BALIEXPRESS.ID - Pura Pucak Payogan, salah satu tempat suci Hindu Bali yang terletak di Banjar Lungsiakan, Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, menyimpan pantangan unik yang harus diikuti oleh setiap pengunjungnya.
Selain pantangan untuk tidak membangun tembok permanen di sekitar pura, sarana upakara yang mengandung daging babi juga dilarang keras.
Lalu, apa yang terjadi jika pantangan ini dilanggar?
Tokoh Adat Lungsiakan, I Nyoman Jaya, pernah mengalami kejadian tak terduga.
Saat piodalan berlangsung, tiba-tiba hujan deras mengguyur tanpa henti.
Dalam wawancaranya dengan Bali Express, Jaya mengungkapkan bahwa penyebabnya adalah pelanggaran pantangan: seseorang menghaturkan banten berisi daging babi.
Ia menjelaskan bahwa larangan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun, terutama karena keberadaan palinggih Dukuh Sakti di madya mandala pura, yang menjadi pengabih dari Rsi Markandya.
"Setiap upakara di sini, baik piodalan nadi maupun alit, selalu menggunakan daging selain babi. Ini adalah bagian dari tradisi dan kepercayaan di Pura Pucak Payogan," ujar Nyoman Jaya, yang sudah tujuh tahun menjabat sebagai bendesa.
Hujan Deras Tanpa Henti, Apa Penyebabnya?
Menurut Jaya, saat piodalan terakhir berlangsung, hujan deras turun terus menerus tanpa tanda-tanda berhenti.
Setelah diselidiki, diketahui bahwa seorang pedagang sate babi di jaba pura diduga menghaturkan banten berisi daging babi.
Ini menyebabkan hujan tak kunjung reda hingga dilakukan upacara khusus untuk nunas ampura.
“Setelah upacara itu dilaksanakan, hujan akhirnya reda dan prosesi piodalan bisa dilanjutkan,” tambah Jaya.
Pura yang Dipenuhi Energi Spiritual Tinggi
Jero Mangku Nyana, salah satu pemangku di Pura Pucak Payogan, menjelaskan bahwa di pura ini, Rsi Markandya beryoga dengan Tri Baga, tiga lingga yang sakral.
Karena itu, tidak heran jika pura ini kerap didatangi oleh pemedek dari luar Gianyar, termasuk para sulinggih dan orang-orang yang ingin memohon doa sebelum memulai perjalanan spiritual mereka.
Bahkan, kisah menarik lainnya datang dari seorang paranormal yang sedang mencari Pura Payogan.
Setelah sempat tersesat di Campuhan, Ubud, ia akhirnya menemukan Pura Pucak Payogan yang dicarinya di Banjar Lungsiakan.
Paranormal tersebut mengaku merasakan energi kuat di pura ini dan berencana untuk nangkil lagi serta membantu ngayah di masa depan.
Fenomena misterius seperti hujan yang turun tanpa henti dan kisah pencarian pura yang penuh teka-teki menambah daya tarik spiritual dari Pura Pucak Payogan. ***
Editor : I Putu Suyatra