Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Posisi Tidur Umat Hindu Bali Diatur dalam Kitab Nitisastra: Berikut Penjelasannya karena Ini Bisa Mempengaruhi Hindup Anda

I Putu Suyatra • Rabu, 28 Agustus 2024 | 01:11 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID - Bali, dengan adat istiadatnya yang kental, tetap mempertahankan tradisi Hindu dari generasi ke generasi. Bahkan, hal-hal yang tampak sepele, seperti cara tidur, diatur dengan seksama. Bagaimana sebenarnya aturan tidur dalam Hindu, khususnya di Bali?

Tidur didefinisikan sebagai keadaan di mana seseorang tidak sadar namun masih dapat dibangunkan oleh rangsang sensorik.

Namun, dalam Hindu, khususnya di Bali, posisi tidur tidak bisa dianggap remeh.

Jro Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa posisi tidur diatur dalam konsep Hulu-Teben, yang berkaitan dengan kosmologi mata angin.

Hulu artinya arah utama, dan Teben adalah arah yang berlawanan dengan Hulu.

Masyarakat Bali biasanya menempatkan tempat tidur dengan arah utara-selatan atau timur-barat, mengikuti prinsip ini.

Apa implikasinya?

Uniknya, aturan ini menciptakan keterhubungan tak kasat mata antar penduduk Bali Utara dan Selatan.

Jika tidur dengan kepala di utara, mereka "bertemu" kepala dengan kepala, menciptakan keselarasan yang mencerminkan persatuan.

Kitab Nitisastra VII, 1-2 menjelaskan lebih lanjut: tidur dengan kepala di Timur akan memperpanjang umur, di Utara membawa kejayaan, sedangkan tidur dengan kepala di Barat atau Selatan dapat mendatangkan hal buruk.

Namun, aturan ini tidak berhenti pada arah tidur. Tempat tidur, posisi tidur, hingga bangunan yang digunakan untuk tidur semuanya diatur dalam adat Bali.

Bahkan, ada tiga jenis tempat istirahat yang disebutkan dalam sastra Bali: Galar (istirahat sejenak dengan tidur), Galir (istirahat singkat dengan duduk), dan Galur (istirahat untuk perjalanan pulang, atau kematian).

Di Bali, sembilan penjuru arah mata angin dihormati sebagai Dewata Nawa Sanga.

Karena itu, kepala harus ditempatkan dekat dengan tempat pemujaan sebagai pengingat untuk selalu mendekatkan diri pada ajaran Hindu.

Dengan aturan yang begitu rinci, masyarakat Bali memastikan bahwa tidur tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga sarana mendekatkan diri dengan ajaran Ida Sang Hyang Widhi. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tidur #hindu #dewata nawa sanga #kitab nitisastra