Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali Unik, Maprani Perahu-perahuan di Banjar Pabean: Ritual Spiritual yang Memikat dan Penuh Makna

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 3 September 2024 | 02:15 WIB
Banjar Pabean di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar memiliki tradisi Hindu Bali bernama Meprani Perahu-perahuan
Banjar Pabean di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar memiliki tradisi Hindu Bali bernama Meprani Perahu-perahuan

BALIEXPRESS.ID – Setiap tahun, Banjar Pabean di Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menghidupkan kembali tradisi Hindu Bali bernama Maprani Perahu-perahuan, yang merupakan bagian penting dari perayaan Nangkluk Mrana.

Dilaksanakan pada kajeng kliwon uwudan sasih kapat, tradisi ini menyajikan ritual yang unik dan penuh makna. Apa yang membuat Maprani Perahu-perahuan begitu istimewa?

Makna dan Asal Usul Maprani Perahu-perahuan

Maprani Perahu-perahuan adalah ritual tahunan yang dilakukan setelah pelaksanaan pujawali di Pura Jagat Nata Desa Ketewel.

"Tradisi ini dimulai dengan mendak untuk menyambut Idha Bhatara Ratu Gede Nusa, yang dianggap sebagai penguasa Laut Bali Selatan," ungkap Jero Mangku Made Regig, Pemangku Pura Segara, saat diwawancarai oleh Bali Express di rumahnya.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Idha Bhatara Ratu Gede Nusa tiba di Pantai Segara Ketewel, dan warga Pabean menyambut kedatangannya dengan pacaruan.

Ritual ini merupakan bentuk persembahan dan permohonan keselamatan, kesehatan, dan ketentraman secara sekala maupun niskala.

Ritual dan Simbolisme di Banjar Pabean

Di Banjar Pabean, prosesi Maprani Perahu-perahuan melibatkan pacaruan dan persembahyangan di pesisir pantai, serta pembagian sasikepan berupa gelang untuk menolak bala.

"Sasikepan ini terdiri dari bawang dan kesuna yang dibungkus kain putih dan diikat dengan benang tri datu, kemudian dibagikan kepada seluruh warga," jelas Mangku Regig.

Perahu dalam tradisi ini memiliki simbolisme penting. Perahu diyakini sebagai kendaraan untuk menuju Dalem Nusa, dan juga sebagai tempat rencangan Sang Hyang Segara yang mendampingi perjalanan menuju Pura Segara Pabean.

Masyarakat Banjar Pabean juga menghaturkan banten seperti pejati, canang, dan tipat bantal yang diletakkan pada perahu-perahuan sebagai oleh-oleh untuk Hyang Segara.

Keterlibatan Komunitas dan Proses Pelaksanaan

Tradisi ini melibatkan sekitar 60 kepala keluarga yang ikut serta dalam prosesi pembuatan perahu-perahuan dari kulit pohon pisang dengan kerangka bambu.

"Perahu ini dibentuk menyerupai perahu pada umumnya dan merupakan bagian integral dari upakara," kata Ni Wayan Rati, salah seorang peserta tradisi.

Sebelum berkumpul di Pura Segara, warga menerima arahan dari kelihan pura dan bunyi kul-kul sebagai tanda bahwa prosesi akan dimulai.

Upacara dimulai dengan penghaturan banten berupa tipat bantal di asagan pura, diikuti dengan pacaruan, mendak tirta, dan persembahyangan. Setelah itu, tipat bantal dibawa ke perahu yang terbuat dari pohon pisang.

Pentingnya Pelaksanaan dan Pengaruh Tradisi

Mangku Regig mengharapkan agar tradisi ini terus terjaga dan tidak hilang dari generasi ke generasi.

"Jika tradisi ini tidak dilaksanakan, bisa jadi akan terjadi wabah penyakit atau bala yang menimpa tidak hanya Ketewel tetapi seluruh Bali," imbuhnya.

Tradisi Maprani Perahu-perahuan tidak hanya menawarkan keunikan ritual yang memikat, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat ikatan spiritual dan melestarikan warisan budaya Bali.

Apakah Anda penasaran untuk menyaksikan ritual unik ini secara langsung? Kunjungi Banjar Pabean dan rasakan kedalaman makna di balik Maprani Perahu-perahuan. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #ketewel #maprani #hindu #menolak bala #sukawati #tradisi