BALIEXPRESS.ID - Pura Ponjok Batu di Desa Adat Bangkah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, menyimpan beragam kisah spiritual yang penuh misteri.
Salah satu kisah menarik datang dari Jero Mangku Bagus Merpati, seorang pemangku Hindu Bali yang kerap mendapat pawisik (bisikan gaib) melalui mimpi.
Pengalaman ini tak hanya menggetarkan hati, tetapi juga membawa pesan penting yang tak boleh diabaikan.
Dalam wawancara dengan Bali Express, Jero Mangku Merpati mengisahkan bagaimana dirinya beberapa kali bermimpi untuk malukat (ritual pembersihan diri) di sebuah panglukatan yang terletak di jaba sisi Pura Ponjok Batu.
Yang mengejutkan, ketika ia mendatangi lokasi tersebut, semua yang ia lihat dalam mimpi ternyata persis seperti kenyataan.
"Mimpi itu terasa nyata, mulai dari malukat di pantai hingga tirta air tawar, semuanya persis sama dengan yang saya alami saat di pura," ujarnya.
Jero Mangku Merpati percaya bahwa mimpi tersebut adalah tuntunan dari Sasuhunan, dan karena itu ia segera melakukan ritual malukat.
"Mungkin saya sudah dianggap kurang bersih, makanya dapat mimpi seperti itu yang akhirnya menjadi kenyataan," jelasnya.
Ritual malukat ini dikenal sebagai Tirta Campuhan, karena merupakan pertemuan antara dua sumber mata air—air laut dan air tawar.
"Tirta Campuhan dipercaya mampu membersihkan segala macam penyakit secara niskala (gaib) atau kekotoran dalam diri manusia," tambahnya.
Tak heran, banyak umat Hindu Bali datang untuk melaksanakan ritual ini terutama pada hari-hari suci seperti tilem dan purnama.
Namun, kisah misteri tidak berhenti di situ.
Jero Mangku Merpati juga mengaku pernah melihat penampakan gaib di sekitar panglukatan.
Ia menceritakan bagaimana ia menyaksikan rencang Ida Sasuhunan berupa naga besar dan seekor macan yang diyakini sebagai penjaga pura secara niskala.
"Penampakan ini biasanya muncul jika ada kesalahan dalam pelaksanaan upacara atau tindakan yang tidak tepat saat pujawali," ungkapnya.
Kisah lain yang menambah aura mistis di Pura Ponjok Batu adalah karauhan (kesurupan) yang dialami oleh beberapa warga setempat saat pujawali.
Hal ini diduga terjadi karena ada kekeliruan dalam pemilihan tokoh adat yang tidak sesuai dengan petunjuk gaib dari Pura Ponjok Batu.
"Setelah beberapa bulan, muncul karauhan yang menandakan ada kesalahan. Maka, saat itu juga, tokoh adat yang dipilih diganti sesuai petunjuk dari Sasuhunan," jelasnya.
Menariknya, Pura Ponjok Batu dijaga oleh 30 pemangku yang secara bergilir ngayah (bertugas) selama 24 jam.
"Setiap hari, enam jero mangku bertugas, tiga orang di siang hari dan tiga lainnya di sore hari," ujar Jero Mangku Budiada, salah satu pemangku yang juga berperan penting dalam menjaga kesucian pura ini.
Kisah-kisah penuh misteri ini menjadikan Pura Ponjok Batu bukan sekadar tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai pusat spiritual yang menyimpan banyak rahasia yang hingga kini masih belum sepenuhnya terungkap. ***