BALIEXPRESS.ID – Piodalan dan Ngusaba di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, bukan sekadar ritual Hindu Bali biasa.
Menjelang perayaan piodalan, sering kali muncul kejadian mistis yang mengundang rasa penasaran. Salah satunya adalah kemunculan bola api misterius yang terlihat di sekitar pura.
Jero Mangku Gusti Ngurah Mudrana, pemangku Pura Samuan Tiga, yang ditemui pekan lalu di kediamannya di Desa Bedulu, mengungkapkan bahwa fenomena aneh ini kerap terjadi.
"Menjelang piodalan, saya sering melihat bola api muncul di pohon wani yang ada di dekat pura. Kami meyakini ini sebagai pertanda bahwa sasuhunan telah turun, sekaligus menunjukkan kesiapan krama dalam melaksanakan piodalan," ungkapnya.
Fenomena mistis ini tidak hanya disaksikan oleh Jero Mangku, tetapi juga oleh sejumlah krama yang sedang mempersiapkan upacara.
"Setelah melihat bola api, krama di pura biasanya melapor sambil mengatakan bahwa 'sampun raih' atau 'sudah datang'. Saat itu, saya langsung menghaturkan banten pajati di jeroan pura dan membunyikan kulkul di jaba pura. Ini menandakan bahwa piodalan akan segera berlangsung," jelasnya.
Bunyi kulkul, yang khas di Pura Samuan Tiga, menjadi pertanda bahwa sasuhunan telah hadir dan siap memimpin upacara.
"Dari jam 12 malam hingga jam satu pagi, kulkul akan terus dibunyikan sebagai tanda kehadiran sasuhunan," tambahnya.
Menariknya, kehadiran bola api ini dianggap sebagai pangerauh atau tanda kedatangan yang bisa dirasakan secara sekala (fisik) dan niskala (spiritual).
"Secara sekala, tanda ini bisa berupa dana punia seperti buah atau kelapa. Sedangkan secara niskala, ditandai dengan munculnya bola api tersebut," imbuhnya.
Selain itu, Jero Mangku juga berbagi pengalaman mistis saat Ngusaba terakhir. Ia mengaku sempat dilarang oleh Ida Pedanda yang memimpin upacara untuk memotong pohon beringin di timur pura.
"Ida Pedanda mengatakan bahwa seluruh rencangan pura bersemayam di sana, sehingga pohon itu tidak boleh dipotong, meskipun daunnya menyentuh tanah. Saat mendengar itu, bulu kuduk saya langsung berdiri," kenangnya sambil menunjuk bulu kuduknya yang merinding. ***
Editor : I Putu Suyatra