BALIEXPRESS.ID - Patung Bayi raksasa atau Patung Bayi Sakah yang berdiri megah di Catus Pata Banjar Blah Tanah, Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menyimpan cerita dan makna yang mendalam.
Tidak hanya soal pembuatannya, tetapi juga pemilihan lokasi dan makna filosofisnya. Apa sebenarnya keistimewaan dari patung ini?
Asal Usul dan Makna Patung Bayi
Jero Mangku Ketut Widiantara, pemangku pertama yang ngayah di lokasi tersebut, mengungkapkan bahwa pemilihan Catus Pata bukan tanpa alasan.
"Pertigaan ini dianggap sebagai marga agung secara niskala. Seorang tokoh spiritual dari Desa Mas, Ubud mendapatkan pawisik dalam mimpinya untuk mendirikan patung bayi di sini," jelas Jero Mangku Ketut saat diwawancarai oleh Bali Express.
Patung bayi ini melambangkan Sang Hyang Siwa Budha dan dikenal juga sebagai Palinggih Sang Hyang Brahma Lerare.
Menurut kepercayaan Hindu Bali, bayi ini adalah simbol dari hasil pertemuan Siwa Budha, yang lahir sebagai Brahmana Lelara—seorang bayi yang telah cerdas dalam sastra.
Lokasi dan Filosofi
Pembangunan patung di Banjar Blah Tanah dipilih dengan cermat karena makna niskala dari tempat tersebut.
"Blah Tanah berarti berada di tengah belahan tanah, dan Sakah berasal dari kata 'Saka', yang berarti tiang kokoh. Jadi, patung ini dirancang sebagai Palinggih Brahmana Lerara dengan bentuk yang kokoh," papar Jero Mangku Ketut.
Ide untuk mendirikan patung ini berasal dari mantan Bupati Gianyar, Cokorda Darana, pada tahun 1989.
Rapat yang melibatkan sejarawan, seniman, dan prajuru desa sempat mengalami perdebatan, namun akhirnya disepakati untuk mengikuti pawisik yang menyarankan pembuatan patung Palinggih Brahmana Lerara.
Keajaiban dan Fenomena Aneh
Masyarakat sekitar sering melaporkan fenomena aneh di sekitar patung.
"Terkadang, ada suara tangisan anak kecil yang terdengar, dan ada yang melihat kepala patung seperti menoleh. Ini mengingatkan bahwa patung ini memiliki nilai magis," ujar Jero Mangku Ketut.
Patung ini tidak hanya digunakan untuk persembahyangan biasa, tetapi juga sering dijadikan tempat untuk memohon kelancaran dalam mendapatkan keturunan.
Beberapa umat non-Hindu bahkan datang untuk memohon berkah dari patung ini dan melaporkan telah dikaruniai anak setelah berdoa di sini.
Kegiatan Ritual dan Akses ke Patung
Ni Made Sutini, istri Jero Mangku Ketut, mengaku kadang kewalahan dengan kegiatan pujawali yang bersamaan dengan piodalan di merajannya.
"Semua persiapan harus dilakukan dari jauh-jauh hari. Meskipun begitu, kami menjalankannya dengan ikhlas dan bersyukur atas kesehatan yang diberikan," jelasnya.
Bagi yang ingin mengunjungi Patung Bayi atau Palinggih Brahmana Lelara, lokasi ini sangat mudah diakses.
Patung ini terletak sekitar dua kilometer utara Pasar Sukawati, jadi Anda tidak perlu khawatir tersesat.
Jadi, apakah Anda penasaran untuk melihat patung bayi raksasa ini secara langsung? Datanglah dan rasakan sendiri keajaiban dan makna mendalam di balik patung yang berdiri kokoh di Banjar Blah Tanah. ***