Sulinggih ada ketentuan berdasarkan kualifikasi atau berdasarkan kemampuan. Pertama,Ada Sulingguh bertugas sebagai acarya dan ngelokapalasraya. Artinya, selain sebagai muput upacara dengan berbagai pengetahuan keagamaan, Sulinggih juga memberikan dharma wacana atau dharma tula.
Kemudian ada juga Sulinggih yang menjalankan ngelokapala sraya saja, sehingga bertugas muput upacara. Pengetahuannya sangat mumpuni dalam muput upacara. Namun tidak melaksanakan atau memberikan dharma wacana, karena berkaitan kemampuan public speaking
Ketiga, ada sulinggih ngeraga, yang ngetut yasa atau menjalankan apa yang dilakukan oleh leluhurnya. Sehingga beliau hanya menjalankan nyurya sewana, etika, hanya saja tidak ngelokapalasraya dan menjalankan dharma wacana.
Ida Bagus Purwa Sidemen, Dosen Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Denpasar menjelaskan ditinjau dari Kualifikasi dan kemampuannya Wiku atau juga disebut Sadaka dapat dibedakan atas Wiku Acharya, Wiku dengan kualifikasi atau kemampuan yang disebut Wiku Acharya atau Dang Acharya adalah Wiku yang dalam melaksanakan tugas-tugasnya bagi umat, selain memimpin sebuah upacara sekaligus sebagai penuntun umat dalam bentuk Dharma Wacana.
Wiku pradnyan seperti ini juga disebut Wiku Wibhuh, yaitu Wiku Utama di masyarakat. Selain menjalankan lokapalasraya /ngelokapalasraya, Wiku dengan kemampuan seperti ini juga menjalankan tugas membimbing umat dalam hal kerohanian atau pendalaman penghayatan nilai-nilai keagamaan.
Wiku Lokapalasraya, Wiku yang memiliki kemampuan ngelokapalasraya, mempunyai kemampuan muput upacara atau sebagai pemimpin dalam sebuah upacara agama (Hindu).
Perhatian dan keahlian beliau hanya dipusatkan pada hal-hal yang terkait dalam pelaksanaan sebuah upacara (yadnya) sehingga kurang memiliki kesempatan untuk melaksanakan fungsi dan tugas kawikon lainnya.
Wiku Ngeraga, adalah seorang Wiku yang tujuannya semata-mata untuk menyucikan dirinya sendiri atau sifatnya individual. Beliau tidak menjalan tugas seperti Wiku Acharya maupun Wiku Lokapalasraya.
Dalam hal ini yang dijadikan sebagai tolok ukurnya adalah beliau hanya berorientasi ngetut yasa (menjalankan tugas leluhur) saja dan menjaga kesucian dirinya sendiri. Lebih lanjut, menurut Buku Tuntunan Sulinggih karya Ida Pedanda Raka Klaci dan Lontar Purbha Somi sesana Wiku dapat dibedakan atas 12 jenis.
Wiku Panjer, Wiku yang tekun dalam melaksanakan kewajiban (siang dan malam) dengan tujuan untuk mendapatkan dana punia, banyak memiliki sisya. Wiku ini sangat aktif dan giat bekerja.
Wiku Cendana, Wiku yang senantiasa berpegangan pada sastra, memperhatikan candi prasada dengan maksud dan tujuan berguna kepada Dewa Parameswara dan berhasil memiliki ilmu yang utama.
“Beliau tidak terpuaskan menjadi sulinggih yang biasa biasa saja. Karena terus beburu pengetahuan,” sebutnya.
Wiku Ambeng adalah Wiku yang bepergian keluar daerah bahkan keluar negeri (melalui jalur darat, laut, dan udara) bersama para pengikutnya atau para pedagang, dengan maksud dan tujuan untuk menyebarkan dan bahkan menjual ilmu pengetahuannya.
“Beliau datang ke suatu tempat, atas ilmu yang beliau sharing, maka ada penghargaan, timbal balik. Sepanjang beliau tidak meminta dan tidak mematok tarifnya itu adalah sah-sah saja,” paparnya.
Wiku Pangkon, hanya bertujuan untuk mengejar atau memiliki ilmu yang sangat tinggi, dengan hanya memuja kepada Tuhan/Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Wiku Palang Pasir, Wiku yang mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan kepada orang lain, pengikut, atau umatnya (masyarakat) dengan tujuan memikat hati dan menempatkan dirinya sebagai Guru Yoga.
Wiku Sabha Wukir, Wiku yang senantiasa berbuat baik atau membuat kebaikan dengan memberi petunjuk jalan bagi roh (atma) seseorang yang meninggal dunia karena beliau memerlukan harta kekayaan seperti emas, perak, uang.
“Jadi ingin mendapatkan kekayaan, kalau itu menjadi indikasinya maka itu disebut Wiku Sabha Wukir,” ungkapnya.
Wiku Senghara, Wiku yang megawini (menikahi) wanita walaka. “Ini tidak diharapkan, karena walaupun beliau menjadi sulinggih, misalnya sulinggih istri meninggal, maka tidak menjadikan Hasrat birahinya untuk menikahi Wanita walaka,” ungkapnya.
Wiku Grohita, Wiku yang memiliki Guru Nabe lebih dari satu. Jangan sampai nanaknya berguru di tempat lain, dan tidak percaya dengan nabenya. Sehingga disarankan tidak lebih dari satu nabe.
Wiku Brahmacari, Wiku yang sejak kecil hingga lanjut usia tidak melakukan hubungan seksual atau menikah (Suklabrahmacari), tidak mementingkan dirinya sendiri dan harta benda, dan hidup sederhana serta bebas dari suka dan dalam pergaulan di masyarakat.
“Jadi beliau tidak menikah dari kecil, tidak banci, tidak lemah kemaluannya. Jadi dari lahir sampai meninggal tidak pernah menikah,” paparnya.
Wiku Grhasta, Wiku yang hidup berkeluarga, beristri, dan berputra, tinggal di desa dan hidup sederhana bersama masyarakat, menerima tamu, melakukan pemujaan (homa), berbhakti kepada para Dewa (Tuhan), teguh melakukan tapa yoga semadi, memimpin upacara yadnya, senang menolong orang dan selalu berbuat kebajikan.
Wiku Wanaprasta, Wiku yang dalam hidupnya tinggal di hutan, berbhakti kepada para Dewa (Tuhan), melakukan tapa yoga semadi, memantapkan ilmu filsafat dan kebatinan, mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siapapun yang memohonnya.
Wiku Sanyasa, Wiku yang senantiasa memperdalam dalam ilmu kesusastraan, ahli dalam filsafat, hidup mengembara, selalu melakukan tugas tapa yoga semadi, rajin berderma, berbuat kebajikan, dan menjadi penuntun umat.
“Beliau mengabdikan diri hanya untuk mencapai moksa dan kelepasan. Jadi tidak terikat dengan hal-hal keduniawiaan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika