Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Puspa Lingga dalam upacara Atma Wedana, Menjadi Sarana Inti, Berisi nama terbuat dari Kayu Cendana  

I Putu Mardika • Kamis, 5 September 2024 | 04:19 WIB

Penggunaan Puspa Lingga dalam upacara Atma Wedana
Penggunaan Puspa Lingga dalam upacara Atma Wedana
BALIEXPRESS.ID-Penggunaan Puspa Lingga dalam ritual Atma Wedana menjadi sarana inti. Sarana ini menjadi simbol badan halus yang juga memiliki konsep purusa (pria) dan Wanita (pradana).

Nyoman Dayuh, Penyuluh Agama Hindu di Denpasar menjelaskan dalam lontar Yadnya Baligia Panileman disebutkan Puspa Lingga adalah simbol yang memiliki stuktur bagian atas terdiri dari gegulu terbuat dari kayu cendana yang dipoleskan dengan minyak menyan.

Bagian muka-wajah terdiri dari prerai, 3 bunga madori putih, 3 bunga ratna putih, 3bunga selasih miik, 3 bunga blangsah, 3 daun padang lepas, 3 daun ilalang, 3 nuad pudak, prerai menurut jenis kelamin.

Bagian tengah berisi nama yang terbuat dari kayu cendana berisi tulisan wijaksara. Nama ini disi kalpika dan seet mimang dengan ikatan benang tridatu. Di samping itu pula berisi daun bingin, apabila untuk membuat puspa lingga wanita, maka lipatan daun beringin menengadah dan jumlahnya 9, 27 atau 54 lembar.

Apabila membuat puspa lingga pria, maka lipatannya daun beringin tertelungkup dan jumlahnya 11, 3 atau 66 lembar.

Pada bagian bawah berisi soksokan yang terbuat dari rempah-rempah misanya: anget-anget, menyan, samparwantu, buah pala, pripih, kewangen, sekar miik, minyak wangi, serta tali kubal untuk mengikat belahan bambu buluh.

“Proses pembuatan puspa lingga disebut upacara pengajuman. Rangkaian upacara membuat puspa lingga didahului dengan upacara gangget daun beringin, dilakukan secara mapeed (berjalan beriringan),” katanya.

Lalu, apakah Puspa Lingga diberikan busana ? Busana Puspa lingga terdiri dari wastra (udeng) putih, pipil, anteng, kamben, pekir, orti alit, tungked, kwangen, puspa lingga dimasukkan kedalam sangku dialasi (tatakan) bokor berisi beras dan base tampelan.

Pada bagian akhir menghias puspa lingga adalah rangkaian puspa lingga itu dimasukkan 2 buah mirah (memasang) yang dibungkus kapas taun (kapas daun madori). Yang membedakan busana laki dan perempuan adalah lipatan wastranya kalau laki lipatan wastranya kanan di atas kiri di bawah, kalau wanita sebaliknya.

Di dalam lontar Yadnya Baligya Panileman pada lembar ke- 8 a sampai ke- 10 a menyebutkan mengenai proses pembuatan puspa lingga dengan sangat detail misalnya Inilah tata cara membuat yadnya mamukur, jika membuat puspa lingga, badannya dari bambu buluh gading (bambu buluh berwarna kekuning-kuningan).

Acaranya sehari sebelum pangutpetian, bambu gading yang berfungsi sebagai badannya puspa, dipotong dengan panjang sehasta (sekitar 30 cm) dari tangan Sang Sulinggih, panjang pakurungan samusti (sekitar 10 cm) bukunya atau ruasnya masih tetap (ngatut), terus diisi ulakan (potongan bambu yang bisa masuk pada jung atas bambu gading itu, panjangnya juga semusti (sekitar 10 cm) dan seterusnya.

Sesudah itu baru memuja arwah leluhur yang diupacarai. Sang Sulinggih terus memuja membersihkan tempat peyadnyan dengan widhi widananya, disi dengan sampian, cenigan dan sebagainya, serta bantennya sumping keladi. Pada malam harinya, acaranya disebut menek, pada pagi harinya mangupetian.

Pada acara ini nuntun sang dewa pitara supaya sudi menerima tempat bukur itu. Banten pemagpag, canang tubungan mepelekir, dupa, asaban cendana, menyan astanggi, bungkak kasturi, dan juga dipaning parikrama, imian-imian/ rame-rame (hiburan seperti gending/ nyanyian, yang meliputi tabuh gender, gambang, saron, magita, dan pada waktu paginya terus ngajum puspa lingga (puncak acara pembuatan puspa lingga).

Caranya ngajum adalah ujung ulakan berisi daun ilalang 8 lembar. Bunga-bunga yang akan dipakai dipilih jangan sampai digigit belalang, dimakan uler, terus dipasang bunga sulasih, prerai dari kayu cendana.

“Sesudah itu medori putih, diikat dengan 3 utas belangsah buah (pinang) sesudah itu bunga teratai lalu dibalut dengan daun medori putih, tempatnya di bawah bunga teratai, dan cara daun medori dipasang seperti memasang daun beringin, tengah-tengah tempatnya pada puspa.” ungkapnya.

Maksudnya cara memasang daun medori seperti memasang daun beringin adalah, jika puspa lingga itu untuk orang laki-laki, maka yang halus dari daun medori putih tersebut telungkup atau menghadap kedalam putih tersebut telungkup atau menghadap kedalam.

Sedangkan jika puspa lingga itu untuk orang perempuan maka bagian yang halus dari daun medori tersebut tengadah atau menghadap keluar.

Sesudah memasang daun medori putih, terus diisi bakul dan batildiikat dengan benang 1 tukel, letaknya di tengah pakurungan. Tempat duduk puspa lingga diisi uang kepeng sebanyak 225, terus diberikan atau diikat dengan benang putih.

“Di samping ditaruh tongkat. Setelah puspa lingga selesai, ditaruh dimuka Sang Sulinggih memuja" tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #lontar #yadnya #lingga #hindu #atma wedana #Puspa