BALIEXPRESS.ID - Di balik keindahan alam Gianyar, Bali tersembunyi sejumlah candi dan goa yang diyakini sebagai tempat bertapa pada zaman kerajaan dahulu.
Salah satunya adalah Candi Tebing yang terletak di Banjar Jukut Paku, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud.
Tempat ini memiliki nilai historis dan spiritual yang tak ternilai, terutama karena digunakan oleh Maharesi Markandhya sebagai tempat beryoga.
Menurut Ida Bagus Putra Pudharta, seorang tokoh warga setempat, Maharesi Markandhya datang dari arah selatan mengikuti aliran Sungai Wos dan memilih Candi Tebing sebagai tempat peristirahatan untuk bertapa.
"Beliau dan rombongannya melalui jalur ini untuk menuju Pura Gunung Lebah di Ubud, dan memutuskan untuk beristirahat sambil membangun tempat beryoga di Candi Tebing," ungkap Pudharta yang juga seorang pensiunan Guru Agama Hindu.
Candi Tebing, yang berada tepat di pinggir Sungai Wos, masih mempertahankan suasana asri yang memikat.
Lokasi ini mudah diakses, hanya sekitar 45 menit dari Pusat Kota Denpasar.
Dari Patung Barong Batubulan, pengunjung cukup menyusuri Jalan Payangan - Denpasar hingga tiba di Desa Tebongkang, Singakerta.
Dari sana, papan nama Cagar Budaya Candi Tebing Jukut Paku akan menuntun pengunjung menuju situs bersejarah ini.
Pudharta juga menjelaskan bahwa Candi Tebing berkaitan erat dengan Pura Penataran di atasnya, serta Goa Raksasa di dekat Pura Gunung Lebah dan Pura Tirta di Desa Negari, Singapadu, Sukawati.
"Ketiganya saling berkaitan, merupakan satu jalur yang dilalui oleh Maharesi Markandhya saat itu," jelasnya.
Candi Tebing diyakini sebagai tempat pemujaan Siwa Guru dan Ista Dewata, dibangun pada abad ke-8 masehi sebagai wihara yang menjadi pusat spiritual.
Warga setempat sering menggunakan air dari pancuran di area Candi Tebing untuk berbagai upacara, termasuk tirta pamayuh yang diyakini mampu menyucikan seseorang dari segala keburukan saat otonan (hari lahir).
Selain itu, tempat ini juga sering dikunjungi oleh mereka yang mendalami spiritualitas, terutama saat malam hari untuk bermeditasi.
Meskipun belum ada bukti nyata mengenai khasiat magis dari air di Candi Tebing, kepercayaan masyarakat terhadap kekuatan spiritual tempat ini tetap kuat.
Setiap tahun, dua kali pacaruan dilaksanakan untuk membersihkan kawasan suci ini, terutama menjelang piodalan pada Anggara Kasih Medangsia dan Sasih Kasanga.
Masyarakat Desa Adat Singakerta, yang terdiri dari enam banjar, secara rutin menyungsung tempat ini.
Gusti Made Wijayana, tokoh Jukut Paku, menyatakan bahwa upaya penataan ulang areal Candi Tebing sedang berlangsung, meski masih terkendala dana.
"Kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menata dengan baik areal sekitar Candi Tebing karena potensinya sebagai objek wisata spiritual sangat besar," ujarnya.
Dengan segala kekayaan sejarah dan spiritualnya, Candi Tebing bukan sekadar tempat bertapa di masa lalu, tetapi juga saksi bisu perjalanan spiritual yang masih hidup hingga kini. ***
Editor : I Putu Suyatra