Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali yang Unik di Desa Sengkidu: Ngusaba Sambah, Dilarang Pakai Alas Kaki Masuk Pura

I Putu Suyatra • Senin, 26 Agustus 2024 | 02:40 WIB
Salah satu tradisi unik Hindu Bali di Desa Sengkidu  adalah Ngusaba Sambah
Salah satu tradisi unik Hindu Bali di Desa Sengkidu adalah Ngusaba Sambah

BALIEXPRESS.ID - Setiap Purnama Sasih Kalima, Desa Sengkidu Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem merayakan salah satu tradisi Hindu Bali terpenting mereka, Ngusaba Sambah atau usaba sambah.

Salah satu tradisi unik Hindu Bali ini berlangsung selama lima hari dan menarik perhatian dengan serangkaian ritual yang penuh makna, termasuk tarian keris dan acara ngurek, di mana peserta menusuk badan dengan keris.

Tokoh Adat Desa Sengkidu, Jero Mangku Nyoman Wage, mengungkapkan bahwa peserta yang terlibat dalam ngurek hanya mengenakan pakaian tradisional seperti onying dan membawa keris yang disiapkan oleh desa.

“Ketika mereka ketedunang (kesurupan), biasanya akan berlari menuju jaba tengah pura dan langsung melakukan tindakan ngurek,” jelas Wage saat diwawancarai oleh Bali Express.

Ngusaba Sambah mirip dengan sebuah jempana yang terbuat dari janur muda dan dihias menyerupai asagan (tempat banten).

Upacara ini diyakini sebagai tempat bersemayamnya Dewa Segara dan Ida Bhatara Majapahit.

Dalam hiasannya terdapat palagantung dan sesajen, serta kerbau yang telah disembelih.

Warga diingatkan untuk tidak menggunakan alas kaki saat memasuki area pura selama upacara berlangsung, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.

“Pantangan ini tidak hanya berlaku untuk warga lokal tetapi juga bagi pengunjung dari luar desa. Kami ingin menanamkan rasa kebersamaan dan menghormati kepercayaan kami,” kata Wage.

Meskipun tidak ada sanksi resmi, pelanggaran terhadap aturan ini bisa berakibat pada rasa malu atau bahkan kejaran simbolis dari para peserta upacara.

Ngusaba Sambah dibagi menjadi dua jenis pelaksanaan: Alit (kecil) untuk tahun ganjil, dan Nadi (besar) untuk tahun genap.

Upacara ini diawali dengan nedunang (turunnya) Ida Bhatara, diikuti dengan ngias (berhias) dan masuciang (pembersihan).

Pada hari kedua, upacara fokus pada naur sesangi (membayar utang) dan nyujukang (pendirian) Sambah di jaba tengah pura.

Hari ketiga adalah puncak dari Ngusaba Sambah, di mana pelaksanaan tarian keris (daratan) dimulai.

Semua peserta yang akan ikut serta diharapkan untuk tidak memakai alas kaki. Proses ini dikenal dengan nama panyuud (penyelesaian) dan menandai akhir dari upacara.

Warga yang merantau juga biasanya pulang untuk mengikuti Ngusaba Sambah, menunjukkan betapa pentingnya upacara ini bagi komunitas.

Setelah seluruh prosesi tarian selesai, banten atau canang dihaturkan di Sang Hyang Sambah, diikuti dengan persembahyangan bersama.

Enam prosesi utama dalam Ngusaba Sambah termasuk Usaba Melis, Panyujukan, Penampahan, Pangeramen, Panyuud, dan Nyimpen.

“Panyuud adalah momen untuk mengarak Sang Hyang Sambah di sekitar jaba pura, yang kemudian dilanjutkan dengan Nyimpen,” jelas Wage.

Salah seorang warga setempat, Nyoman Gita, mengungkapkan, "Saya selalu pulang setiap tahun saat Ngusaba Sambah. Selain untuk beribadah, saya juga menikmati tarian wewalen di pura."

Jika Anda penasaran dengan keunikan Ngusaba Sambah, kunjungi Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Karangasem pada Purnama Sasih Kalima.

Perjalanan dari Kota Denpasar memakan waktu sekitar satu setengah jam melewati Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, menuju timur ke pusat pemerintahan Kecamatan Manggis, dan lanjutkan ke Desa Sengkidu.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan upacara yang mempesona ini! ***  

Editor : I Putu Suyatra
#Sengkidu #bali #hindu #ngurek #karangasem #usaba sambah #tradisi