BALIEXPRESS.ID – Dalam ritual sakral Madiksa dalam ritual Hindu Bali, Nyeda Raga diibaratkan seperti mengalami kematian, sebuah proses yang mengguncang jiwa dan raga.
Bagi para pendeta atau sulinggih yang menjalani Nyeda Raga, mereka dituntun oleh seorang nabe, guru spiritual yang memastikan prosesi berjalan sesuai dengan ajaran leluhur.
Menariknya, dalam proses Nyeda Raga, ada pendeta yang tetap sadar, sementara yang lain tidak.
Bahkan, beberapa mengalami perubahan fisik yang mencengangkan; ada yang tubuhnya mengeluarkan bau layaknya mayat, sementara yang lain justru berbau harum.
Fenomena ini diungkapkan oleh Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari saat berbincang dengan Bali Express di Gria, Jalan Danau Beratan, Sanur, Denpasar, 2017 lalu.
"Kesadaran selama Nyeda Raga bergantung pada tingkat spiritual nabe yang membimbing. Saya pribadi tetap diberi kesadaran penuh, agar dapat merenungkan segala perbuatan yang pernah dilakukan. Dengan begitu, kita bisa introspeksi dan siap menjalani kehidupan baru sebagai sulinggih tanpa terbebani masa lalu," ujar Ida Pedanda Gede Wayahan.
Menurutnya, Nyeda Raga adalah waktu yang paling tepat untuk merenung, mengingat seluruh perbuatan dari masa kecil hingga saat Madiksa.
Semua harus diingat, apakah pernah menyakiti atau berbuat baik selama hidup. Hal ini penting agar saat menjadi sulinggih nanti, tidak lagi terjebak pada kenangan masa lalu dan dapat menjadi panutan yang baik.
"Saat seseorang telah memutuskan menjadi pendeta, ia harus siap secara mental dan memiliki pengetahuan yang mendalam. Proses Madiksa dan Nyeda Raga menandakan kesiapan untuk menjalani hidup yang kedua, dengan tanggung jawab besar sebagai pembimbing spiritual," tegasnya.
Ketika ditanya mengenai fenomena tubuh yang berbau seperti mayat saat Nyeda Raga, Ida Pedanda Wayahan memilih tidak berkomentar banyak.
"Idealnya, orang yang menjalani Madiksa harus berbau harum, karena mereka dianggap memiliki kemampuan dan intelektual tinggi, serta pengetahuan agama yang luar biasa. Harusnya, segala sesuatunya harum," jelasnya.
Ida Pedanda Wayahan juga mengungkapkan bahwa keinginan menjadi pendeta sudah ia miliki sejak lama, mempersiapkannya selama tiga puluh tahun.
Dalam periode panjang itu, ia terus menimba ilmu sebanyak-banyaknya, hingga akhirnya menemukan guru terakhir, nabenya, yang membimbingnya dalam perjalanan spiritual ini.
Proses Nyeda Raga dan Madiksa bukan sekadar ritual, tetapi sebuah transformasi spiritual yang mendalam, mempersiapkan seseorang untuk peran suci sebagai sulinggih, yang akan menjadi panutan dan penuntun dalam kehidupan beragama. ***
Editor : I Putu Suyatra