BALIEXPRESS.ID - Pitolo sutra merupakan nama kain buatan India. Pada zaman dulu kain ini hanya dipakai oleh para raja.
Keberadaan kain ini tertuang dalam sebuah nyanyian yang mengungkap cerita rakyat Bali berjudul Gede Basur.
Dalam cerita Gede Basur yang ditulis dalam bentuk pupuh (nyanyian) dikisahkan perjalanan dukun penganut ilmu leak bernama Gede Basur hendak meminang seorang gadis bernama Ni Sukasti.
Gadis ini hendak dijodohkan dengan putra Gede Basur bernama I Tigaron.
Namun pinangan tersebut ditolak Ni Sukasti karena ia telah jatuh hati terhadap seorang pemuda bernama Nyoman Tirta.
Buntut dari penolakan itu membuat I Gede Basur marah. Dengan ilmu leak yang dikuasainya, ia hendak menyakiti Ni Sukasti.
Dengan Aji Wegignya, Gede Basur berhasil menyakiti Ni Sukasti.
Dalam kisah inilah disebutkan bahwa Gede Basur menggunakan kain Pitolo Sutra sebagai selendang agar bisa terbang.
Dalam keadaan sakit, Ni Sukasti juga berpesan, kelak jika kematian menjemputnya, agar dikafani dengan kain Pitolo Sutra.
Melihat kisah Gede Basur yang berlatar belakang kehidupan masyarakat Bali Kuna, keberadaan kain ini diperkirakan berasal dari zaman kerajaan di Bali.
Menurut salah seorang penekun benda antik, Wayan Andi Santika, kain ini bukan berasal dari Bali seperti halnya kain gringsing yang berasal dari Desa Tenganan, atau tenunan Desa Sembiran, Buleleng, dan kain endek.
Pitolo sutra merupakan kain yang berasal dari luar Bali. Dari bahan dan motifnya, terang Adi, kain ini diimport dari India.
Kain berbahan sutra ini memiliki motif tersendiri sebagai ciri khas buatan India.
Rajutan atau tenunan kain buatan India yang dibuat pada zaman itu, umumnya berisi gambar gajah dan penunggangnya. Ada juga gambar singa sebagai raja hutan.
Sebab, menurut keyakinan India pada masa kain itu dibuat, gajah merupakan binatang yang dihormati dan disegani karena kuat dan besar.
Dalam beberapa cerita yang lahir di India seperti Mahabharata, gajah merupakan salah satu kendaraan atau transportasi untuk berperang yang dipakai para raja dan panglima perang.
Pun kini, dalam beberapa film produksi Bollywood, gajah masih menjadi hewan kebanggaan India.
Penyebaran kain Pitolo Sutra tidak hanya sampai di Bali, tetapi juga di seluruh nusantara yang pada masa itu merupakan kain termahal karena hanya dimiliki oleh raja-raja.
Buktinya, beberapa kain yang dikoleksi gallery antik tempat Adi bekerja, didapat dari luar Bali.
Selembar kain pitolo sutra dengan panjang dua meter dibelinya seharga Rp 150 juta, sedangkan yang panjang enam meter, seharga Rp 300 juta.
Panjang kain, jelas Adi, ditentukan dari jumlah gambar gajah yang ada. Namun panjang kain piolo sutra umumnya enam meter karena sama seperti kain sari yang diproduksi oleh India pada zaman ini.
Kain ini digunakan untuk kamben sekaligus selendang yang dililitkan di bahu. Keunikan yang lain, kain sepanjang enam meter bisa menjadi satu genggam tangan.
Kain pitolo sutra memiliki kualifikasi berdasarkan kelas, olahan benang dan rajutannya.
Ada kain yang halus dan licin, tetapi ada juga berbentuk kasar seperti kain gringsing dari Desa Tenganan.
Editor : Nyoman Suarna