak berani memastikan apakah kutukan Maharaja tersebut yang menyebabkan masyarakat Bengkala menjadi kolok. Namun, kutukan itu mungkin ada kaitannya, mengingat suara raja pada masa itu dianggap sebagai suara Tuhan.
Keberadaan warga Kolok di Bengkala juga dikaji secara ilmiah. Penelitian medis yang dilakukan oleh John Hinan dari Universitas Archipelago, Amerika Serikat pada tahun 1993 menunjukkan bahwa ada kemungkinan kelainan ini diturunkan secara genetik di kalangan masyarakat Bengkala.
Penelitian tahun 1995 dan 1998 menemukan bahwa kelainan pendengaran yang dialami warga Kolok di Bengkala merupakan kelainan genetik bawaan sejak lahir, yang berarti bahwa pasangan normal dapat melahirkan anak kolok, dan sebaliknya, pasangan kolok tidak selalu melahirkan anak kolok. Saat ini, terdapat 44 warga Kolok di Bengkala, terdiri dari 24 perempuan dan 20 laki-laki.
Meskipun mengalami disabilitas, warga Kolok di Bengkala tidak mengalami diskriminasi. Mereka tetap diakui sebagai warga desa dan diberikan tugas khusus sesuai dengan Awig-Awig yang dibuat oleh Krama Bengkala.
Ketut Darpa juga menjelaskan bahwa komunikasi antara warga normal dan warga Kolok berjalan harmonis, tanpa hambatan. Di Bengkala bahkan telah dibangun sekolah dasar inklusi yang memberikan kesempatan pendidikan formal bagi penyandang disabilitas. Beberapa warga Kolok melanjutkan pendidikan ke SMP di SLB Singaraja dan SMA di Denpasar.
Dalam bidang pekerjaan, mereka terlibat di berbagai bidang seperti perkebunan, buruh, dan pertukangan, serta memiliki keahlian khusus seperti membuat jamu dan menenun. Mereka juga dikenal kreatif dan tidak mengandalkan belas kasihan.
Warga Kolok menjadi ikon di Bengkala, terutama dalam bidang seni seperti Janger Kolok, yang diciptakan oleh maestro Bapa Nedeng.
Dalam hal keagamaan, warga Kolok memiliki tugas khusus yang tidak boleh digantikan oleh warga normal, seperti saat pujawali di pura kahyangan tiga, mereka bertanggung jawab dalam persiapan sarana upacara, termasuk memasak dan menyiapkan peralatan.
Selain itu, mereka juga bertugas untuk membuat rajon, yaitu tempat untuk mencampur dan menyajikan lawar, dan mencari air jika aliran air terputus.
Jika ada kematian di Bengkala, warga Kolok turun-temurun bertanggung jawab untuk menggali kuburan dan membersihkan areal kuburan setelah upacara selesai.
Editor : I Putu Mardika