BALIEXPRESS.ID - Di ketinggian Pupuan, Tabanan, Bali, yang sejuk dan penuh dengan aura mistis, tersembunyi sebuah tempat suci Hindu yang dipercayai telah ada sejak zaman kuno. Namanya Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton.
Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton, yang terletak di Desa Pekraman Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, bukan hanya tempat suci Hindu Bali, tetapi juga menjadi saksi sejarah panjang yang menyimpan banyak rahasia dan keunikan.
Menurut Jero Mangku Pasek Padangan, penjaga pura yang mewarisi pengetahuan ini secara turun-temurun, Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton telah berdiri sejak tahun 1200-an.
Sebagai salah satu pura tertua di Desa Pekraman Padangan, keberadaannya menjadi pusat spiritual bagi berbagai profesi dan bahkan urusan perang.
Keunikan pura ini terlihat dari arsitekturnya yang tidak biasa.
Pada pintu gerbang utama (Lawangan Kori Agung) berdiri dua patung gajah yang penuh misteri.
Meski patung ini telah ada sejak lama, tidak ada satu pun warga desa yang mengetahui makna di balik keberadaannya, menambah daya tarik dan keingintahuan bagi siapa saja yang berkunjung.
Pura ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan, tetapi juga dipercaya sebagai pusat kekuatan spiritual yang berhubungan dengan Ida Betara Bagus Made Mentang Yuda, dewa perang yang dianggap sebagai pamuput karya.
"Dalam area pura ini juga terdapat sembilan palinggih, masing-masing memiliki peran penting, termasuk sebagai ahli perang dan ahli senjata, yang menambah nuansa magis pura ini," ungkapnya.
Namun, yang membuat Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton semakin menarik adalah keberadaan satwa penjaga yang disebut 'duwe'.
Di masa lalu, pura ini dijaga oleh ular besar dan macan, yang kini hanya tinggal macan yang sesekali menampakkan diri pada hari-hari tertentu.
Kejadian mistis juga melibatkan kematian seorang warga yang membunuh ular besar, diyakini sebagai 'duwe', dan tak lama kemudian warga tersebut jatuh sakit hingga meninggal, menegaskan aura mistis pura ini.
Tidak hanya itu, di dalam pura ini tumbuh pohon beringin dengan akar yang sangat besar menyerupai ular sepanjang 15 meter, menambah nuansa mistis yang menyelimuti pura ini.
"Akar ini dikaitkan dengan ular penjaga yang telah tiada, meski belum ada yang benar-benar memahami kaitannya," jelas Jero Mangku Pasek Padangan.
Keajaiban lain yang tersimpan di pura ini adalah keberadaan mata air (telepusan) yang mengalirkan air ke pangkung Yeh Slonding, sebuah sungai kecil yang dihubungkan dengan alat musik sakral Gambelan Slonding.
Gambelan ini menjadi pengiring tarian-tarian mistis seperti Gegandrangan, Lalangkaran, dan Cecondongan, yang menambah misteri dan kekuatan magis pura ini.
Setiap Purnama Kapat, Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton menjadi pusat spiritual yang ramai dikunjungi oleh warga desa untuk membayar nazar (nawar sesangi), berharap mendapatkan berkah dari Ida Betara.
Beragam sesangi dipersembahkan, mulai dari yang sederhana hingga yang mewah, seperti kerbau bertanduk emas, menunjukkan betapa besar keyakinan dan penghormatan masyarakat terhadap pura ini.
Bagi siapa pun yang ingin berkunjung, penting untuk diingat bahwa memasuki pura ini harus tanpa alas kaki, sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian tempat ini.
Pura Luhur Pesimpangan Pucak Kedaton, dengan segala keunikannya, menjadi tempat yang penuh misteri dan daya tarik, menyimpan cerita-cerita yang siap untuk digali dan diungkap lebih dalam. ***
Editor : I Putu Suyatra