Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Pura Dalem Bia di Desa Pering: Kisah Sejarah Hindu Bali, Kepercayaan, dan Kejadian Mistis yang Mengundang Rasa Penasaran

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 1 September 2024 | 21:26 WIB
Pura Dalem Bia yang terletak di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, menyimpan berbagai kisah dan sejarah Hindu Bali yang menarik.
Pura Dalem Bia yang terletak di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, menyimpan berbagai kisah dan sejarah Hindu Bali yang menarik.

BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Bia yang terletak di Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, menyimpan berbagai kisah dan sejarah Hindu Bali yang menarik.

Pura ini diyakini sebagai yang pertama kali didirikan di desa tersebut pada era Kerajaan Gusti Ngurah Pering.

Hingga kini, di selatan kawasan pura, masih terdapat gundukan tanah yang dipercaya sebagai tempat awal pemukiman warga Pering.

Agung Sudewa, Tokoh Desa Pering, menceritakan bahwa sebelum wilayah tersebut menjadi persawahan seperti sekarang, dulunya berupa gundukan tanah mirip bukit.

Bahkan, terdapat ukiran-ukiran di tanah tersebut, namun sayangnya hancur ketika dipugar karena terbuat dari tanah liat.

"Wilayah Pering pada awalnya adalah hutan bambu yang dikenal sebagai Wana Gesing, di mana 'wana' berarti hutan dan 'gesing' berarti bambu," jelas Sudewa, yang merupakan perbekel termuda di Gianyar, saat ditemui Bali Express.

Namun, sejarah mencatat bahwa penduduk asli Desa Pering terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka bukan karena serangan penjajah, melainkan oleh segerombolan semut api hitam yang sangat besar.

"Serangan semut api hitam tersebut sangat mengganggu kehidupan penduduk, hingga akhirnya mereka memilih mengungsi ke tempat yang sekarang menjadi Desa Pering," tambah Sudewa.

Beberapa warga bahkan memilih mengungsi lebih jauh ke Desa Apuan, Kecamatan Susut, Bangli.

Meski begitu, setiap kali piodalan digelar, para penduduk yang dulunya mengungsi selalu kembali ke Pura Dalem Bia untuk melakukan upacara.

Mereka seringkali menginap di pura, sementara mereka yang bertahan di Desa Pering hanya pindah ke utara Pura Dalem Bia, yang kini menjadi pemukiman mereka.

Sebelum bisa menetap, warga harus membabat hutan bambu agar tanah tersebut bisa dijadikan tempat tinggal.

Seiring waktu, area sekitar Pura Dalem Bia berubah menjadi persawahan. Namun, gundukan tanah yang diyakini dulunya merupakan setra (tempat pemakaman) hanya ditumbuhi alang-alang.

"Rencananya nanti akan diratakan setelah dilakukan upacara matur piuning agar air dapat mengalir dengan mudah ke persawahan warga," ungkap Sudewa.

Saat ini, di sekitar pura, lahan tersebut sudah ditanami jagung dan padi.

Meski kini Pura Dalem Bia tidak lagi berada di tengah hutan, kejadian misterius masih sering terjadi.

Warga yang memiliki lahan persawahan di sekitar pura sering melihat jejak-jejak rencangan pura yang muncul dalam bentuk biawak putih berukuran sangat besar.

Jejak ini tampak menuju arah jurang yang berada di barat Pura Dalem Bia.

Ketut Lendra, Tokoh Adat Pering, mengungkapkan bahwa ada beberapa kejadian mistis yang pernah dialami warga.

Salah satunya adalah ketika sebuah pohon pule tumbang dan jatuh ke areal persawahan.

"Setiap kali warga mencoba memotong pohon tersebut, kapaknya selalu terlepas dari gagangnya, hingga akhirnya pohon itu batal dipotong," ujar Lendra.

Ia juga menceritakan pengalaman seorang tukang traktor yang bersikap kasar ketika mengalami kesulitan menaikkan traktornya ke areal persawahan. Akibatnya, ban traktor yang tajam terlepas dan melukai dagunya.

Lendra juga menambahkan bahwa di area Pura Dalem Bia, warga percaya tidak boleh berbicara kasar, terutama menggunakan kata-kata kotor.

"Hal ini sudah terbukti dan dialami oleh warga setempat. Ada yang sampai tersesat dan tidak bisa menemukan jalan pulang setelah berbicara kotor di sana, hingga akhirnya mereka meminta maaf dari hati," jelasnya.

Selain itu, ada kejadian aneh lainnya yang melibatkan seorang warga yang mengambil kayu bakar dari area pura.

Awalnya, tidak ada yang aneh, namun keesokan paginya, kayu tersebut dikembalikan ke pura karena warga tersebut didatangi oleh sosok besar berwarna hitam yang mencarinya di tengah malam.

Agung Sudewa juga mengingatkan agar orang yang sedang cuntaka atau dalam keadaan tertentu tidak mendatangi Pura Dalem Bia.

"Jika memaksakan diri untuk datang, mereka mungkin akan tersesat dan tidak bisa pulang sebelum meminta maaf secara tulus," ujarnya.

Lendra menambahkan bahwa Pura Dalem Bia hanya terdiri dari dua bangunan, yaitu satu palinggih dan satu pangaruman atau piyasan.

"Setiap piodalan di Pura Dalem Desa Pering, semua sasuhunan harus terlebih dahulu menuju Pura Dalem Bia," tambah Lendra.

Dalam rangkaian pujawali, sasuhunan berupa barong akan dihias terlebih dahulu di Pura Dalem Bia.

Setelah itu, dilaksanakan prosesi pamendakan, di mana pujawali berlangsung selama tiga hari, dan diakhiri dengan pementasan Calonarang sebelum penyimpenan.

Lendra juga mengenang bahwa sebelum ada jalan menuju Pura Dalem Bia, warga hanya bisa melewati jalan setapak yang melintasi persawahan dan tebing.

"Dulu banyak yang mengeluh, tetapi sekarang sudah ada jalan yang lebih lapang dan bisa dilalui kendaraan," pungkasnya.

Cerita tentang Pura Dalem Bia bukan hanya menyajikan sejarah yang kaya, namun juga menyimpan banyak misteri yang mengundang rasa penasaran.

Sejarah dan kepercayaan yang hidup di sekitar pura ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Pering, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam tentang warisan leluhur yang masih dijaga hingga kini. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #blahbatuh #gianyar #hindu #Desa Pering #Pura Dalem Bia #sejarah #semut