Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Hindu Bali dan Pantangan Lain dari yang Lain di Pura Agung Gunung Raung, Desa Taro: Menguak Rahasia yang Menyimpan Sejarah Sakral

I Putu Suyatra • Rabu, 4 September 2024 | 14:59 WIB

Pura Agung Gunung Raung yang terletak di Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan salah satu situs suci Hindu Bali yang menyimpan banyak misteri
Pura Agung Gunung Raung yang terletak di Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan salah satu situs suci Hindu Bali yang menyimpan banyak misteri

BALIEXPRESS.ID - Pura Agung Gunung Raung yang terletak di Banjar Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan salah satu situs suci Hindu Bali yang menyimpan banyak misteri dan pantangan yang harus diikuti oleh para pengunjungnya.

Pura ini tidak hanya dihormati sebagai tempat persembahyangan bagi umat Hindu Bali, tetapi juga dikenal dengan aturan-aturan adat yang ketat dan penuh makna.

Pantangan Khusus di Pura Agung Gunung Raung

Menurut Jero Mangku Gede Ketut Telaga, pemangku Pura Agung Gunung Raung, ada beberapa tempat di pura ini yang tidak boleh dilalui oleh siapapun.

Salah satu yang paling menonjol adalah dua Titi Gonggang yang berada di pamedalan sebelah utara dan selatan dari empat candi bentar yang berfungsi sebagai pintu masuk dan keluar pura.

Titi Gonggang ini berfungsi sebagai penetralisir energi dari pura dan dianggap sangat sakral.

"Jika ada yang melanggar dan melewati titi tersebut, mereka harus segera menghaturkan pacaruan sebagai bentuk permohonan maaf. Selain itu, wajib juga menghaturkan banten guru piduka di jeroan pura," jelas Jero Mangku Gede Ketut Telaga dalam pertemuan dengan Bali Express (Jawa Pos Group).

Sanksi Adat Bagi Pelanggar

Jika seseorang melintasi Titi Gonggang, tindakan selanjutnya tergantung pada waktu yang telah berlalu sejak pelanggaran.

Jika hanya satu atau dua hari, cukup dengan menghaturkan banten guru piduka yang sederhana.

Namun, jika lebih dari tiga hari, pacaruan dengan ayam biying harus dilakukan.

Jika lebih dari seminggu, maka upacara yang lebih besar diperlukan.

“Aturan ini telah sesuai dengan hukum adat yang berlaku di Desa Taro, sehingga hingga saat ini tidak ada yang berani melanggarnya,” tambahnya.

Sejarah Pura Agung Gunung Raung: Jejak Rsi Markandya

Pura Agung Gunung Raung dibangun oleh Rsi Markandya saat beliau datang dari Pulau Jawa.

Pura ini melambangkan Dewa Siwa dengan empat candi bentar yang ada.

Kisah kedatangan Rsi Markandya ini penuh dengan tantangan dan keajaiban.

Saat pertama kali datang bersama 800 pengikutnya, mereka mengalami berbagai bencana hingga harus kembali ke Jawa untuk beryoga.

Dalam semadhi, Rsi Markandya mendapat pawisik untuk mendem panca datu sebelum melanjutkan pembangunan pura.

Pura ini akhirnya dibangun di titik sinar terang yang muncul saat Rsi Markandya melakukan yoga di Puncak Sabang Daet, sebuah tempat yang kini menjadi Banjar Puakan.

Tradisi dan Ritual di Pura Agung Gunung Raung

Selain pantangan di Titi Gonggang, ada pula larangan membawa anak-anak yang belum tanggal giginya dan wanita hamil melewati Bale Agung.

Bale Agung dianggap sangat sakral dan penuh dengan energi spiritual yang kuat.

Dua hari sebelum piodalan berlangsung, diadakan tradisi Mategen-teganan, di mana para krama lanang (pria) membawa hasil panen berupa pala bungkah dan pala gantung ke pura, didampingi oleh krama istri.

Keterkaitan dengan Pura Gunung Raung di Jawa

Pura Agung Gunung Raung di Bali memiliki hubungan erat dengan Pura Gunung Raung di Jawa.

Ketika piodalan besar atau Karya Agung dilaksanakan, seluruh krama dari Desa Taro terlibat, bahkan pemerintah daerah Bali pun ikut ambil bagian.

Ritual ini berlangsung selama 11 hari dan dipuput oleh Ida Pedanda, sementara piodalan biasa hanya berlangsung selama empat hari dan cukup dipuput oleh Jero Mangku.

Menghormati Sasuhunan di Pura Agung Gunung Raung

Ada empat sasuhunan yang dihormati di Pura Agung Gunung Raung, yaitu dua barong dan dua rangda.

Sasuhunan ini, menurut Wisersa, Bendesa Taro Kaja, tidak selalu "masolah" (tampil) dalam setiap piodalan, tergantung pawisik yang diterima oleh pemangku.

Panduan Berkunjung ke Pura Agung Gunung Raung

Bagi yang ingin bersembahyang atau sekadar berkunjung ke Pura Agung Gunung Raung, lokasinya cukup mudah ditemukan.

Dari Patung Barong Batu Bulan, ikuti jalan ke arah utara sejauh lima kilometer hingga mencapai Desa Kedewatan.

Dari sini, lanjutkan perjalanan ke timur sejauh 100 meter untuk menemukan jalan menuju Desa Taro.

Pura Agung Gunung Raung bukan hanya tempat suci, tetapi juga pusat dari berbagai tradisi dan aturan adat yang telah dijaga dan dihormati selama berabad-abad.

Kisah-kisah dan pantangan yang ada di pura ini menambah keunikan dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Desa Taro, Gianyar. ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #pantangan #gianyar #Pura Gunung Raung #hindu #sejarah #tegallalang #tradisi #desa taro