Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Ritual Hindu Bali, Nangluk Mrana: Arti dan Makna Upacara Sakral Penangkal Hama yang Dilaksanakan Petani

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 23 Agustus 2024 | 02:11 WIB

 

Ritual Hindu Bali, Nangluk Merana
Ritual Hindu Bali, Nangluk Merana

BALIEXPRESS.ID - Para petani di Bali memiliki cara unik untuk melindungi tanaman mereka dari serangan penyakit dan hama yang sering mengancam hasil panen.

Salah satu ritual sakral yang mereka jalankan adalah upacara Nangluk Mrana. Ritual Hindu Bali ini dipercaya mampu menangkal segala gangguan, baik dari hama maupun penyakit yang menyerang lahan pertanian.

Jero Mangku I Made Ngastra, Pemangku Pura Masceti, menjelaskan bahwa Nangluk Mrana adalah upacara penangkal yang digelar di persawahan.

“Upacara ini bertujuan agar rencangan di sawah tidak krodha atau membuat onar,” jelasnya saat diwawancarai oleh Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya di Banjar Mas, Sayan, Ubud, Gianyar.

Menurut Jero Mangku Ngastra, nama Nangluk Mrana berasal dari bahasa Bali dan Sansekerta.

‘Nangluk’ berarti tanggul atau penghalang, sementara ‘mrana’ merujuk pada hama dan penyakit.

Ritual ini, lanjutnya, dimaksudkan agar rencangan, atau pengawal alam niskala, memberikan perlindungan, bukan justru mengganggu tanaman di sawah.

“Jika kita tidak bersyukur, rencangan seperti tikus dan penyakit padi akan menyerang para petani di subak,” tambah pria berusia 44 tahun ini.

Nangluk Mrana biasanya dilaksanakan rutin pada bulan keenam dalam kalender Bali.

Di desa-desa pakraman, upacara ini ditandai dengan penyiratan tirta dari laut di area pekarangan, serta pemasangan tunggul bambu berisi pandan di perbatasan desa sebagai penghalang bala atau hal-hal jahat yang mungkin masuk.

Di area persawahan, upacara Nangluk Mrana dikenal dengan sebutan pinunas ngungsi, yaitu memberikan sesajen agar sawah terhindar dari hama dan rencangan tidak membuat onar.

Ritual ini dilaksanakan setahun sekali, dengan menggunakan banten pajati yang berisi tipat dampulan dan dilanjutkan dengan persembahan di Pura Masceti atau Pura Ulun Suwi.

Sesajen yang digunakan juga unik, seperti wong-wong (berbentuk manusia), mepindan meng (berbentuk kucing), dan meng injin (kucing hitam), yang dihaturkan di palinggih di sawah.

Selain itu, ada juga tumpeng danan, daging babi mentah, pisang mas mentah, jagung bakar, singkong, dan umbi talas rebus sebagai sodan (makanan) untuk Jero Ketut (Tikus) agar tidak membuat onar.

Keunikan ritual ini semakin menarik saat Jero Mangku Ngastra menceritakan kejadian mistis selama bertugas di Pura Masceti, yang terletak di tengah persawahan.

Kadang muncul binatang besar seperti ular, belalang, dan tikus sebagai pertanda rencangan dari persawahan atau Pura Masceti.

"Jika ada upacara dengan sesajen yang kurang, rencangan ini akan muncul di area pura," ujarnya.

Untuk memohon maaf atas kekurangan tersebut, para petani subak akan melaksanakan upacara nebusin setiap enam bulan sekali, ditandai dengan penghaturan banten panebusan yang penuh dengan tipat nasi.

Ritual-ritual ini tidak hanya menjaga tanaman, tetapi juga melestarikan hubungan harmonis antara manusia dan alam. *** 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #petani #Nangluk Merana #hindu