BALIEXPRESS.ID - Banten Bebangkit, salah satu sarana upacara adat Hindu yang paling sakral di Bali, mengandung berbagai simbol dan makna mendalam.
Di dalamnya terdapat komponen yang dikenal sebagai Tetandingan Pucuk Bahu, yang ternyata memiliki arti yang sangat penting bagi umat Hindu.
Apa sebenarnya makna di balik nama ini, dan bagaimana peranannya dalam setiap upacara besar?
Pucuk Bahu: Simbol Kewajiban dan Permohonan Kekuatan Sattyam
Pucuk Bahu, yang berasal dari kata "pucuk" (titik tertinggi) dan "bahu" (kewajiban), memiliki makna mendalam sebagai simbol permohonan umat kepada Sang Hyang Widi untuk dianugerahi kekuatan Sattyam.
Kekuatan ini diharapkan akan membantu umat selalu mengingat dan melaksanakan kewajibannya sesuai dengan swadharma masing-masing.
"Pucuk Bahu mengingatkan kita untuk selalu menjalankan kewajiban dengan benar," jelas I Kadek Satria, Ketua Pasraman Pasir Ukir.
Tetandingan Siwa Bahu: Permohonan Kekuatan Seni dan Budaya
Selain Pucuk Bahu, ada juga Tetandingan Siwa Bahu dalam Banten Bebangkit.
Tetandingan ini melambangkan permohonan agar Sang Hyang Widi menganugerahkan kekuatan Siwa Nataraja—simbol seni dan budaya.
Kekuatan ini diyakini dapat menjaga keharmonisan antara Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (diri manusia).
"Umat berharap Tuhan memberi kita citta, rasa, karsa, dan karya, sehingga kita bisa terus melestarikan seni dan budaya, sejalan dengan perkembangan zaman," ungkap Kadek Satria.
Banten Bebangkit: Sarana Memanggil Dewi Durga dalam Upacara Besar
Tidak hanya itu, Banten Bebangkit juga memiliki peran penting dalam upacara besar, khususnya sebagai sarana untuk mengundang kehadiran Dewi Durga.
Upacara yang menggunakan Banten Bebangkit biasanya berskala besar dan wajib dipimpin oleh seorang Sulinggih, yang dianggap sebagai perwakilan Dewa Siwa di dunia.
"Sulinggih adalah satu-satunya yang berhak memanggil Dewi Durga untuk menyaksikan upacara ini," tambah Kadek Satria.
Keistimewaan Upacara dengan Banten Bebangkit
Upacara yang menggunakan Banten Bebangkit biasanya berlangsung di Pura Khayangan Tiga atau pura-pura besar lainnya.
Karena banten ini termasuk dalam Yadnya tingkat Utama, penggunaannya menunjukkan tingginya sakralitas dan pentingnya upacara yang dilaksanakan.
Ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebuah penghormatan besar kepada para dewa.
Dengan segala simbol dan makna yang terkandung di dalamnya, Banten Bebangkit bukan hanya sekadar persembahan biasa, tetapi juga sebuah sarana yang menghubungkan umat dengan kekuatan spiritual yang lebih tinggi.
Setiap elemen di dalamnya, termasuk Pucuk Bahu dan Siwa Bahu, memberikan pelajaran berharga tentang kewajiban, seni, budaya, dan spiritualitas.
Upacara besar dengan Banten Bebangkit, yang dipimpin oleh seorang Sulinggih, adalah momen penting di mana umat berharap mendapatkan anugerah dan perlindungan dari para dewa. ***
Editor : I Putu Suyatra