Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

AJAIB! Tempat Suci Hindu Bali di Tengah Kota Denpasar Ini Punya Sumber Air Abadi di Dalam Guci yang Tak Pernah Habis: Ada Juga Batu Keluarkan Asap

I Putu Suyatra • Sabtu, 24 Agustus 2024 | 15:21 WIB
Guci yang berisi Air Abadi di Pura Watu Geni, Denpasar, Bali.
Guci yang berisi Air Abadi di Pura Watu Geni, Denpasar, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Di tengah hingar-bingar Kota Denpasar, tersembunyi sebuah pura atau tempat suci Hindu Bali yang menyimpan keajaiban dan misteri tersendiri. Namanya Pura Pucak Watu Geni.

Tidak seperti kebanyakan tempat malukat yang terletak di pancoran, sungai, laut, atau Pura Beji yang biasanya berada di ujung desa, pura ini justru terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Buluh Indah, Gang Nuansa Indah Selatan, Denpasar, Bali.

Namun, menemukan pura ini tidaklah mudah, karena lokasinya tersembunyi di antara perumahan.

Yang membuat Pura Pucak Watu Geni semakin istimewa adalah sumber air yang digunakan untuk panglukatan.

Bukan berasal dari aliran sungai atau mata air alami, melainkan dari sebuah guci batu yang airnya dijuluki "air abadi" karena tak pernah habis, seolah-olah menyimpan keajaiban tersendiri.

Menurut Jro Mangku Gede Made Kartasna, pemangku Pura Pucak Watu Geni, nama pura ini berasal dari penemuan sebuah batu besar yang mengeluarkan api.

"Pucak" berarti ujung, "Watu" berarti batu, dan "Geni" berarti api.

Dengan panjang sekitar lima meter, batu ini menjadi cikal bakal berdirinya pura.

Di dekatnya, terdapat sebuah batu berbentuk guci dengan lubang berdiameter sekitar 50 cm, yang menyimpan air abadi tersebut.

Setiap tahunnya, saat pergantian dari Hari Saraswati ke Hari Banyu Pinaruh, pelaksanaan panglukatan di pura ini menjadi sebuah ritual yang tak boleh dilewatkan.

Ritual ini dimulai tepat pada pukul 00.05, di mana diyakini bahwa pada saat itu Ida Bhatara yang berstana di Pura Pucak Watu Geni ingin menyucikan umat-Nya.

Tradisi ini dijalankan berdasarkan petunjuk spiritual yang diterima oleh pemangku pura.

Meski umat diperbolehkan melukat kapan saja, mereka diwajibkan menyiapkan sarana upacara sendiri berupa dua buah pejati.

Namun, saat malam Banyu Pinaruh, cukup membawa canang, karena segala persiapan sudah disediakan oleh pangempon pura.

Setelah upacara selesai, semua yang hadir akan disuguhkan tipat dengan lauk ayam betutu sebagai tanda syukur.

Pura ini juga memiliki beberapa palinggih utama, termasuk Padmasana setinggi 12 meter, dan stana untuk Ida Bhatara Cakti Pancering Jagat, Ratu Ayu Mas Melanting, dan Ratu Niang.

Di Madya Mandala, terdapat palinggih untuk Ida Bhatari Manik Galih, Dewi Kwan Im, dan Ratu Mas Manik Subandar.

Pura ini diyakini sebagai tempat yang harus dikunjungi sebelum melakukan perjalanan spiritual ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida.

Tak heran jika banyak umat, termasuk pedagang dan pengusaha, yang tangkil untuk memohon berkah dan kemakmuran.

Pada saat piodalan yang dilaksanakan setiap tahun pada Purnama Sasih Kapat, batu besar yang menjadi asal mula pura ini sering kali mengeluarkan asap misterius.

Sebagai pura yang dulunya berada di tengah persawahan, Pura Pucak Watu Geni dikenal masyarakat sekitar sebagai Pura Pangulun Sawah.

Hingga kini, setiap ada yang ingin membangun di sekitar kawasan pura, mereka pasti mohon izin di pura ini.

Keunikan lainnya, pura ini selalu terbuka 24 jam tanpa terkunci.

"Ida Bhatara tidak berkenan pintu menuju pura dikunci," ujar Jro Mangku Kartana.

Sebuah keajaiban lainnya yang membuat Pura Pucak Watu Geni semakin penuh misteri dan menarik untuk dikunjungi. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#melukat #bali #dewi kwan im #Saraswati #Ratu Niang #Pura Watu Geni #Pura Dalem Ped #Ida Bhatari Manik Galih #hindu #denpasar #Ratu Ayu Mas Melanting #Air Abadi #Ratu Mas Manik Subandar