Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prosesi Ngerehang dalam Tradisi Hindu Bali: Ritual Sakral di Atas Lokasi Pembakaran Mayat Saat Tengah Malam Jadi Rahasia 'Kehidupan' Sasuhunan

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Agustus 2024 | 16:14 WIB
Prosesi Ngerehang yang dilaksanakan umat Hindu Bali.
Prosesi Ngerehang yang dilaksanakan umat Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Di balik setiap Barong, Rangda, dan tapakan yang dihormati di desa-desa Hindu Bali, tersembunyi sebuah prosesi sakral yang disebut Ngerehang.

Sebelum Sasuhunan dilinggihkan di pura atau tempat suci Hindu Bali, ritual ini harus dilaksanakan untuk memberikan "urip" atau nyawa kepada sosok yang akan disembah dan dijaga oleh masyarakat desa.

Ngerehang bukanlah upacara sembarangan. Seperti diungkapkan oleh Ida Ratu Peranda Gede Diksa Manuaba, seorang ahli spiritual Hindu dari Griya Babakan, Marga, Tabanan, prosesi ini sering dilakukan di setra (kuburan) dengan tujuan memperoleh restu dari Dewa Banaspati Raja.

Ritual ini diawali dengan nunas taru, yaitu pencarian kayu tapakan yang nantinya akan digunakan untuk membuat ulang Sasuhunan.

Kayu tersebut harus diperoleh tanpa menebang pohon, hanya dengan mengambil bagian yang telah jatuh, dalam sebuah prosesi yang disebut ngepel.

"Kayu tapakan harus diperoleh dari pura atau setra, dan prosesnya harus dipimpin oleh seorang undagi, atau jika memungkinkan, seorang peranda," jelas Peranda Gede.

Nuasen, yaitu upacara untuk memilih hari baik dan memulai pengerjaan Sasuhunan, dilakukan di pura.

Setelahnya, dilakukan prosesi ngodak, atau renovasi Sasuhunan, agar tampilannya menjadi baru kembali.

Puncaknya adalah prosesi ngaratep, yaitu penyatuan prarai (wajah) dengan badan Sasuhunan, yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian.

Namun, yang paling menarik dari seluruh rangkaian upacara ini adalah prosesi Ngerehang itu sendiri, yang dilaksanakan tepat pada tengah malam di tanah pamuunan, tempat pembakaran mayat.

Pedanda Gede menjelaskan bahwa rambut Sasuhunan yang akan diupacarai harus bersentuhan dengan tanah pamuunan, simbol dari penghubungan dengan kekuatan gaib.

Banten yang digunakan dalam upacara ini juga memiliki makna mendalam, seperti pragembal bebangkit, tebasan nawa sanga, dan lambang Cakra Geni Dharma Wiku, yang semuanya ditempatkan dalam pepaga.

Prosesi Ngerehang dilaksanakan pada tengah malam, pukul 00.00, untuk mendapatkan kesaktian dari Sang Hyang Baerawi dan Siwa Tangkara.

Tanda keberhasilan prosesi ini sering kali ditandai dengan fenomena gaib, seperti munculnya api dari langit yang menyambar Sasuhunan.

“Saat tanda-tanda seperti itu muncul, maka prosesi Ngerehang dianggap berhasil,” ungkap Pedanda Gede.

Pedanda Gede juga berbagi pengalaman mendebarkan saat melaksanakan Ngerehang di kuburan.

Banyak krama desa yang ikut dalam prosesi ini kerap melarikan diri karena takut ketika melihat api beterbangan menuju tanah pamuunan.

Namun, meskipun suasana mencekam, prosesi Ngerehang tetap dilanjutkan hingga selesai.

Setelah semua prosesi selesai, Sasuhunan seperti Barong segera dibawa ke pura untuk dilinggihkan dan diupacarai lebih lanjut.

Tujuan dari Ngerehang, seperti yang dijelaskan oleh Pedanda Gede, adalah untuk memberikan kehidupan kepada Sasuhunan, yang akan menjadi penjaga desa dan manifestasi dari Tuhan yang disembah bersama oleh masyarakat.

Akhirnya, Ngerehang bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan misteri dan keajaiban.

Bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang prosesi ini, Ngerehang adalah cerminan dari bagaimana masyarakat Bali menghormati dan menjaga warisan spiritual mereka. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Ngodak #nuasen #setra #rangda #hindu #ngerehang #ngaratep #barong