BALIEXPRESS.ID - Pura Goa Gong, salah satu tempat suci Hindu Bali di Banjar Batu Mongkong, Desa Jimbaran, Kabupaten Badung, bukan hanya dikenal karena keindahan lanskapnya dari atas Bukit Jimbaran, tetapi juga karena sejumlah cerita misterius yang melingkupinya.
Meskipun tampak sederhana secara fisik, pura ini menyimpan kisah-kisah yang penuh keajaiban dan keunikan.
Legenda Naga dan Suara Gong yang Menyihir
Menurut Pemangku Pura Goa Gong, Jro Mangku Ketut Sukanta, pura ini terkait erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha ke Uluwatu.
Dalam perjalanannya, Dang Hyang Nirartha mendengar suara gong yang bergetar dari jauh.
Penasaran dengan sumber suara tersebut, beliau mengikuti arah suara dan bertemu dengan dua naga, satu berwarna kuning dan satu merah, yang tampaknya mencoba menghalangi jalannya.
“Naga-naga ini sebenarnya ingin mendapatkan panyupatan dari Dang Hyang Nirartha agar bisa segera menuju sunia loka,” jelas Mangku Sukanta.
Naga-naga tersebut tidak hanya menghadang perjalanan tetapi juga meminta agar Dang Hyang Nirartha melakukan panyupatan agar mereka bisa mencapai tempat yang mereka tuju.
Dalam pertemuan ini, Dang Hyang Nirartha menyetujui permintaan mereka dengan syarat, yaitu naga-naga tersebut harus menjaga Pura Goa Gong dan berstana di sana sebagai Raja dan Ratu Wong Samar.
Kunjungan Misterius ke Goa dan Pembangunan Pura Uluwatu
Setelah panyupatan selesai, Dang Hyang Nirartha melanjutkan perjalanannya ke suara gong yang berlanjut.
Suara tersebut ternyata berasal dari dalam goa di puncak bukit.
Saat tiba di goa, suara gong mendadak berhenti.
Dang Hyang Nirartha memasuki goa dan mulai beryoga di atas sebuah batu, di mana muncul sumber air berwarna-warni.
Selama masa yoga-nya, banyak wong samar yang menunggu untuk mendapatkan panyupatan.
Beliau kemudian meminta bantuan mereka untuk membangun Pura Luhur Uluwatu.
Pura Goa Gong: Tempat Pemujaan dan Persembunyian Sejarah
Pura Goa Gong juga memiliki sejarah penting sebagai tempat persembunyian I Gusti Ngurah Maruti, Raja Klungkung, selama pemberontakan besar.
Di sini, beliau melakukan pemujaan dan ngrastiti bakti, menerima keris Binang Kukus sebagai anugerah dari Ida Wayan Petung Gading, penguasa Bali Selatan.
Pengaruh Budha dan Aura Magis
Pura ini juga memiliki daya tarik bagi umat Buddha. Selain pemujaan terhadap Dang Hyang Dwijendra, ada juga palinggih Dewi Kwan Im dan Ratu Mas Manik Subandar.
Hal ini membuat Pura Goa Gong menjadi tempat kunjungan umat Buddha, terutama pada hari-hari besar mereka.
Fenomena Alam dan Ritual
Piodalan di Pura Goa Gong diadakan setiap enam bulan sekali pada Soma Pon Wuku Sinta atau Soma Ribek.
Pada saat tersebut, konon suara gong kembali terdengar secara gaib di pura ini.
Menariknya, tebing-goa di sekitar pura dilengkapi dengan stalaktit yang meneteskan air suci, menghilangkan kebutuhan akan air tirtha dari rumah.
“Fenomena ini sangat unik, mengingat bukit di atas pura adalah kapur yang sangat kering. Dari mana bisa ada sumber air?” kata Mangku Sukanta.
Pura Goa Gong menawarkan lebih dari sekadar keindahan alam; ia adalah tempat penuh misteri, sejarah, dan keajaiban spiritual yang menarik perhatian banyak orang. ***