BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Segara Madhu yang terletak di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, menyimpan sebuah kisah Hindu Bali yang tak biasa.
Tempat suci Hindu Bali yang termasuk dalam kategori Pura Kahyangan Tiga ini memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari pura lainnya di Pulau Dewata.
Relief yang terukir pada penyengker pura ini tidak hanya menggambarkan dunia spiritual, tetapi juga menceritakan kehidupan masyarakat Buleleng pada masa kolonial.
Seperti apa kisah yang tersembunyi di balik relief kuno ini?
Pura Dalem merupakan tempat suci yang didedikasikan untuk pemujaan Dewa Siwa, sang Pelebur, yang dipercaya sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Biasanya, relief yang menghiasi Pura Dalem berkisah tentang karma manusia, menampilkan adegan swarga dan neraka yang akan ditemui seseorang setelah meninggal dunia.
Namun, Pura Dalem Segara Madhu memiliki daya tarik tersendiri dengan relief yang menceritakan peristiwa sejarah dan kehidupan masyarakat pada zaman penjajahan Belanda.
Saat tim dari koran ini mengunjungi pura tersebut, kami berkesempatan bertemu dengan Ketut Suradnya, seorang pemandu wisata lokal yang sangat memahami sejarah dan seluk beluk Pura Dalem Segara Madhu.
Ketut Su, panggilan akrabnya, dengan antusias memandu kami menelusuri keunikan relief yang ada di pura ini.
Ketut Su memulai ceritanya dengan mengungkap asal-usul Desa Jagaraga yang dulu dikenal sebagai Desa Suka Pura.
"Letak geografisnya yang strategis membuat desa ini menjadi benteng pertahanan yang kuat, dikelilingi oleh Sungai Daya di sebelah timur dan Sungai Gelung di sebelah barat, serta bukit-bukit kecil di sekelilingnya," ungkapnya.
Benteng "Supit Surang" yang membentang dari barat ke timur menjadi saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat Bali melawan penjajah.
Sembari menunjukkan relief yang menggambarkan mobil dan pesawat terbang, Ketut Su menceritakan kisah kedatangan bangsa Belanda ke Buleleng, khususnya ke Desa Suka Pura.
Kala itu, Belanda datang dengan niat untuk berunding dengan Raja dan Patih Gusti Ketut Jelantik.
Namun, niat Belanda untuk menguasai Buleleng ditolak mentah-mentah, menyebabkan ketegangan yang berujung pada pertempuran sengit.
Relief-relief lain di penyengker pura menunjukkan aktivitas masyarakat yang tampak biasa seperti memanjat pohon kelapa, memancing, atau bermain layang-layang.
Namun, menurut Ketut Su, ini adalah gambaran dari para pahlawan yang menyamar sebagai rakyat biasa untuk memantau gerak-gerik pasukan Belanda.
Penyamaran ini dilakukan untuk mengelabui musuh dan melaporkan rencana mereka kepada raja.
Ketegangan antara Belanda dan Raja Buleleng semakin memuncak ketika Belanda mencoba menghapuskan hukum tawan karang, yaitu hak Bali untuk merampas kapal yang terdampar di wilayahnya.
Ketidaksetujuan raja-raja Bali terhadap tuntutan ini memicu kemarahan Belanda, yang akhirnya membawa kepada tindakan militer dan Perang Jagaraga pada tahun 1848.
Pura Dalem Segara Madhu, dengan benteng pertahanannya yang kuat, menjadi pusat komando tempur Bali pada masa itu.
Menurut Ketut Su, kekalahan Belanda dalam Perang Jagaraga pertama disebabkan oleh ketangguhan benteng Bali dan medan yang tidak bersahabat bagi pasukan Belanda.
Bukit-bukit tandus dan alang-alang yang terbakar membuat pasukan Belanda kehausan dan kehabisan tenaga.
Kisah yang terukir di Pura Dalem Segara Madhu bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan gigih masyarakat Bali melawan penjajah.
Relief-relief ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai penghubung antara generasi sekarang dengan sejarah yang telah mengakar di tanah Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra