BALIEXPRESS.ID - Prosesi Nyulubin Layon, yang sering dilaksanakan sebelum jenazah dibawa ke kuburan, merupakan salah satu upacara kematian paling sakral dalam tradisi sebagian umat Hindu Bali.
Upacara ini sering kali dimulai dengan mamitin (berpamitan) melalui persembahyangan yang diikuti oleh seluruh keluarga.
Namun, apa sebenarnya yang menjadi alasan di balik ritual ini?
Nyulubin Layon adalah prosesi di mana keluarga almarhum mengelilingi jenazah dengan cara berputar melawan arah jarum jam sebanyak tiga kali.
Ritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum sebelum jenazah dimakamkan.
Mengapa tiga kali? Apa makna dari arah putaran yang melawan jarum jam?
Prof. I Nengah Duija, mantan Rektor IHDN Denpasar, menjelaskan bahwa Nyulubin Layon biasanya dilakukan setelah prosesi nyiraman layon (memandikan jenazah).
Setelah dimandikan, jenazah ditempatkan kembali di bale dangin (tempat khusus di halaman rumah) di mana seluruh keluarga melaksanakan persembahyangan.
"Prosesi ini bertujuan agar segala sesuatunya berjalan lancar dan almarhum dapat tenang di perjalanan terakhirnya," ujar Prof. Duija.
Namun, prosesi ini tidak selalu dilaksanakan di semua desa di Bali, karena tergantung pada dresta (tradisi) setempat.
Di beberapa tempat, hanya keluarga terdekat yang melakukan Nyulubin Layon, terutama anak-anak dan cucu dari almarhum.
Bagi mereka yang tidak melaksanakannya, sering dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan.
“Nyulubin Layon bukan hanya sekadar ritual,” lanjut Duija.
"Ini adalah bentuk sujud bhakti terakhir, penghormatan lahir dan batin kepada almarhum. Meskipun begitu, tidak semua orang wajib melaksanakannya. Tergantung pada keikhlasan dan niat masing-masing," ungkapnya.
Menariknya, tidak semua daerah di Bali melaksanakan prosesi ini dengan cara yang sama.
Menurut Ida Bagus Windu, seorang praktisi upacara Pitra Yadnya, Nyulubin Layon harus dilakukan oleh anak, cucu, atau sanak keluarga terdekat.
Mereka yang tidak melakukannya sering dianggap durhaka, karena ini adalah kesempatan terakhir untuk menghormati orang tua yang telah meninggal.
Dalam beberapa kasus, seperti di desa Bukit, Jimbaran, prosesi Nyulubin Layon bahkan tidak lagi dilaksanakan.
Jero Mangku Sunarsa, seorang pemangku dari Bukit, Jimbaran, mengungkapkan bahwa perubahan zaman dan perkembangan tradisi membuat ritual ini perlahan ditinggalkan.
"Sekarang ini, penghormatan terakhir dianggap cukup dengan proses pengabenan saja," jelasnya.
Meski tidak semua daerah masih melaksanakan Nyulubin Layon, bagi sebagian besar masyarakat Bali, ritual ini tetap menjadi simbol penghormatan terakhir yang sarat akan makna spiritual.
Nyulubin Layon bukan hanya tentang mengiringi almarhum ke tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai tanda kasih sayang dan rasa bakti yang tak terhingga dari mereka yang ditinggalkan.
Apakah Nyulubin Layon masih relevan di zaman modern? Atau justru menjadi bagian dari tradisi yang akan terus hidup di tengah perubahan zaman? Tradisi ini, dengan segala makna yang tersembunyi di baliknya, tetap menjadi salah satu misteri sakral dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. ***