Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Desa Suwug: Tradisi Ngelawar Intaran, Cerminan Desa Petangdasa

I Putu Mardika • Senin, 2 September 2024 | 03:29 WIB

Lawar intaran di Desa Suwug Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng
Lawar intaran di Desa Suwug Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki rekam jejak Sejarah yang unik. Bahkan, ada kaitannya dengan tradisi ngelawar Intaran yang mencerminkan krama desa petangdasa.

Kelian Desa Adat Suwug, Jro Wayan Mudita mengatakan ritual Ngelawar Intaran adalah tradisi menyajikan lawar, makanan tradisional Bali, yang menggunakan daun Intaran sebagai pengganti daging.

Tradisi ini melambangkan pahit-manisnya kehidupan dan terkait dengan sejarah berdirinya Desa Pakraman Suwug oleh 40 kepala keluarga (KK).

Setiap tahun, pada saat puncak karya pujawali di Pura Desa Pakraman Suwug, tepat pada Purnamaning Kawulu, masyarakat Desa Pakraman Suwug melaksanakan tradisi Ngelawar Intaran ini.

Sejak pagi, 40 KK yang disebut 'Saye' berkumpul di Pura Desa untuk menyiapkan adonan lawar dari daun Intaran serta hidangan lainnya sebagai bagian dari upacara.

Hidangan lawar yang disajikan sangat sederhana, terdiri dari nasi yang ditempatkan di atas daun pisang dengan nasi berbentuk bulat di tengah, melambangkan tekad bulat dari 'Sekaa Petang Dasa' (40 KK) yang merupakan pendiri desa.

Di sekeliling nasi tersebut ditata lawar daun Intaran sebagai hidangan utama. Meskipun terlihat seperti lawar pada umumnya, lawar ini tidak menggunakan daging atau darah, tetapi proses pembuatannya tetap sama.

Rasa lawar Intaran unik, menggabungkan rasa pahit dari daun Intaran dengan manisnya air parutan kelapa.

Hidangan ini juga dilengkapi dengan berbagai pelengkap seperti sambal serondeng, kacang-kacangan, ikan teri goreng, telur asin, sambal pangi, serta unti, yaitu kelapa parut dengan gula merah yang menambah rasa manis. Hidangan ini mencakup beragam rasa, dari manis, pahit, hingga sepet.

'Sekaa Petang Dasa', yang terdiri dari 40 KK, bertugas menyiapkan dan menyantap hidangan Lawar Intaran sebelum serah terima tugas tahunan mereka.

Setiap tahun, 1.190 KK di desa tersebut dibagi menjadi kelompok 40 KK yang bergilir menjadi 'Saye' pada saat piodalan di Pura Desa.

Setelah hidangan Lawar Intaran selesai disiapkan, 'Saye Sekaa Petang Dasa' naik ke Bale Agung di Pura Desa untuk mengikuti prosesi upacara.

Mereka harus duduk melingkar dan mengikuti rangkaian upacara sebelum akhirnya diperbolehkan menyantap lawar tersebut.

Baca Juga: Kisah Menarik dari Pura Bukit Mentik: Melihat Letusan Gunung Batur dan Keajaiban Lava yang Tidak Panas

Aturan tata krama yang ketat mengharuskan mereka tetap di tempat hingga upacara selesai, dan makanan yang disajikan harus dihabiskan untuk menghindari sanksi.

Setelah hidangan disantap, prosesi upacara dilanjutkan dengan pembacaan awig-awig desa. Serah terima tugas 'Saye Sekaa Petang Dasa' dilakukan pada tengah malam hingga dini hari, menandai pergantian tugas mereka sebagai kelompok utama dalam upacara di Pura Tri Kahyangan selama setahun.

Tradisi Ngelawar Intaran ini telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun dan dilaksanakan sebagai simbol dari pahit-manisnya kehidupan, yang erat kaitannya dengan sejarah Desa Pakraman Suwug. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#desa suwug #bali #intaran #lawar #sawan #desa petangdasa #sejarah #buleleng