Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Agung Kentel Gumi: Pusat Spiritualitas Hindu Bali dan Sejarah Pulau Dewata

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 6 September 2024 | 20:47 WIB
Pura Agung Kentel Gumi di Desa Tusan, Klungkung
Pura Agung Kentel Gumi di Desa Tusan, Klungkung

BALIEXPRESS.ID - Pura Agung Kentel Gumi di Desa Tusan, Kabupaten Klungkung, bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Hindu Bali; ia adalah simbol bersejarah dari penegakan kembali eksistensi Pulau Dewata.

Terletak di Kecamatan Banjarangkan, pura ini menjadi titik penting dalam perjalanan spiritual Hindu dan sejarah Bali, berhubungan erat dengan tokoh legendaris Mpu Kuturan.

Sejarah dan Makna Pura Agung Kentel Gumi

Pura ini dikenal sebagai tempat untuk menciptakan kedamaian di dunia.

Nama "Kentel Gumi" sendiri mengandung makna mendalam: "Kentel" berarti padat, dan "Gumi" berarti tanah atau dunia.

"Kentel Gumi" melambangkan penegakan kembali keberadaan Pulau Bali, sebuah warisan yang dimulai sejak masa Kerajaan Maya Denawa pada tahun 975 Masehi, menurut penjelasan Jro Mangku I Wayan Sudiartha, Pemangku Pura Agung Kentel Gumi.

Ritual dan Tradisi yang Memikat

Pujawali, ritual suci di Pura Agung Kentel Gumi, diselenggarakan setiap enam bulan sekali pada Umanis Galungan.

Sedangkan upacara ngusabha, dilakukan setahun sekali pada Purnama Kalima.

Sebelum pujawali, ada prosesi sakral yang melibatkan seluruh sasuhunan dari lima desa sekitar, yang kemudian dilaksanakan di Bale Agung dan piyasan Murdha Manik.

"Rangkaian prosesi dilanjutkan dengan tradisi melasti ke Pantai Lepang, yang dimulai pada pukul 12.30 Wita," ungkapnya.

Tradisi mamasar, sebagai persiapan akhir menjelang piodalan, dilaksanakan di perempatan Jalan Desa Tusan, menyiapkan segala keperluan upakara dengan teliti untuk memastikan kelancaran upacara.

Tradisi Mapada dan Simbolisme Dalam Upacara

Selama prosesi mapada, berbagai sarana upakara seperti babi, kambing, ayam, bebek, buah-buahan, dan sayur-sayuran digunakan.

Prosesi ini juga mencakup murwa daksina, yang dilakukan di area jaba pura dan mandala utama.

Penyelamatan babi dengan keris, meski hanya simbolis, menandakan kesiapan upakara untuk keesokan harinya.

Sudiartha juga menjelaskan bahwa sasuhunan dari Pura Agung Besakih dan Pura Pasar Agung melakukan simpang (mampir) di Pura Agung Kentel Gumi sesuai dengan jalur yang mereka lewati.

Pura ini, sebagai tempat sakral yang memayungi Sang Hyang Reka Bhuana Pancar Ring Jagat, juga mengalami pemugaran besar-besaran pada tahun 2008, yang termasuk pergeseran jalan raya untuk membangun wantilan dan area parkir.

Kehidupan dan Komunitas Sekitar

I Made Tisnu Wijaya, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa pemugaran pura pada tahun 2008 mengubah lanskap sekitar, dengan jalan raya yang dulunya melintasi area parkir dipindahkan ke sebelah barat.

Pura Agung Kentel Gumi tidak hanya sekadar situs keagamaan tetapi juga sebuah pusat dari tradisi, sejarah, dan spiritualitas Bali yang terus berkembang dan menjadi tempat penting bagi masyarakat setempat serta pengunjung dari berbagai penjuru dunia.***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #PURA KENTEL GUMI #hindu #sejarah