BALIEXPRESS.ID – Upacara Matatah atau potong gigi dalam tradisi Hindu Bali dikenal sebagai salah satu ritual penting yang dilakukan untuk menghilangkan sifat buruk dan memperbaiki energi spiritual seseorang.
Namun, dibandingkan dengan upacara serupa seperti Malukat, Matatah memiliki keunikan dan proses yang sangat berbeda, bahkan mengundang rasa penasaran tersendiri.
Proses Unik yang Mirip dengan Kematian
Matatah memiliki kemiripan dalam prosesinya dengan kondisi orang yang telah meninggal.
Salah satu perbedaan mencolok adalah pelaksanaan upacara ini dilakukan dengan peserta yang berbaring di bale dangin, tempat khusus untuk upacara, mirip dengan posisi orang yang telah meninggal.
Namun, ada aturan khusus yang membedakan pelaksanaan Matatah dengan upacara kematian.
“Agar tidak tampak persis seperti orang yang meninggal, peserta upacara Matatah dilarang menutup mata selama proses pemotongan gigi berlangsung,” jelas Sangging, Ida Bagus Gede Searsa Tana, dalam wawancara eksklusif dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya di Desa Kelusa, Payangan, Gianyar.
Menurut Gus Searsa, sapaan akrabnya, larangan ini bertujuan untuk mencegah peserta terlihat seperti mayat dan terhindar dari gangguan orang yang memiliki ilmu aji ugig, ilmu hitam yang dapat membahayakan.
“Jika mata ditutup, peserta akan terlihat seperti mayat, dan ini mempermudah orang dengan niat buruk untuk mengganggu,” tandasnya.
Bahan dan Peralatan yang Digunakan dalam Upacara
Dalam upacara Matatah, berbagai bahan dan peralatan digunakan untuk memastikan kelancaran dan keberhasilan ritual. Beberapa bahan penting termasuk:
- Madu: Digunakan untuk menghilangkan rasa ngilu pada gigi.
- Mutik dan Kikir: Untuk proses pemotongan gigi.
- Bungkak: Tempat untuk ludah.
- Dadap: Untuk membersihkan area sekitar gigi.
- Tebu dan Kunyit: Digunakan untuk membuka mulut dan mengobati luka setelah pemotongan.
- Loloh: Untuk berkumur setelah gigi dipotong.
- Kwangen: Digunakan dalam proses spiritual upacara.
Peran Keluarga dan Pengaturan Pelaksanaan Upacara
Menurut Gus Searsa, hanya anggota keluarga yang diperbolehkan mendampingi selama proses potong gigi.
Orang tua dan keluarga inti harus selalu hadir untuk memastikan proses berjalan lancar.
“Jika ada orang dari luar keluarga yang ikut serta tanpa kepentingan, sebaiknya mereka diarahkan untuk tidak hadir. Ini untuk menghindari gangguan dan mempermudah pelaksanaan upacara,” jelasnya.
Dia juga menambahkan bahwa kehadiran banyak orang dapat menghambat proses karena menyulitkan sangging dalam bergerak.
“Jika hanya ada satu atau dua peserta, prosesnya akan lebih mudah dibandingkan jika ada lebih dari lima orang dengan pendampingnya,” tambah pria pensiunan guru ini.
Tempat dan Simbolisme dalam Upacara
Tempat pelaksanaan upacara Matatah biasanya dilengkapi dengan bale gading, yang terletak di atas area upacara.
Bale ini berfungsi sebagai tempat linggih Ida Sang Hyang Semara Jaya dan Semara Ratih, simbol perlindungan dari gangguan spiritual.
“Bale gading berfungsi sebagai penangkal dari gangguan orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang memiliki ilmu aji ugig,” kata Gus Searsa.
Jumlah Peserta dan Kriteria
Gus Searsa menegaskan bahwa jumlah peserta Matatah bisa bervariasi, tergantung pada kebutuhan dan jumlah orang yang mengikuti.
“Jumlah peserta, baik ganjil atau genap, tidak menjadi masalah asalkan prosesinya lengkap dan sesuai dengan ritual,” ungkapnya.
Kesimpulan
Matatah adalah upacara yang penuh dengan makna dan ritual khusus yang mendalam. Setiap elemen dari upacara ini, mulai dari larangan menutup mata hingga penggunaan bahan-bahan tertentu, memiliki tujuan spiritual dan praktis yang sangat penting.
Upacara ini tidak hanya memperlihatkan keunikan tradisi Bali tetapi juga menegaskan betapa dalamnya nilai-nilai yang terkandung dalam setiap langkah ritual.
Dengan segala keunikan dan ritualnya, Matatah terus menjadi salah satu tradisi yang menarik untuk dipelajari dan dipahami lebih dalam, mengundang rasa penasaran dan kekaguman akan kekayaan budaya Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra