BALIEXPRESS.ID - Upacara Pawetonan atau Otonan dan Napak Sithi, yang juga dikenal sebagai upacara turun ke tanah, merupakan kelanjutan dari tradisi tiga bulanan yang sangat sakral bagi umat Hindu Bali.
Dilaksanakan saat bayi menginjak usia 210 hari, upacara ini menyimpan makna mendalam yang menarik untuk diungkap.
Bagaimana sebenarnya makna di balik tradisi kuno ini?
Asal Usul Otonan: Jejak Kuno dalam Sejarah
Kata "Otonan" berasal dari bahasa Jawa kuno, yaitu 'wetu' atau 'metu', yang berarti keluar, lahir, atau menjelma.
Transformasi kata ini menunjukkan bagaimana tradisi lahir dari akar budaya yang kuat.
"Otonan" pada dasarnya adalah peringatan kelahiran yang unik, berbeda dengan konsep ulang tahun dalam kalender Masehi.
Mengapa berbeda? Ini dikarenakan perhitungan otonan didasarkan pada sistem kalender Bali yang menghitung siklus 210 hari atau setiap enam bulan sekali.
Simbolisme yang Dalam: Upacara yang Penuh Makna
Otonan pertama bagi seorang bayi biasanya dilaksanakan saat ia berusia 105 hari, ketika organ tubuhnya dianggap sudah berkembang sempurna.
"Ritual ini bukan hanya sekedar tradisi, tetapi juga sebuah upaya untuk memurnikan jiwa bayi dari pengaruh negatif," kata Mangku I Wayan Satra.
Bayi yang belum di-otonan-kan dianggap belum suci, yang menunjukkan betapa pentingnya upacara ini dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali.
Perspektif Duniawi dan Filsafat Agama
Upacara ini tidak hanya dipandang dari sudut pandang duniawi, di mana bayi boleh diturunkan ke tanah setelah enam bulan, tetapi juga dari perspektif filsafat agama yang lebih mendalam.
Angka 210 hari, yang menjadi pedoman pelaksanaan Otonan, merujuk pada angka Samkhya—sebuah simbol dari mulai aktifnya Tri Pramana (Bayu, Sabda, dan Idep) dalam diri bayi.
Dalam konteks ini, Otonan dan Napak Sithi adalah permohonan agar bayi mendapatkan perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi.
Kesederhanaan yang Sarat Nilai
Meskipun Otonan sering kali dilakukan dengan sederhana, nilai spiritualnya sangatlah mendalam.
Tidak perlu membuat upacara yang besar dan mewah, yang terpenting adalah makna rohani yang terkandung di dalamnya.
Otonan harus mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih santun, hormat, dan bijaksana, mencerminkan esensi dari ajaran Hindu yang sejati.
Napak Sithi: Langkah Pertama di Bumi
Ritual Napak Sithi, di mana bayi pertama kali menyentuh tanah, adalah momen yang sangat sakral.
Prosesi ini melibatkan berbagai simbol seperti Rerajahan Badawang Nala, Sangkar Ayam, dan Yuyu, yang masing-masing memiliki makna mendalam dalam kehidupan spiritual.
"Yang memegang bayi dalam upacara ini haruslah seorang anak yang giginya belum tanggal, melambangkan kesucian dan pikiran yang murni," jelas Mangku I Wayan Satra.
Tradisi Otonan dan Napak Sithi adalah lebih dari sekadar ritual; ini adalah sebuah cerminan dari kedalaman spiritual dan kebijaksanaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam upacara ini, terletak pesan yang kuat tentang kesucian, perlindungan, dan kebijaksanaan yang harus dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Ritual ini tidak hanya memperingati kelahiran, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual. ***
Editor : I Putu Suyatra