Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Pura Ponjok Batu di Bali: Dari Batu Bertumpuk hingga Pusat Spiritualitas yang Dipercaya Bawa Kesuksesan serta Larangan Membunuh Binatang

I Putu Mardika • Jumat, 23 Agustus 2024 | 17:39 WIB
Pura Ponjok Batu di Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali
Pura Ponjok Batu di Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali

BALIEXPRESS.ID - Pura Ponjok Batu di Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, menyimpan sejarah panjang yang penuh misteri.

Pura yang menjadi salah satu tempat suci Hindu Bali, ini bermula dari sebuah tumpukan batu sederhana yang disusun oleh leluhur setempat.

Kini, pura tersebut menjadi pusat persembahyangan yang ramai dikunjungi, tak hanya oleh warga lokal tetapi juga oleh mereka yang mencari kesuksesan dan ingin melunasi sesangi (nazar).

Jero Mangku Bagus Merpati, salah satu pemangku Pura Ponjok Batu, menjelaskan bahwa nama lengkap pura ini adalah Ponjok Batu Purwa Sidhi.

"Ponjok Batu berarti tumpukan batu, sedangkan Purwa Sidhi adalah anugerah dari Tuhan," ungkapnya saat diwawancarai pekan lalu.

Pura ini dikenal sebagai tempat untuk memohon kesuksesan, dan banyak pamedek (umat yang bersembahyang) yang datang untuk menghaturkan banten naur sesangi setelah permohonannya terkabul.

Namun, terdapat pantangan khusus yang berlaku di pura ini, yaitu larangan melaksanakan kegiatan membunuh binatang selama periode Menging, yang berlangsung selama 15 hari dari tilem menuju purnama.

Jika pantangan ini dilanggar oleh warga setempat, mereka akan dikenakan sanksi adat berupa menghaturkan banten guru piduka di jeroan pura saat piodalan berlangsung.

Selama Menging, seluruh bajra (lonceng) pemangku juga dikereb (ditutup) sebagai simbol pembersihan sebelum upacara piodalan dilaksanakan.

Menariknya, sebelum pura ini menjadi megah seperti sekarang, dulu hanya terdapat tiga buah palinggih (bangunan suci) di pinggir pantai.

Pada tahun 1993, dilakukan perluasan dan pembangunan sehingga pura ini kini terdiri dari tiga mandala dengan padma yang lengkap.

Pura Ponjok Batu juga menjadi tempat pelaksanaan upacara pembersihan bagi bayi yang berumur satu bulan tujuh hari, agar mereka bisa melaksanakan persembahyangan kembali.

Pura ini diempon (diurus) oleh belasan Banjar di Kecamatan Tejakula, dengan piodalan yang dilaksanakan tepat pada sasih kaulu (bulan kedelapan dalam kalender Bali).

Tidak hanya warga setempat, bahkan masyarakat dari Kintamani juga datang untuk melaksanakan mlasti (upacara penyucian).

Akses menuju Pura Ponjok Batu pun sangat mudah. Hanya dengan mengikuti Jalan Raya Singaraja - Karangasem, pengunjung akan tiba di depan pura dalam waktu sekitar tiga jam dari Denpasar.

Sesampainya di pura, umat diwajibkan melaksanakan matur piuning (mohon izin) dan disirami tirta panglukatan oleh pemangku sebelum memasuki area pura.

Seorang pamedek, I Wayan Pindah, yang baru pertama kali nangkil (bersembahyang) ke Pura Ponjok Batu, mengaku terkesan dengan sejarah dan suasana di pura yang terletak di pinggir pantai ini.

"Ini pertama kali saya ke sini, selain untuk sembahyang, juga ingin mengetahui sejarah Pura Ponjok Batu," ujarnya.

Dengan keunikan dan sejarahnya yang kaya, Pura Ponjok Batu menjadi salah satu destinasi spiritual yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Bali. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #tilem #hindu #sejarah #Pura Ponjok Batu #buleleng #purnama