Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ngedeblag, Tradisi Hindu Bali yang Unik di Tengkulak Kelod: Warga Berhias Seram Diiringi Alat Musik Perabotan Rumah Tangga

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 6 September 2024 | 17:53 WIB
Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Kemenuh, Kabupaten Gianyar, memiliki tradisi Hindu Bali yang unik. Namanya Ngedeblag.
Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Kemenuh, Kabupaten Gianyar, memiliki tradisi Hindu Bali yang unik. Namanya Ngedeblag.

BALIEXPRESS.ID - Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Kemenuh, Kabupaten Gianyar, memiliki tradisi Hindu Bali yang unik. Namanya Ngedeblag.

Ritual yang digelar rutin setiap sasih kelima tersebut, muncul dengan penampilan yang tak biasa.

Pemandangan seram dengan dekorasi menakutkan serta alat musik dari perabotan rumah tangga menyambut setiap tamu yang tiba di Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati.

Apa yang membuat ritual ini begitu menarik perhatian?

Di tengah suasana mencekam, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berbaur, berhias seram dengan berbagai aksesoris yang membuat bulu kudu merinding.

Tak hanya membawa perabotan rumah tangga yang digunakan sebagai alat musik, sejumlah krama juga membawa sesuhunan barong sakral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Tepat menjelang siang, prosesi sakral dimulai.

Arak-arakan mengelilingi desa menjadi puncak dari ritual ini, diawali dengan persembahyangan di Pura Dalem Desa Pakraman Tengkulak Kelod.

Iring-iringan barong dan topeng sakral diiringi oleh seluruh warga, menciptakan suasana yang penuh mistik dan sakral.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah perpaduan suara unik dari gamelan, kentongan, dan peralatan rumah tangga yang menghasilkan dentuman bunyi menggelegar.

Tak ketinggalan, suara marching band turut mengiringi arak-arakan, menciptakan harmoni tak terduga yang mengundang rasa penasaran para wisatawan atau warga setempat yang kebetulan melintas.

Mereka yang berhenti di pinggir jalan seakan terhipnotis oleh pemandangan langka yang jarang ditemui.

Para ibu-ibu juga tak kalah sibuk, bertugas mempersiapkan sesajen di setiap persimpangan desa.

Saat arak-arakan berhenti, doa-doa suci dipanjatkan oleh pemangku desa sebelum perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pura Dalem.

Tokoh Desa Pakraman Tengkulak Kelod, Dewa Ketut “Malen” Suarbawa, mengungkapkan bahwa ritual Ngedeblag ini dilaksanakan sebagai upaya menjaga keseimbangan alam.

Bulan keenam dalam kalender Bali dipercaya sebagai periode di mana alam sering menunjukkan tanda-tanda “murkanya”, seperti hujan deras, petir, tanah longsor, hingga gempa bumi.

"Selain itu, makan bersama nasi kuning di akhir acara menjadi simbol kekuatan mental dan spiritual untuk menghadapi hari-hari ke depan," jelasnya.

IB Putu Alit, salah satu tokoh masyarakat Desa Kemenuh, menambahkan bahwa arak-arakan sepasang barong sakral berkeliling desa bertujuan menetralisir roh-roh negatif, sehingga warga terhindar dari wabah penyakit dan bencana.

Tak heran jika ritual Ngedeblag selalu menjadi sorotan, tidak hanya karena kemeriahannya, tapi juga karena makna mendalam yang terkandung di balik setiap prosesi yang dilaksanakan.

Ritual ini menjadi saksi bagaimana tradisi tetap hidup dan memberi warna dalam kehidupan masyarakat Desa Tengkulak Kelod. ***

Pelajar SMP dan SMA yang terjaring razia diberi sanksi dengan kerja bakti di Liponsos dan merawat ODGJ.
Pelajar SMP dan SMA yang terjaring razia diberi sanksi dengan kerja bakti di Liponsos dan merawat ODGJ.
Editor : I Putu Suyatra
#desa kemenuh #ritual #bali #unik #sakral #gianyar #hindu #makna #seram #ngedeblag #tradisi