BALIEXPRESS.ID - Setelah Hari Suci Galungan, umat Hindu Bali kembali merayakan Hari Suci Kuningan sepuluh hari kemudian.
Perayaan ini selalu identik dengan pembuatan Nasi Kuning, namun, apa sebenarnya makna di balik Hari Suci Kuningan bagi umat Hindu Bali?
Hari Suci Kuningan dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, sepuluh hari setelah Galungan.
Di balik perayaan ini, tersembunyi makna filosofis yang dalam, terkait kehidupan semua makhluk di alam semesta.
Asal Usul Kata Kuningan: Lebih dari Sekadar Warna
Kata "Kuningan" berasal dari kata "Kuning" yang tidak hanya merujuk pada warna, tetapi juga memiliki arti "amertha," simbol kehidupan.
Ada juga yang mengartikan "Kuningan" dari kata "Keuningan," yang bermakna ingat atau kepradnyanan (kebijaksanaan).
"Secara filosofis, Kuningan adalah momen bagi umat Hindu untuk memohon amertha kepradnyanan dan selalu ingat kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Mahadewa," jelas Ida Pedanda Gde Menara Putra Kekeran kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Mengapa Hari Suci Kuningan Hanya Dirayakan Sampai Siang Hari?
Hari Suci Kuningan memiliki ketentuan waktu yang unik. Upacara harus selesai sebelum pukul 12.00 siang, karena setelah waktu tersebut, para Dewata-Dewati diyakini sudah kembali ke Kahyangan.
Simbol-Simbol Unik dalam Upacara Kuningan: Apa Maknanya?
Pelaksanaan Hari Suci Kuningan menggunakan berbagai uperengga (pelengkap) upakara yang berbeda dari hari-hari suci lainnya.
Tamiang, Andong, Ter (Panah), Tebog, Sampian Gantung, dan Salanggi, semuanya memiliki makna simbolis yang dalam.
Tamiang, misalnya, berbentuk seperti tameng, yang merupakan perlindungan terhadap musuh.
Musuh di sini bukan hanya ancaman luar, tetapi juga diri sendiri dan aura negatif. Tamiang juga sering diibaratkan sebagai roda alam yang berputar, mencerminkan kehidupan yang selalu bergerak dan berubah.
Ada juga Endongan, yang dimaknai sebagai wadah untuk perbekalan.
Dalam kehidupan, manusia memerlukan bekal berupa ilmu pengetahuan dan ketajaman pikiran, yang disimbolkan oleh panah (ter).
Tebog dan Nasi Kuning: Simbol Amertha dan Kemakmuran
Pada Hari Kuningan, umat Hindu biasanya membuat Tebog, yang di dalamnya terdapat Nasi Kuning sebagai simbol Amertha (kehidupan abadi), Kacang Botor sebagai simbol Tapa, Daun Intaran sebagai simbol kemakmuran, dan berbagai simbol lainnya yang menggambarkan anugerah Tuhan.
Salah satu simbol penting lainnya adalah Selanggi, yang melambangkan kekuatan Sang Hyang Tri Purusa, yang membawa keteguhan iman, kesucian, dan kemakmuran kepada umat manusia.
Hari Suci Kuningan: Ucapan Syukur dan Penghormatan kepada Tuhan
Hari Suci Kuningan bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk syukur umat Hindu kepada Tuhan atas segala berkat dan karunia di dunia. Inilah alasan mengapa upacara untuk kendaraan dan berbagai karunia Tuhan dilaksanakan pada hari ini.
"Mengucapkan syukur dan memohon berkat adalah inti dari Hari Suci Kuningan," tambah Ida Pedanda Gde Menara Putra Kekeran. ***
Editor : I Putu Suyatra