Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dibangun Tahun 830 Masehi, Pura Sadha Memiliki 64 Tugu yang Berkaitan dengan Gugurnya Raja Mengwi saat Perang Melawan Sukawati: Begini Sejarahnya

IGA Kusuma Yoni • Minggu, 8 September 2024 | 23:20 WIB
TUGU: Pura Sada memiliki 64 tugu di Utama Mandala, sebagai peringatan atas gugurnya Raja Mengwi beserta pasukannya saat melawan Negari dan Sukawati.
TUGU: Pura Sada memiliki 64 tugu di Utama Mandala, sebagai peringatan atas gugurnya Raja Mengwi beserta pasukannya saat melawan Negari dan Sukawati.

BALIEXPRESS.ID- Pura Sada yang terletak di Jalan Soka, Banjar Pemebetan Desa Kapal Kecamatan mengwi Kabupaten Badung ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Bali.

Menurut sejarah, pura yang didirikan pada tahun 830 Masehi ini, ternyata pernah dipugar secara besar-besaran karena mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat tahun 1917 di Bali.

Akibat gempa, hampir seluruh bangunan pura mengalami kerusakan dan tinggal dasarnya saja. Sehingga pada tahun 1949, Pura Sada dibangun kembali.

Dikutif website Kementerian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan tahun 2016, disebutkan, Pura Sada terdiri dari tiga bagian, yaitu halaman luar (nista mandala), halaman  tengah (madya mandala) dan halaman utama (jeroan).

Yang cukup unik dari Pura ini adalah, di bagian Utama Mandala Pura terdapat 61 tugu Bala Satya dan tiga buah tugu Mekel Satya, sehingga total jumlahnya sebanyak 64 buah tugu yang terbuat dari batu bata.

Adapun sejarah dari 64 tugu Satya tersebut tidak terlepas dari terbentuknya Pura Sada.

Dikisahkan, sekitar abad ke-17 Masehi terjadi peperangan antara Kerajaan Mengwi dengan  Negari dan Sukawati.

Peperangan itu membuat putra raja Mengwi bernama I Gusti Agung Ratu Panji gugur yang kemudian distanakan di Pura Sada Kapal.

Selain diabadikan dalam bentuk bangunan pelinggih Ratu Panji Sakti, pengikutnya diabadikan dalam bentuk bangunan Mesatya berjumlah 61 buah serta 3 orang pemimpinnya dalam bentuk Mekel Mesatya.

Terlepas dari versi di atas, Pura Purusada Kapal memiliki tinggalan arkeologi yang cukup banyak.

Salah satunya adalah Prasada (1 buah) yang memiliki tinggi sekitar 17,20 meter yang terbuat dari bahan bata.

Adapun fungsi Pelinggih Prasada itu sebagai tempat pemujaan sekaligus sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci (pratima).

Selain prasada terdapat juga Arca Perwujudan tokoh-tokoh pewayangan, Arca Binatang, Arca Pewayangan, Candi Bentar, dan tentunya Tugu Bala Satya dan Mekel Satya.

Piodalan di Pura Sada dilaksanakan pada hari Tumpek Kuningan (Sabtu Kliwon wuku Kuningan) atau tepat pada hari Raya Kuningan setiap enam bulan sekali.

Editor : Nyoman Suarna
#raja mengwi #negari #pura sadha #sejarah #sukawati #Tugu #perang